Wajib Rapid Test Antigen, Praktisi Kesehatan : Bebani Masyarakat, Pemerintah Bisa Menggratiskan

0

SYARAT bagi yang ingin melakukan perjalanan ke luar kota, khususnya menumpang pesawat udara diwajibkan melampirkan hasil rapid tes antigen guna mendeteksi eksistensi virus Corona (Covid-19).

ATURAN ini mulai diberlakukan pemerintah terhitung sejak 18 Desember hingga 8 Januari 2021. Jika sebelumnya, para pelaku perjalanan cukup membawa hasil negativ rapid tes antibodi. Namun, kini diubah menjadi rapid tes antigen.

Pemerintah pun menetapkan harga tertinggi untuk uji cepat antigen ini sebesar Rp 275 ribu. Untuk diketahui, antigen merupakan molekul yang mampu merangsang respon daya tahan tubuh. Molekul ini dapat berupa protein, polisakarida, asam nukleat, dan lipid. Tiap antigen memiliki fitur permukaan berbeda yang dikenali sistem imun.

Sementara, virus Corona sendiri atau SARS CoV 2 memiliki sejumlah antigen yang terdiri dari protein nukleokapsid. Nah, rapid test antigen akan mendeteksi ada tidaknya protein tersebut.

BACA : Ini Mekanisme dan Biaya Rapid Test Antigen di Bandara Syamsudin Noor

Untuk di Banjarmasin, Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjarmasin pun merilis rumah sakit dan klinik yang melayani rapid test antigen. Dikutip dari IG Dinkes Banjarmasin, ada 10 fasilitas kesehatan yang bisa direkomendasikan berdasar surat keterangan dari Kepala Dinkes Banjarmasin bernomor 449/1/17286-YanSDK/Dinkes tertanggal 22 Desember 2020, yang diteken Machli Riyadi yakni RS Bhayangkara, Klinik Jelita, Klinik Citra Sehat Utama, Klinik Abdi Persada, Klinik An-Nur, Klinik Kinibalu, Klinik Tirta Medika Center, Klinik Panasea, Klinik Alesha dan UPT PMI Banjarmasin.

Lantas mengapa rapid test antibodi yang awalnya menggunakan sampel darah untuk menguji reaktif atau tidaknya adanya virus Corona di dalam tubuh seseorang tak dipakai lagi? Dokter spesialis penyakit dalam RSDI Banjarbaru, dr H Abdul Halim Sp.PD mengakui rapid test antibodi tidak lagi digunakan, karena keakuratannya diragukan.

“Sedangkan, rapid test antigen untuk akurasi atau validitas hasilnya bisa mencapai 80-90 persen. Jika sebelumnya dikenal reaktif atau non reaktif, namun untuk hasil rapid test antigen bisa positif dan negatif. Sebab, sampel yang diperiksa adalah lendir yang ada di hidung dan tenggorokan. Namanya, uji cepat, maka hasilnya bisa diketahui satu jam lebih, berbeda dengan uji swab (PC-RT) yang membutuhkan tahapan panjang, sehingga beberapa hari baru bisa diketahui hasilnya,” papar dr Abdul Halim kepada jejakrekam.com, Rabu (23/12/2020).

BACA JUGA : Dibuka untuk Umum, UDD PMI Banjarmasin Layani Rapid Test 24 Jam

Dokter yang juga seorang advokat ini pemberlakuan rapid test antigen bagi pelaku perjalananan, khususnya pengguna jasa penerbangan cukup memberatkan. Walau pemerintah menetapkan harga tertinggi mencapai Rp 275 ribu, namun faktanya bahan dan peralatan yang disediakan klinik melebihi patokan harga itu.

“Ya, harga pemeriksaan pun jika dihitung bisa mencapai Rp 300 hingga Rp 350 ribu. Ini bukan mencari untung di tengah pandemi, tapi itu adalah fakta. Karena bahannya kebanyakan impor dari Tiongkok,” tutur Halim.

Pemilik Klinik Halim Medika Banjarbaru ini mengakui pasca-pilkada serta dibukanya pusat keramaian seperti pusat perbelanjaan, cafe dan lainnya membuat grafik kasus Covid-19 meningkat tajam.

“Inilah semua akibat kebijakan dari pemerintah, sehingga berdampak pada tingginya angka kasus Covid-19. Makanya, upaya pencegahan dilakukan dengan rapid test antigen. Sedangkan, upaya penanganan ya harus dirawat di rumah sakit atau fasilitas kesehatan bagi yang positif Covid-19 yang memiliki gejala,” kata Halim.

BACA JUGA : Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor Sediakan Layanan Rapid Test

Ia mengingatkan sebenarnya di tengah wabah Covid-19, sejatinya rapid test antigen itu digratiskan, termasuk vaksinasi yang akan diberlakukan pemerintah pada tahun depan.

“Namun, bagaimana itu bisa diberlakukan, sementara fasilitas kesehatan seperti klinik dan rumah sakit juga membeli bahan untuk uji cepat antigen. Makanya, kemudian ada biaya yang dibebankan kepada masyarakat,” ucapnya.

Ketua Bidang Advokasi Medikolegal PAPDI Cabang Kalsel mengungkapkan berdasar ketentuan hasil rapid tet antigen itu hanya berlaku selama tiga hari hingga 14 hari, usai diperiksa di fasilitas kesehatan.

“Ke depan, kami berharap pemerintah juga memikirkan kondisi masyarakat yang tengah di pandemi mengalami kesulitan ekonomi, bisa diringankan untuk bisa mendapat rapid test antigen ini. Apalagi, saat ini, frekuensi perjalanan masyarakat cukup tinggi di tengah kelonggaran atau masa adaptasi kebiasaan baru ini,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.