Vaksinasi Covid-19 Mulai Digeber, Simak Saran dari Tim Pakar Covid-19 ULM

0 63

PEMERINTAH secara resmi mulai melakukan vaksinasi. Pada hari Rabu (13/01/2021) kemarin, Presiden Joko Widodo menjadi orang yang pertama yang menerima vaksin Sinovac.

KENDATI begitu, anggota Tim Pakar Covid-19 ULM Nasrullah berpendapat masyarakat patut tetap waspada akan virus Covid-19 karena belum semua orang disuntik vaksin.

“Dengan demikian, menggunakan logika sederhana saja berarti masih banyak orang yang sangat mungkin terinfeksi Covid-19. Bahkan ketika Presiden Jokowi disuntik vaksin, saat bersamaan terkonfirmasi bertambah 11.278 kasus, meski sembuh juga tinggi yakni bertambah 7.657 pasien, sedangkan meninggal dunia bertambah 360 orang,” ujar Nasrullah dalam rilis tertulis yang diterima jejakrekam.com, Kamis (14/1/2021).

Dia menyebut data tambahan kasus harian selayaknya menjadi peringatan keras, agar  tidak menjadi lengah dan tetap waspada, maka upaya untuk mendukung ikhtiar medis berupa vaksinasi, tetap diperlukan.

“Pertama, secara struktural melalui kebijakan pemerintah untuk melakukan PPKM (Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) diharapkan mampu menekan angka peningkatan pandemi. Jika perlu di suatu daerah yang kenaikan pandemi tidak terkontrol, maka upaya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) patut diberlakukan kembali,” ucap magister lulusan UGM ini.

Kedua lanjutnya, upaya struktural perlu diikuti upaya institusional. Pada institusi pendidikan dari sekolah dasar hingga pendidikan tinggi untuk tidak membuka perkuliahan tatap muka adalah pilihan logis di tengah pandemi.

“Belum lagi sebagian besar orang mendapatkan program vaksinasi Covid-19. Pimpinan perguruan tinggi perlu menahan diri untuk tetap melakukan kegiatan on-line sementara waktu,” ujar Nasrullah.

Terlebih lagi bagi perguruan tinggi yang mahasiswa berasal dari berbagai daerah propinsi tetangga hingga yang berasal dari seberang pulau.

Dia menyebut di tingkat pemerintah daerah baik kabupaten dan kota yang memiliki wewenang dalam wilayahnya, tetap menerapkan pembatasan kegiatan masyarakat, pusat perdagangan hingga kegiatan keagamaan bahkan perkawinan.

“Setidaknya meminimalisir durasi kegiatan sosial, ekonomi, keagamaan dan memecah konsentrasi kerumunan massa,” ujar tokoh masyarakat Batola ini.

Baginya upaya kultural berupa tetap mematuhi protokol kesehatan terutama 3M (Mencuci tangan, Masker, dan Menjaga jarak)  mesti menjadi kebiasaan melampaui disiplin yang berasal dari pengawasan aparat negara. Sehingga kontrol sosial berada pada posisi puncak yang sangat efektif di masyarakat.

“Oleh karena itu, kita tetap harus waspada hingga vaksinasi terus berlangsung secara massif serta angka terinfeksi Covid-19 dan kematian penderita bisa ditekan seminimal mungkin,” sambung Nasrullah.

“Sedangkan angka kesembuhan terus meningkat hingga tidak ada yang sakit. Kita harus tetap waspada karena Covid-19 masih ada dan terus menelan korban jiwa,” tandasnya. (jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Donny

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.