Eksis di Tengah Modernitas, Cerita Hadi Lamiran Geluti Hiburan Rakyat Topeng Monyet

0

PRIA sepuh asal Madiun, Hadi Lamiran melakoni profesinya sebagai pawang topeng monyet keliling selama 31 tahun. Di usia senjanya, Hadi masih semangat menghibur anak-anak dengan beberapa atraksi monyet yang dimainkannya dengan tabuhan gendang nyaring.

SEDERET atraksi topeng monyet yang dimainkan Hadi. Di antaranya atraksi ke pasar menggunakan payung sambil menenteng tas mini, selain itu juga memangkul ikan-ikan dari hasil tangkapannya.

Usai bekerja, si monyet yang sering diplesetkan sebagai ‘Sarimin’ ini dipersilahkan duduk layaknya seorang bos. Sejurus kemudian Hadi pun melemparkan kembali sebuah motor mini yang langsung dikemudikan si monyet tersebut.

Tak sampai satu menit, monyet yang memiliki julukan Macaca Fascicularis itu kembali memainkan atraksi menghiburnya lewat topeng reog. Lewat aksi gemasnya itu, menyedot perhatian anak-anak di sekitaran Jl Bengkirai, Komplek Banjar Indah Permai, Banjarmasin.

BACA : Mulai Ditinggalkan Banyak Pengrajin, Cerita Kopiah Jangang yang Tersisa di Margasari

Tak terkecuali Fariz, bocah asal Alalak Tengah ini terhibur adanya aksi topeng monyet yang kini hampir dilupakan masyarakat sekarang. Beberapa anak menyaksikan secara jauh dan ada yang mendekat di depan pagar markas kantor jejakrekam.com tersebut.

“Usia saya 68 tahun, dan menggeluti profesi topeng monyet ini hampir 31 tahun. Melakukan ini sudah lama, bahkan saya di Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan kini menetap di sini, rumah saya di Pekauman,” ucap Hadi Lamiran kepada jejakrekam.com, pada Rabu (26/11/2020) sore.

Sementara, tarif sewa dari atraksi topeng monyet ini dihargai Rp 30 Ribu per 10-15 menit setiap aksi menghiburnya. “Lama waktunya tergantung, kita mainkan sesuai aksinya. Paling lama, sekali tampil (main) 10-15 menit saja,” ujarnya.

Agar monyetnya yang sedikit galak, Hadi mengaku sejak kecil sudah dididik dengan sedikit keras agar bisa meniru polah manusia. Ya, seperti bercermin, naik motor, berpayung, hingga atraksi salto dengan kontrol seutas rantai besi yang terpasang di leher sang monyet.

BACA JUGA : Semarak 10 Muharram, Bubur Asyura pun Menjadi Menu Tahunan yang Dinanti

Meski sebagian kalangan menilai aksi Hadi ini tergolong menyiksa binatang, toh dirinya menepis anggapan itu. Bagi Hadi, dirinya tetap memperhatikan kesehatan dan gizi monyet kesayangannya yang menjadi andalan mengais rezeki.

Hadi pun mengaku juga sering terjaring razia petugas Satpol PP. Hanya saja, Hadi menegaskan dirinya tidak menyiksa binatang, karena menyuguhkan hiburan bagi anak-anak meski harus dibayar lembar rupiah.

BACA JUGA : Melawan Arus Game Online, KPTB Pendamai Hidupkan Permainan Kampung

“Soal kondisi monyet saya, sudah mengerti. Kapan dia haus dan lapar. Monyet ini bukan dari sini, tapi dari Jawa. Soalnya, tradisi topeng monyet ini banyak dikerjakan di Jawa, jarang ada di Kalimantan,” tutur Hadi.

Di akhir persembahan, Hadi mengeluarkan hewan jenis ular sawa yang dikalungkannya di atas bahu dan selayaknya seperti pawang, ia tampak piawai memainkan hewan tergolong liar itu.(jejakrekam)

Penulis Rahim
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.