Film Pendek Seroja, Tulah Tungku, dan Huma Amas Raih Penghargaan Mandau AFK 2020

0 171

FESTIVAL Aruh Film Kalimantan (AFK) 2020 resmi ditutup lewat acara Malam Penganugerahan atau awarding night yang berlangsung di Kampung Buku Banjarmasin, Selasa (29/12/2020) malam.

DIGELAR dengan konsep menyalakan lilin secara bersama-sama, malam penganugerahan AFK 2020 dihadiri beragam undangan seperti sineas lokal hingga sponsor. Agenda utamanya penyerahan penghargaan kepada pemenang kompetisi Mandau Perak dan Mandau Emas.

Untuk kompetisi Mandau Perak, film Seroja terpilih sebagai pemenangnya. Karya besutan Team Creative Multimedia (TMC) Balangan SMKN 1 Batumandi ini menceritakan tentang seorang Rustam si perjaka tua yang merindukan kehangatan keluarga di tengah idul fitri.

Sutradara Seroja, Andi Ristianto, mengatakan film ini diisi dengan dialog antara Rustam dan kedua adiknya melalui sambungan telpon saat hari raya Idul Fitri.

Kata remaja siswa SMK 1 Batu Mandi ini, film terinspirasi dari puisi Febtika Reysne. Kemudian pihaknya membentuk tim dan mendiskusikannya ke tahap garapan film pendek.

“Dari produser saya, kata dia setelah membaca buku puisi Febtika Resyne itu langsung terbayang dan terinspirasi untuk menuliskan cerita dari film Seroja ini.”

Aktor yang dipilih, kata Andi, seorang seniman asal Balangan yang merupakan salah satu anggota Sanggar Kariwaya bernama Rifani Hamzah. Garapan ditahun 2020, film Seroja ini sempat diikutkan (submission) ke Genflik Film Festival yang lolos ke seleksi tahap 1.

“Alhamdulillah, kita mensubmit ke Aruh Film Kalimantan (AFK) dan hari ini, kita diumumkan memenangkan Mandau Perak di tahun ini,” ungkap Andi.

Dari catatan juri bahwa film Seroja ini, menurutnya masih memiliki kekurangan dan banyak belajar. Ia berharap film yang dimenangkannya ini dapat berlayar terus di kancah perfilman di Indonesia dan bertemu dengan penikmatnya di luar sana.

“Seperti dikatakan juri, film ini masih belum sempurna dan memiliki banyak kekurangan lainnya. Pastinya, film Seroja ini dapat berlayar di kancar perfilman lainnya dan bertemu dengan penontonnya lagi, serta membawa perfilm di Balangan semakin meningkat,” ucap pria kelahiran 2003 itu.

Untuk penghargaan Mandau Emas, film Tulah Tungku asal Kalbar berhasil mendapatkan penghargaannya. Karya besutan Vera Isnaini tersebut bercerita tentang seorang anak yang diajari oleh Ibunya sebuah mantra adat untuk menangkal tamu yang berkunjung ke rumah saat pandemi.

Direktur AFK 2020, Munir Shadikin merasa karya-karya yang masuk dalam pagelaran Aruh Film Kalimantan di tahun ini mengalami peningkatan kualitas dari sebelumnya.

“Terus dan terus meningkat aja kualitasnya, Itu artinya, bukti bahwa pandemi tidak mengurangi kualitas mereka,” ucap Munir seusai Malam Penganugerahan AFK 2020.

Ditengah pandemi Covid-19, kata Munir, mereka tetap produktif dan kualitanya tidak menurun, baik diprogram kompetisi maupun non-kompetisi.

Munir menambahkan, dalam Malam Penganugerahan AFK 2020 kali ini juga ada penghargaan spesial untuk film Huma Amas asal Samarinda, Kalimantan Timur.

Penghargaan yang diberi nama Mandau Merah ini diberikan untuk film yang menciptakan standar baru perfilman di Tanah Kalimantan. “Baik dari segi estetika dan lain-lain. Sehingga kita merasa perlu memberikan penghargaan ini” kata Munir. (jejakrekam)

Penulis Rahim
Editor Donny

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.