Cerita Anak Kandung Tokoh Pejuang Laskar BPRIK Amin Effendy yang Terlupakan di Peristiwa 9 November 1945

0 169

MENGENANG sosok pejuang H Muhammad Amin Effendy, seorang panglima laskar Barisan Pemberontakan Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK) yang nyaris terlupakan. Padahal, sehari sebelum peristiwa heroik di Surabaya, 10 November 1945, pertempuran 9 November 1945 telah mendahuluinya di Banjarmasin.

MELAWAN lupa agar sejarah itu selalu dikenang dan diambil semangat perjuangannya, DPP Sentral Informasi Rakyat Kalimantan (SIRRKAL) pun menggelar dialog dan haul jamak 9 November 1945, kisah heroik pejuang Banjar melawan kolonial Belanda, kelanjutan dari Perang Banjar di RM Liwar Padas, Banjarmasin, Senin (9/11/2020).

Lantas siapa sosok pejuang yang nyaris terlupakan ini tergabung dalam pergerakan Divisi IV ALRI ketika pecah peristiwa 9 November 1945 di Jalan Jawa (kini Jalan DI Panjaitan), depan Tangsi Polisi Belanda (kini Mapolda Kalsel) di Banjarmasin.

“Mengapa tidak menjadi pahlawan nasional? BPRIK dan sosok ayah saya, H Muhammad Amin Effendy sejak awal dalam perjuangan selalu dikhianati. Hingga meninggalnya beliau, juga dikhianati. Namun, pejuang tidak gugur karena pengkhianatan,” ucap Alimun Hakim kepada jejakrekam.com, Senin (9/11/2020).

BACA : Sempat Ditawarkan ke Prabowo, Bekas Markas Pejuang BPRIK Dilego

Putra tokoh BPRIK M Amin Effendy, Alimun Hakim bercerita tentang berkas dokumen usulan pahlawan nasional pernah yang dibawanya ke Jakarta, guna menemui Presiden Soeharto dan pejabat teras di masa itu. Kala itu, mengharuskan dirinya pulang kembali ke tanah lahirnya, Banjarmasin.

“Nah, akhirnya kenapa cerita itu disuruhnya harus pulang ke Banjarmasin. Padahal, ongkos harga tiket saat itu lebih dari Rp 2 juta. Langsung disuruh bawa pulang, nggak dibolehkan pihak keluarga. Walau saya adalah putra ayah ayah (Amin Effendy), tapi saudara saya justru tak setuju atas pengusulan jadi pahlawan nasional, silahkan bawa kembali berkasnya,” ujarnya.

Sampai di Banjarmasin, Alimun merapatkan barisan bersama rekannya dalam memusyawarahkan ihwal dokumen yang ditolak tersebut.

“Karena beliau (Amin Effendy) tidak ingin terpecah belah, cerita lama ditutup saja dan nanti bersama guru saya, bapak Ahmad Asmawi (dosen sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat). Bikin buku ayah, yaitu autobiografi tentang perjuangannya,” ucap mantan Ketua PGRI Kota Banjarmasin ini.

BACA JUGA : 9 November 1945, Medan Laga Pasukan Berani Mati BPRIK Amin Effendy

Terkait biografi pejuang Amin Effendy, kata putra dari panglima laskar BPRIK ini mengingatkan bahwa keluarga ayahnya turut berjuang dalam medan laga tersebut.

“Perlu digarisbawahi bahwa orang tua saya (Amin Effendy) memiliki 9 bersaudara, 5 laki-laki dan 4 perempuan. Semuanya, turut bergerak dan berjuang dalam medan perang tersebut,” ungkapnya.

Kata Alimun, ayahnya meninggal dunia sejak 2007 lalu, hingga dimakamkan di Landasan Ulin, Taman Pahlawan Bumi Kencana Banjarbaru, semua atas kebaikan dari pihak Kodam VI/Mulawarwan dan Korem 101/Antasari.

BACA JUGA : Prihatin, Tokoh Legiun Veteran Banjarmasin Berpesan Perangi Covid-19 dan Narkoba

Namun, Alimun mengenang banyak justru yang jadi korban dari rentetan peristiwa hingga meledaknya aksi angkat senjata pada Jumat, 9 November 1945 itu.

“Sosok tante dan om saya itu bujang hingga meninggal dunia, karena tak bisa mengingat lagi dirinya. Karena tak waras, pengaruh dari medan perjuangan itu. Gangguan hati dan pikirannya, terganggu,” kenang Alimun.

Kesembilan saudara ayahnya, kata Alimun, juga korban dari kekejaman penjajahan Belanda, dilanjutkan tentara NICA-KNIL saat itu.

“Terakhir, ketika penangkapan ayah saya di Martapura dan kemudian, dijebloskan di penjara (Pos Besar Belanda, kini Kantor Pos Jalan Lambung Mangkurat). Dan mengkhianati justru keluarga sendiri dari kelompok polisi Belanda,” bebernya.

BACA JUGA : Mengenang Peristiwa 9 November, Para Zuriat Pejuang Gelar Haul Jamak

Pengkhianatan terhadap ayahnya itu, diakui Alimun, terjadi ketika informasi tersebar oleh musuh yang dapat melacak keberadaan pasukan BPRIK. Kemudian memencar dari Martapura ke Marabahan hingga di provinsi tetangga yaitu Kalteng, Kaltim, Kalbar dan Kaltara.

“Beliau (Amin Effendy) menginisiasi gerakan yang tersebar di tanah Borneo ini. Cerita sejarahnya, pada tahun 1950 itu, begitu sudah merdeka dan telah dibebaskan, ini dikisahkan langsung oleh beliau bahwa dirinya sempat diketawain,” cerita Alimun.

Diketawain karena apa? Kala itu pasukan BPRIK menerima tawaran rumah serta jabatan, kata Alimun, ayahnya menolak itu sebelum mendapat imbalan dari negara atas kiprahnya dalam mempertahankan kemerdekaan RI.

“Dulu, para pejuang kita ditawari rumah-rumah dan jabatan sebagai tentara. Ya, sebelum Panglima ALRI Divisi IV Kalimantan, Letkol Brigjen Hassan Basry, Letnan Asli Zuchri dan Letnan Muda M Mursid,” ungkap Alimun.

BACA JUGA : Ahli Waris Pejuang Minta Tugu 9 November 1945 Ditinggikan

Alasan Amin Effendy menolak tawaran itu, ditegaskan Alimun karena ayahnya merasa cukup menikmati kemerdekaan serta generasi anak dan cucunya. Hingga, Amin Effendy memilih kembali ke tengah masyarakat, sebab warga biasa bukan tentara aktif yang menyandang pangkat dan jabatan.

“Sewaktu di masyarakat, ternyata sosok ayah juga seorang pelukis, ada lukisannya di Monas Jakarta. Lukisan tentang peristiwa 9 November itu dilukis sendiri, tapi saya sekarang telah hilang, entah ke mana saya tidah melihat lagi,” katanya.

Diakui Alimun, lukisan itu tak dicat minyak, tapi hanya cak air di atas kain, bukan kanvas layaknya para pelukis profesional. Hanya saja, Alimun mengatakan cerita dari lukisan itu benar-benar menggambarkan peristiwa heroik yang mengakibatkan gugurnya 9 kesuma bangsa serta puluhan bahkan ratusan warga di Banua Anyar-Pengambangan, usai mendapat serangan balik dari pasukan KNIL-Belanda.

BACA JUGA : Menghidupkan Museum Borneo Demi Keabadian Sejarah

Kini, ada dua pesan dari panglima laskar BPRIK. Alimun mengatakan pertama adalah menjaga silahturahmi kepada anak-anak dari para pejuang di Kalimantan. Kedua, menyisihkan uang untuk selalu memperingati haul jamak di setiap tahunnya, pada 9 November guna mendoakan para penjuang yang gugur syahid.

“Saya pun, teringat dulu ayah rutin melaksanakan haul jamak terhadap pejuang yaitu temannya yang mendahului. Memberikan doa kepada syuhada kita,” ungkap salah satu pendiri Kompas Borneo Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini.

Dalam dialog, Alimun mengutarakan kekecewaannya terhadap pemerintah setempat yang kurang memperhatikan sejarah peristiwa 9 November 1945 tersebut.

“Cuma saya agak kecewa, beberapa ya katakanlah seperti instansi pemerintah dan lainnya, seolah menutup mata atas peristiwa ini,” tandasnya.(jejakrekam)

Penulis Rahim
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.