Terinspirasi Tulisan Tangan Datu Kalampayan, Percetakan Mushaf Quran Al Banjary pun Digodok MUI Kalsel

0 146

TERINSPIRASI karya fenomenal dan masyhur, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary, kini mushaf Alquran Al Banjary pun tengah digodok Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Selatan.

WARISAN berharga bagi generasi penerus karya ulama besar Tanah Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary yang juga dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan ini tersimpan apik di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru.

Mushaf Alquran yang ditulis tangan Mufti Kesultanan Banjar ini terdiri dari tiga jilid. Masing-masing jilid berisi  10 juz, selain itu juga dilengkapi catatan tepi yang berisi penjelasan tertentu. Yang tersimpan di Museum Lambung Mangkurat merupakan mushaf jilid pertama yang berisi dari juz 1 hingga juz 10. Sedangkan, dua jilid lainnya berada di Yayasan Dalam Pagar Martapura.

BACA : Alquran dan Tradisi Lisan Masyarakat Banjar

Peneliti sejarah Islam dan budayawan Nahdlatul Ulama (NU) Humaidy Ibnu Sami pun mengapresiasi rencana penulisan mushaf Alquran Al Banjary yang akan dilakukan MUI Kalsel.

Terlebih lagi, menurut dia, kegiatan dari penulisan (khat) hingga penerbitan kitab suci ini juga melibatkan banyak pihak. Seperti, ahli penulisan (khat) Alquran, ahli kaligrafi, ahli desain, ahli sejarah dan budayawan.

“Tentu saja, kontribusi yang diharapkan dari para ahli ini adalahh mengkaji kembali bagaimana kehidupan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary, termasuk Kitab Sabilal Muhtadin,” ucap Humaidy kepada jejakrekam.com, Senin (30/11/2020).

BACA JUGA : Barajah dan Bawafak, Kesaktian Kertas Kusam Bersimbol Ayat Alquran

Menurut dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari ini, karya besar Datu Kalampayan tersebut merupakan sumber yang bisa diadaptasi dalam memenuhi ciri kebanjaran dalam desain hiasan Alquran.

Sebelumnya, MUI Kalsel menggelar seminar penulisan mushaf Alquran Al Banjary pada Selasa (10/11/2020) di Ruang MUI Kalsel, Komplek Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin, dengan menghadirkan berbagai pihak terkait sebagai peserta serta narasumber nasional dan lokal.

Sementara itu, Sekretaris MUI Provinsi Kalsel Nasrullah AR mengakui rencana penulisan dan pencetakan mushaf Alquran Al Banjary juga terinspirasi dengan hal serupa, ketika ada mushaf Alquran Al Bantani (Banten).

“Tentu, mushaf Alquran Al Banjary berbeda ilumnisasi, artefak dan manuskripnya. Bisa saja nanti ada corak sasirangan yang menjadi ciri khas Banua. Soal isi atau tulisan tentu tetap mengadopsi yang ada, karena ini kitab suci tentu perlu kehati-hatian tinggi,” ucap Nasrullah.

BACA JUGA : Belajar dari Datu Kalampayan dan Datu Sanggul

Menurut dia, MUI Kalsel bersama Pemprov Kalsel pun melibatkan banyak pihak dari kalangan para ahli dan sejarawan dan budayawan untuk menggolkan penulisan dan pencetakan mushaf Alquran Al Banjary.

“Kami targetkan memang bisa ditulis dan dicetak dalam waktu dekat. Paling tidak pada tahun depan, insya Allah bisa terwujud,” ucap mantan anggota DPRD Kalsel asal FPPP ini.

Ia mengakui saat ini, bahasa Banjar sudah menjadi salah satu bahasa terjemahan Alquran secara nasional. Namun, himpunan atau mushaf Alquran yang ada sentuhan budaya Banjar atau Al Banjary seperti yang telah ditorehkan Datu Kalampayan, menjadi sebuah keharusan.

BACA JUGA : Gelar Al Banjary dan Budaya Lokal dalam Ijtihad Syekh Muhammad Arsyad

“Bagaimana pun mushaf Alquran Al Banjary ini mewakili Kalimantan. Sebelum membentuk tim dari para ahli, kami sudah menggelar diskusi, seminar dan hingga tercetus revitalisasi Alquran Al Banjary,” ucap Wakil Ketua PWNU Kalsel ini.

Menurut Nasrullah, dalam tim ini juga terdiri dari ahli tafsir Alquran berskala nasional dan internasional, hingga melibatkan para seniman dari ISI Yogyakarta serta dari perguruan tinggi di Kalsel, seperti Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan UIN Antasari.

BACA JUGA : Jejak Syekh Muhammad Arsyad di Tanah Betawi

“Yang pasti, ada proses panjang, karena perlu ketelitian yang matang dalam membuat dan mencetak mushaf Alquran Al Banjary. Makanya, MUI bersama Pemprov Kalsel melibatkan banyak pihak, agar begitu sudah clear dan tidak boleh salah, maka mushaf Alquran Al Banjary bisa dicetak yang menunjukkan keindahan dan kearifan lokal Banjar,” tutur Nasrullah.(jejakrekam)

Penulis Ipik Gandamana
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.