Eksistensi Hantu dalam Kultur Masyarakat Banjar yang Islami

0

HANTU meski dianggap berkelindan soal mitos atau ilmiah, khayalan atau nyata, namun dari kajian antropologi justru menjadi bagian dari kepercayaan atau kebudayaan nusantara. Termasuk, etnis Banjar yang bermukim di wilayah Kalimantan Selatan.

BUDAYAWAN Banjar, Humaidy Ibnu Sami mengungkapkan berdasar kajian dari guru besar IAIN (UIN) Antasari, Prof Alfani Daud justru masalah hantu itu menjadi salah satu kepercayaan dalam akidah Islam yang disebut beriman kepada hal-hal gaib.

Menurut Humaidy, dari kajian Alfani Daud justru perkara gaib dalam sistem kepercayaan dari kebudayaanBanjar terbagi dalam tiga kelompok. Yakni, pertama disebut sebagai arwah yang kebanyakan merupakan jelmaan dari manusia yang bagaib (moksa), pertapaan yang tak sempurna atau menyeleweng dan mauntal minyak mistis (minyak bintang, minyak gajah, minyak kuyang, rangka hirang dan lainnya) untuk jalan ke kiri atau menjadi golongan hitam.

“Kedua, memang dari sananya sebagai makhluk gaib yang disebut sebagai muwakkal dan khadam. Ketiga, makhluk di luar dari keduanya, bukan arwah bukan pula muwakkal, seperti semacam peliharaan gaib yang bisa diperalat dan dipergunakan seseorang,” kata dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari ini kepada jejakrekam.com, Sabtu (6/3/2021).

BACA : Menggali Ilmu Taguh dalam Tradisi Masyarakat Banjar

Ia mengakui justru faktanya kategori ini tergolong rumit dan tak jelas, sebab definisinya menjadi suka dipahami. Sebab, menurut Humaidy, dalam masyarakat Banjar semuanya bisa disebut hantu, setidaknya dalam setiap bagian. “Beda dengan cara berpikir Barat dalam mengkategori makhluk gaib,” papar Humaidy.

Peneliti sejarah Islam ini juga mengutip pernyataan Husnul Athiya, seorang penulis lulusan UIN Antasari mengungkapkan dunia Barat mengkategorikan makhluk gaib menjadi tiga pula. Pertama, Hantu yang merupakan arwah penasaran yang bergentayangan seperti mati terbunuh. Kedua, monster yang merupakan roh yang merasuk binatang-binatang tertentu hingga menjadi sangat ganas dan menakutkan, menyeramkan dan mengerikan. Ketiga, ruh yakni semacam makhluk gaib yang mandiri, tidak tergantung jasad manusia dan binatang, apalagi terikat kepada keduanya.

Nah, menurut Humaidy, dalam kultur masyarakat Banjar ada beberapa nama hantu yang melekat dari gendernya seperti Hantu Kuyang (perempuan), Hantu Sandah (perempuan), Hantu Beranak (perempuan), Sundal Bolong (perempuan), Setan Gundul (laki-laki), Hantu Banyu (laki-laki), Hantu Api, Hantu Suluh, Atakau, Agaman, Mariaban, Hantu Pidara, Hantu Pulasit, Hantu Karugkup, Buhaya Kuning, Buhaya Putih, Naga, Macan, Tambun dan lain-lain.

BACA JUGA : Hanya Ditutup Batu Split, ‘Lubang Hantu’ Lingkar Selatan Terus Picu Korban Berjatuhan

“Nah, dari kajian atau pendekatan linguis-antrologis, Husnul Athiya mengungkapkan ketika melihat hantu dalam masyarakat Banjar, dimulai dengan data bahasa berupa nama-nama hantu. Sesudah itu, baru dilanjutkan dengan penelusuran bagaimana masyarakat menarasikannya dari waktu ke waktu,” ungkap Humaidy.

Budayawan Banjar dan dosen UIN Antasari Banjarmasin, Humaidy ‘Ibnu Sam’

Dari sini, kata dia, bisa dirasakan bagaimana masyarakat Banjar merekonstruksikannya sebagai suatu konsep kepercayaan dari masyarakat Banjar yang terkenal religius dan budaya mistik yang kuat. “Sebagai misal, bahwa hantu dalam masyarakat Banjar kebanyakkan berjenis kelamin perempuan. Ini bisa jadi cerminan masyarakat Banjar masih sangat kental dalam belenggu budaya patkhiarki sangat kuat,” ungkap magister pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Menurut Humaidy, posisi  perempuan dalam perspektif gender masih belum setara, kaum perempuan masih ditindas kaum laki-laki. Munculnya hantu-hantu perempuan, mungkin sebagai counter wacana tandingan atas penindasan kaum laki-laki terhadap kaum perempuan.

“Bisa pula sebaliknya sebagai gambaran peneguhan penindasan kaum laki-laki atas kaum perempuan karena terus dicitrakan sebagai sumber kesalahan dan dosa. Inilah mengapa dari kajian antropologi, soal hantu dalam kultur masyarakat Banjar bisa digali lebih mendalam,” kata Humaidy.

BACA JUGA : Tahun Depan Kawasan Sekumpul Dipercantik Dilengkapi Museum Peradaban Islam Banjar

Masih menurut dia, ada pula tafsir lain soal eksistensi hantu di masyarakat Banjar, seperti Hantu Beranak adalah hantu perempuan ibu-ibu yang mempunyai anak perempuan juga.

“Menurut kepercayaan masyarakat Banjar, ia suka muncul di senja hari di Batang Mandi, bermain-main dengan anaknya. Saat ada anak manusia apalagi masih kanak-kanak ikut mandi, maka mereka akan marah dan mengganggu anak itu bahkan sampai menculiknya untuk disembunyikan,” ungkap Humaidy.

Ia mengenang dulu sering sekali, terjadi anak yang keluar di waktu senja diculik Hantu Beranak, untuk menemukannya masyarakat Banjar memperbuat upacara Bagandang Nyiru. Biasanya dengan upacara tersebut anak yang diculik akan ditemukan dalam keadaan berlendir karena sudah dijilati Hantu Beranak.

BACA JUGA : Riset Tiga Tahun, Humaidy Siap Luncurkan Biografi 150 Ulama Berpengaruh di Tanah Banjar

“Kepercayaan terhadap Hantu Beranak ini, bisa jadi hanya memperteguh anjuran agama dan anjuran adat istiadat yang melarang keluar rumah di kala senja,” kata peneliti senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin.

Menurut Humaidy, dalam ajaran Islam, dalam sebuah hadits menganjurkan agar umat Islam di waktu senja jangan keluar rumah, kecuali untuk ibadah (shalat berjamaah ke masjid atau langgar).

“Sebab pada saat senja setan dan iblis berkeliaran untuk mencari mangsa. Kemudian, pada adat-istiadat orangtua melarang anaknya keluar rumah di waktu senja khawatir tasimbaya terkena black magic yang memang sengaja dilepas, dikeluarkan dan dihamburkan oleh si empunya, Magician Hitam untuk dibiarkan liar mencari mangsa,” paparnya.(jejakrekam)

Pencarian populer:Hantu banjar
Penulis Rahim/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.