Bawaslu Oke

Terbilang Langka, Pedagang Es Balok Bertahan di Tengah Gempuran Es Kristal

0 91

KEHADIRAN pabrik es batu kristal di Banjarmasin serta industri rumahan yang menghasilkan es batu, ternyata tak menggerus keberadaan para pedagang es balok. Peminat es yang pernah berjaya pada era tahun 1970-an dan 1980-an, masih ada.

ES balok yang biasanya berukuran besar setengah meter atau 1 meter ini, biasanya dijual untuk keperluan pendinginan atau pengawetan ikan. Tak heran, kebanyakan para pembeli ini adalah kalangan nelayan, terutama di pelabuhan perikanan.

Meski banyak yang mengkhawatirkan kehigienisannya, toh masih banyak pemilik rumah makan dan warung yang mendatangkan es balok untuk menunya, seperti es teh.

Misran, misalkan, pedagang es balok ini mengaku sudah lama menggeluti usaha penjualan media pendingin ini dengan gerobaknya. Warga Sungai Baru ini pun kesehariannya berjualan es balok di kawasan Pasar Baru Indah (Pasar Kujajing), Jalan Pasar Baru, Banjarmasin.

BACA : Cuaca Ekstrem, Pasokan Ikan di Banjar Raya Berkurang

“Sudah lebih 30 tahun, saya berjualan es balok. Sampai sekarang masih banyak peminatnya, walau pun kini ada pabrik es kristal yang menyuplai sejumlah rumah makan atau warung,” kata Misran kepada jejakrekam.com, Senin (16/11/2020).

Ia mengakui saat ini, pembuatan es balok terbilang langka di Banjarmasin. Ini karena, turunnya permintaan pembeli, sehingga banyak pabrik es balok yang gulung tikar.

“Waktu belum ada kulkas atau lemari pendingin seperti sekarang, maka dulu pilihan utama untuk pendingin minuman atau pengawet ikan adalah es balok,” kata Misran.

Ia pun mengaku membeli es balok ini dari pabrik yang berada di kawasan Pekapuran Raya atau bisa mengambil di kawasan Pelambuan, tepatnya di Pelabuhan Ikan Banjar Raya.

“Memang, kebanyakan pabrik ini hanya mendrop es balok untuk keperluan para nelayan atau pelelang ikan. Makanya, produksinya terbatas. Namun, ternyata warung-warung yang ada di kawasan Pasar Baru ini, banyak pula memilih membeli es balok,” kata Misran.

BACA JUGA : Wah, Ada Mesin Ice Flax di Pelabuhan Ikan Banjar Raya

Menurut dia, para pembeli es balok kebanyakan adalah pedagang es campur atau es serut. Dengan minimnya permintaan, Misran pun mengaku dirinya dan dua rekannya yang masih bertahan berjualan es balok di kawasan pasar tersebut.

“Kalau tidak salah, hanya ada tiga pedagang es balok yang masih bertahan. Ada satu berjualan di kawasan Pasar Harum Manis, sisanya di Pasar Ujung Murung. Itu pun, mereka hanya melayani untuk para pemilik rumah makan atau warung di pasar,” kata Misran.

Saat musim panas, diakui Misran merupakan waktu yang menguntungkan dirinya. Makanya, Misran pun memilih jemput bola dengan mengantar pesanan es balok kepada para pelanggannya. Begitu ada pesanan, Misran pun dengan tongkat kecilnya memukul balok es untuk dibuat dalam bentuk ukuran kecil. Harga dibandrol pun tergolong murah, hanya berkisar Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per potong atau tergantung permintaan pembeli.

“Kalau cuacanya panas, maka sehari bisa laku 10 balok es. Tapi, kalau turun hujan, maka turun pula permintaan, paling banter hanya laku lima balok es,” kata Misran.

Salah satu pemilik warung kopi di Pasar Sudimampir, Hanifah mengaku menjadi pelanggan tetap Misran. Dirinya lebih memilih membeli es balok ketimbang es kristal atau es batu ulahan rumah tangga, karena lebih murah.

“Untuk bisa awet lama, ya disimpan dalam kotak yang diberi jerami padi. Memang, daya tahan es balok ini lebih lama dibandingkan es batu yang biasanya dibeli dari rumahan,” kata Hanifah.(jejakrekam)

Penulis Sirajuddin
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.