17 Tahun Aruh Sastra Kalimantan Selatan, Pelestarian Budaya Lisan Berbahasa Banjar

0 134

ARUH Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) XVII Tabalong digelar secara virtual di Pendopo Bersinar, Tanjung. Rangkaian ASKS ke-17 ini, para pegiat sastra berbincang lewat seminar sastra daring, gelar sastra 13 Kabupaten/Kota dan rapat pleno secara terbatas.

SEBAGAI tanda resminya pembukaan kegiatan ASKS Tabalong 2020, adanya penyerahan simbolis dua terbitan buku antologi puisi bersama yang berjudul “Riuh Imaji” dan buku antologi pemenang lomba puisi dan cerita rakyat yang berjudul “Meanyam Aksara Meangkat Budaya”.

“Aruh Sastra Kalimantan Selatan ke-17 di Tabalong pada tahun 2020 ini, karya sastra sangat memberikan kemajuan serta dalam menghadapi segala krisis, tak terkecuali pandemi Covid-19,” ucap Masdulhak Abdi kepada jejakrekam.com, Kamis (19/11/2020).

Menurut Ketua Pelaksana ASKS Tabalong ini, kegiatan yang rutin digelar secara berkesinambungan tersebut agar ASKS terus berperan dalam pelbagai persoalan yang terjadi di masyarakat Kalimantan Selatan.

BACA : Sekelumit Riwayat Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS)

“ASKS ini menjadikan integritas dalam meningkatkan perkembangan di Kalimantan Selatan. Tahun ini, memiliki makna penting untuk membangun masyarakat yang lebih berbudaya, memperhalus budi serta memperluas rasa kemanusiaan dalam kebijakannya untuk menghadapi persoalan,” ungkap Abdi.

Walaupun terlaksana secara daring, Abdi berpandangan agar bertujuan untuk menjaga kualitas karya sastra setiap tahunnya. Hal ini upaya menunjang kesejahteraan daerah, kata dia, kegiatan ASKS ini adalah upaya dalam gerakan serta pelestarian seni yang patut dijaga oleh generasi selanjutnya.

Sementara, ada 10 penampilan gelar sastra dari daerah Tabalong, Tanah Laut, Balangam, Kotabaru, Banjar, HSS, HSU, HST, Banjarmasin dan Banjarbaru. Mewakili Dewan Sastra, Ali Syamsudin Arsi merasa bersyukur bahwa ASKS tetap digelar dalam kondisi daring dan menjalankan amanat sidang pleno sebelumnya di Tanah Bumbu.

BACA JUGA : Ketika Sastrawan dan Budayawan Banjar Galau akan Langkanya Hayati Banua

“Saya lihat semangat untuk tetap melaksanakan Aruh Sastra Kalimantan Selatan ke-17 ini, sesuai amanat sebelumnya dirapat pleno. Semangat seperti ini tetap dilanjutkan di ASKS selanjutnya di Balangan,” ujar pendiri Kindai Seni Kreatif.

Kata Ali Arsi, terbukti penyelenggaraan ASKS selama 17 tahun ini cukup dikenal di Nasional. Terutama yang menjadi narasumber yaitu presiden penyair Indonesia yakni Sutardji Coulzum Bachri, Maman S Mahayana, D Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor, Sosiawan Leak, Chavcay Syaifullah dan sebagainya.

“Otomatis cerita ASKS ini bakal dibawa mereka ke rekan-rekan pegiat sastra dan terbukti selama 17 tahun digelar secara kontinue, sejak 2004 di Kandangan. Serta penggagas utama yakni Burhanuddin Soebly dan disambut oleh Abdul Karim di Tanah Bumbu, maka langkahnya ini agar terus didorong,” ujarnya.

Ali Arsi berharap, setiap tahunnya tetap digelar secara khidmat dan antusiasme para pegiat sastra di Kabupaten/Kota. Adapun saran, ia berpandangan bahwa seyogyanya nuansa aruh agar kesannya dapat dihidupkan lewat berbahasa Banjar.

BACA JUGA : Rekam Profil Sastrawan Lokal Periode 1930-2020, Micky Hidayat Rilis Buku Leksikon Penyair Kalsel

“Kegiatan ASKS ini terlaksana secara khidmat dan saya pantau, setiap kabupaten/kota selalu antusias mengikuti acara secara virtual. Di Pendopo sendiri, ada sepuh sastra Tabalong yakni Akhmad Tajuddin Bacco. Dan mudah-mudahan di ASKS selanjutnya, ada satu sesi didalamnya mata acara yaitu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Banjar,” ucap sastrawan asal Banjarbaru ini.

Bagi Ali Arsi, ihwal lancar atau tidaknya berbahasa Banjar itu dikesampingkan, namun ada upaya yang harus dilestarikan, “Di mana dalam sesi itu, menggunakan bahasa Banjar. Jadi penekanannya, bisa atau tidak, lancar atau tidak. Bukan masalah, itu hanya adaptasi serta membiasakan saja dan kelak, menjadi nyaman berbahasa Banjar,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Rahim
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.