Konsep Jadul Kanalisasi hingga Green Development atasi Banjir (1)

0

Oleh : Akbar Rahman

BENCANA banjir di Kalsel sudah menjadi bencana tahunan, kabupaten kota saling bergantian. Awal tahun 2021, berbeda. Banjir besar menghampiri serempak di 11 kabupaten kota, tombol darurat bencana pun ditekan. Kerusakan dan kerugian ditengarai hingga Rp 1,3 triliun oleh BPPT, satu minggu setelah banjir besar.

LEBIH sebulan berlalu, kerusakan dan kerugian ini semakin terasa dan bertambah. Rusaknya infrastruktur hingga langkanya gas elpiji, menyesakkan ekonomi rakyat. Putusnya jalur transportasi menghambat jalur distribusi kebutuhan pokok. Bencana banjir besar telah memicu kesulitan masyarakat di tengah wabah virus corono yang belum berujung.

Banjir akibat curah hujan tinggi konon disebabkan tumpahan 2 milyar kubik air dari langit. BMKG mencatat, di minggu ke-2 Januari intensitas curah hujan hingga 174 mm per hari, atau 3 kali lebih tinggi sekitar 50 mm per hari dengan status hujan lebat. Cuaca ekstrem ini disebabkan oleh anomali La Nina, akibat suhu permukaan laut Samudra Pasifik disekitar ekuator bagian tengah dan timur mendingin -0.5 hingga -1.5 derajat Celcius selama tiga bulan berturut-turut diikuti oleh penguatan angin pasat.

Durasi dan luasnya cakupan hujan di Kalimantan Selatan saat itu menyebabkan debit air meningkat tajam dan daya tampung sungai tidak mampu menahan sehingga air meluap ke permukiman.

BACA : 10 Kanal Warisan Kolonial di Banjarmasin Tinggal Menunggu Ajal

Meskipun banjir disebabkan oleh cuaca ekstrem, namun aktornya tidak tunggal. Kerusakan alam di daerah pegunungan Meratus juga menjadi pemeran kunci. Terbukanya lahan di area pegunungan menyebabkan tanah longsor dan kemampuan menahan air menjadi rendah, apalagi intensitas curah hujan hingga 174 mm per hari bahkan sempat tercatat hingga lebih 200 mm. Kerusakan parah akibat air bah terlihat di Hulu Sungai Tengah, Kecamatan Hantakan dan Batu Benawa. Air bah membawa hanyut ratusan rumah warga.

Menurut catatan sejarah dan cerita rakyat, banjir besar pernah melanda Barabai 80 tahun silam, di era  kolonial Belanda. Sementara di daerah kabupaten dan kota lainnya tidak terdata, kesaksian warga, banjir besar ini merupakan pertama kalinya. Namun, jejak kanalisasi yang dibuat oleh Belanda memberikan sedikit informasi, bagaimana Belanda telah merencanakan kawasan gambut dengan konsep penataan aliran air atau distribusi air dalam pengembangan kawasan untuk pertanian dan permukiman.

Saat itu, Belanda telah giat membangun kanal, menurut Bambang Subiyakto (2005) masyarakat Banjar sedikitnya mengenal tiga macam kanal secara hirarki berturut-turut Anjir (Antasan), Handil (Tatah) dan Saka. Ke-3 kanal ini saling terhubung dan memiliki fungsi masing-masing, dan pada prinsipnya merupakan aliran sungai buatan untuk menampung air, selain kebutuhan pertanian dan transportasi warga. Jejak kanal ini banyak ditemukan di wilayah Banjarmasin dan Barito Kuala.

BACA JUGA : Jejak Sejarah Era Kolonial, Ihwal Banjarmasin Menjadi Kota Kanal (1)

Jika dilihat dari topografinya, kedua wilayah ini merupakan dataran rendah disisi barat Pegunungan Meratus, dimana sungai-sungai yang berhulu di Meratus mengalirkan airnya ke wilayah tersebut.

Jejak sejarah dan ditemukannya kanal-kanal di daerah dataran rendah (tanah rawa dan gambut) menandakan, 100 tahun lalu, Belanda sudah merencanakan kawasan gambut untuk bebas dan mengantisipasi banjir. Jika 1 abad yang lalu Belanda sudah membaca adanya gejala alam di bumi Antasari, maka ini menjadi justifikasi.

Mengapa banjir besar dengan kerusakannya menghampiri saat ini? Pasca kolonial, euforia kemerdekaan sepertinya lupa dan meninggalkan konsep penataan kawasan oleh Belanda yaitu konsep pengembangan wilayah berbasis kanal. Kanal-kanal semakin mengalami penyempitan dan pendangkalan dan tidak adanya perawatan. Sedimentasi dan desakan aktivitas masyarakat menyebabkan banyak kanal yang ‘hilang’. Akibatnya air meluap dan genangan menjadi hal biasa dan langganan.

I’tibar dari fenomena banjir di Hantakan adalah akibat pertemuan 2 aliran sungai yang berhulu di Datar Ajab dan Papagaran, penyebab meningkatnya debit dan kecepatan air. Luapan air hingga ke pasar Hantakan akibat luapan Sungai Batu Benawa dan fenomena air menerjang permukiman di Desa Baru. Fenomena terjangan air di permukiman Desa Baru (Wake) menunjukkan adanya aliran alami air mencari jalur terpendek atau antasan.

BACA JUGA : Jati Diri yang Telah Terlupakan, Banjarmasin Sebenarnya Kota Seribu Kanal

Berdasar dua fenomena di atas, konsep jadul perencanaan kanal Belanda terbukti efektif, bahwa untuk mengurangi kecepatan aliran air, maka diperlukan pembagian aliran air agar tidak menumpuk di satu titik (fenomena di Hantakan) dengan membuat kanal-kanal. Dan, aliran air selalu mecari jalur terpendek sehingga Anjir (Antasan) diperlukan untuk mengalirkan volume air yang tinggi (fenomena di Wake).

Tingginya debit air dari Hulu membaut genangan (banjir) di dataran rendah lebih lama. Rendaman banjir selama 3 hari di wilayah Kota Barabai sempat melumpuhkan segala aktivitas warga. Setelah air turun dari gunung, aliran air terhambat di wilayah kota, penyebabnya antara lain buruknya sistem drainase kota, tingginya permukaan jalan berkibat aliran air terhalang ditambah kurangnya gorong-gorong. Jalan lingkar luar di Barabai menjadi barier air, sehingga membendung air perkotaan.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Dosen Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Doktor Lulusan Saga University Jepang

Arsitek di Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Kalimantan Selatan

(Isi dari artikel ini sepenuhnya tanggungjawab penulis bukan tanggung jawab media)

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.