Pilu, Pengungsi Korban Banjir Sakit Komplikasi Sempat Terlantar

0 56

PEMANDANGAN pilu hadir mewarnai suasana pengungsian korban terdampak banjir Kalsel. Kondisi itu terlihat di areal Terminal Tipe B Kilometer 6 Dishub Kalsel, Jalan Pramuka Banjarmasin, Kamis (21/1/2021).

SEORANG
wanita paruh baya bernama Ida terbaring lemas di atas tempat tidur. Wanita berusia 49 tahun itu merupakan satu dari ratusan korban banjir yang harus mengungsi.

Saat itu, tak ada satu orang pun berada di dekat Ida. Baik dari pihak keluarga, maupun petugas yang ada di sana. Mirisnya, Ida tengah mengidap penyakit komplikasi; asam urat, jantung, stroke dan tumor perut.

BACA : Ganggu Aliran Sungai, Lantai Toko Di Bawah Fly Over Banjarmasin Dijebol

Ketika berbincang dengan jejakrekam.com, wanita yang mengaku merupakan warga Banjarmasin itu mengatakan hanya seorang diri di pengungsian. Tanpa satu pun keluarga.

“Saya di sini (tempat pengungsian) sendirian. Sudah seharian semalaman. Keluarga ada di Kalua (Hulu Sungai Utara),” katanya, dengan nada lesu.

Ida mengaku sempat menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Banjarmasin. Namun, ia harus dipulangkan di rumah sakit itu tanpa tahu alasannya. Sebelum Ida bergabung dengan para pengungsi di terminal Pal 6.

Wanita kelahiran tahun 1972 itu pun mengaku sempat diberikan penanganan medis selama berada di pengungsian. “Disini diobati oleh petugas pos kesehatan. Sempat dikasih pakai infus aja. Tapi sekarang sudah dilepas,” ucapnya.

BACA JUGA : Terkait Bencana Banjir Di Kalsel, Ini Yang Akan Dilakukan BSW Kalimantan III

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Banjarmasin, Bandiyah Marifah, tak menampik bahwa Ida hanya tinggal seorang diri di tempat pengungsian.

Ia juga mengatakan, Ida tidak mengantongi identitas apapun sehingga pihaknya sulit untuk merujuk ke rumah sakit terdekat.

“Karena ini menyangkut beberapa pihak seperti Dinsos, jadi mungkin saya tidak bisa memberikan komentar dulu,” ujarnya.

Ia juga mengakui bahwa Ida sempat dirujuk dan mendapat perawatan di rumah sakit. Namun, Bandiyah belum berani bicara banyak soal alasan mengapa Ida dipulangkan, dan dikembalikan ke lokasi pengungsian.

“Saya tidak bisa berkomentar apa alasannya jadi dikeluarkan dari rumah sakit. Karena ini berkaitan dengan beberapa instansi lain juga,” katanya.

Namun tak lama berselang setelah awak media mulai menyorot kondisi yang ada, Ida akhirnya kembali dievakuasi ke RSUD dr H M Ansari Saleh Banjarmasin untuk mendapat perawatan secara intensif.

“Kasian juga disini terlantar. Jadi kita rujukan lagi ke RSUD Ansari saleh,” tuntas Bandiyah.

Pantauan di lapangan, sebelum dievakuasi, saat itu Ida memang benar-benar seolah hanya sendirian, tanpa keluarga.

Bahkan, ia yang ketika itu sedang sakit justru berada di ruang terbuka. Tempat yang menjadi lalu lalang para pengungsi lainnya. Tepatnya berada persis di sebelah posko kesehatan.

Ironisnya, saat itu tak ada pendampingan dari petugas kesehatan setempat. Padahal, jarak antara posko kesehatan darurat Dinkes Banjarmasin dengan Ida hanya selempar batu.(jejakrekam)

Penulis Riki
Editor Fahriza

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.