Dermaga Banjar Raya-Saka Kajang Kini Lebih Nyaman, Warga Tamban Minta Jalan Dilebarkan

0

BEBERAPA tahun belakangan, warga Tamban, Kabupaten Barito Kuala (Batola) dan Banjarmasin bisa menikmati dermaga feri penyeberangan yang lebih bagus, dibandingkan titian ulin yang sudah bertahan puluhan tahun.

DERMAGA Banjar Raya di Jalan Barito Hulu, Pelambuan, Banjarmasin Barat yang kini diambilalih pengelolaan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Banjarmasin melayani penyeberangan ke Dermaga Saka Kajang dikelola Dishub Kabupaten Batola, menghubungkan daerah yang terpisah luasnya Sungai Barito.

Cukup hanya membayar retribusi Rp 1.000, para pengendara motor bisa menaikki kapal penyeberangan bermesin mobil truk itu dengan ongkos Rp 7 ribu. Kondisi pelabuhan yang jauh lebih nyaman dan aman, dibandingkan dengan titian kayu ulin dan galam baik di Pelabuhan Banjar Raya maupun Pelabuhan Saka Kajang, Tamban.

Beberapa warga Tamban pun mengaku bersyukur karena beberapa tahun ini sudah bisa menikmati pelabuhan penyeberangan yang bagus. Sedikitnya, ada empat kapal penyeberangan yang melayani pengangkutan motor dan orang, dikelola warga Tamban dan Banjarmasin.

BACA : Jangkau Kebutuhan BBM Masyarakat Desa, Kini Pertashop Sapa Kabupaten Banjar dan Batola

“Ya, biasanya saya setiap satu minggu sekali ke Banjarmasin untuk beli barang di Pasar Lima untuk dijual lagi di Tamban,” ucap Husni, seorang pedagang kecil-kecilan saat menaiki kapal motor penyeberangan berbincang dengan jejakrekam.com, Sabtu (6/12/2020).

Husni mengakui kondisi ruas Jalan Tamban cukup baik, meski tidak terlalu lebar. Hanya selebar 2 meter, namun jauh lebih bagus dibandingkan jalan setapak dan di bahu kiri dan kanan tumbuh rerumputan liar.

“Ya, jauh lebih bagus dibanding dulu. Tapi sayangnya kurang lebar, sehingga hanya bisa dua motor berpapasan, tidak bisa dilewati mobil pikap,” kata Husni.

Lain lagi dengan Yuni. Warga Tamban Km 3 ini mengaku jauh lebih dekat berurusan lewat pelabuhan penyeberangan, dibandingkan harus mengeliling jalan menuju ke Marabahan, ibukota Kabupaten Batola.

“Wah, jauh banget jaraknya dan waktu tempuhnya pun lama. Dibandingkan dengan menumpang kapal penyeberangan, bedanya bisa satu hingga dua jam lamanya,” kata Yuni.

BACA JUGA : Tak Diperhatikan, Kapal Ferry Dianggap Banyak yang Belum Layak

Hanya saja, Yuni mengeluhkan juga karena akses jalan Tamban tidak terlalu baik dibandingkan daerah lain di Batola. Jalan yang dibangun dengan dana desa itu memang dicor beton, hanya saja kurang lebar sehingga tak bisa dilintasi roda empat.

“Bandingkan dengan kondisi jalan sekitar Marabahan atau dekat ibukota Batola, jauh lebih bagus. Memang, Tamban ini tergolong jauh dari Batola, tapi sangat dekat dengan Banjarmasin,” kata Yuni.

BACA JUGA : Warga Terpaksa Harus Memutar, Ferry Penyeberangan Tamban-Banjar Raya Ditutup Sementara

Ia pun tak memungkiri, jika ada pikiran warga Tamban dan sekitarnya, bisa memilih untuk bergabung ke Kota Banjarmasin, dibandingkan ke Batola.

“Sama saja, kalau dulu misalkan bergabung ke Kabupaten Banjar, jarak dari Tamban ke Martapura juga jauh, sama saja ke Marabahan. Tapi, kami lebih dekat dengan Banjarmasin,” ucap Yuni.

Menurut dia, jika masuk wilayah Banjarmasin, mungkin pembangunan jauh lebih pesat dibandingkan dengan Batola. Ini karena, luas wilayah kabupaten ini serta minimnya anggaran pemerintah daerah.

Padahal, menurut Yuni lagi, Tamban merupakan salah daerah penghasil baik pertanian maupun industri yang masih berdiri. Apalagi, intensitas pergerakan warga Tamban ke Banjarmasin jauh lebih tinggi dibandingkan ke Marabahan atau wilayah Batola lainnya.

“Inilah mengapa warga Tamban lebih senang berurusan ke Banjarmasin dibanding ke Marabahan. Apalagi, warga Tamban juga banyak bekerja di Banjarmasin,” kata Yuni.

Senada itu, Julak, warga Tamban Kecil mengakui jalan selebar 2 meter itu dibangun dari dana desa. Namun, sayangnya, Julak mengaku jalan itu tidak bisa dilebarkan, padahal jika mobil atau roda empat masuk ke wilayahnya, maka kemajuan secara ekonomi akan sangat terasa. Ironisnya lagi, jembatan ulin pun tak dipasang pagar di samping kanan dan kiri, rawan kecelakaan.

“Barang-barang yang dibawa dari Banjarmasin bisa lebih banyak masuk ke Tamban. Jelas, roda perekonomian bergerak, dibanding jalan yang hanya bisa dilintasi sepeda motor, tentu terbatas jumlah angkutannya,” kata Julak.(jejakrekam)

Pencarian populer:https://jejakrekam com/2020/12/07/dermaga-banjar-raya-saka-kajang-kini-lebih-nyaman-warga-tamban-minta-jalan-dilebarkan/,dermaga banjar raya,jalan dr banjarmasin ke tamban,waktu tempuh penyeberangan banjar raya-sakakajang
Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.