Sumpah Pemuda dan Sumpah Serapah: Antara Harapan dan Kenyataan

0 177

Oleh: Muhammad Uhaib As’ad

TERIAKAN hiruk-pikuk nasionalisme anak-anak muda 92 tahun silam telah menorehkan sejarah emas bagi perjalanan bangsa ini. Kepalan tinju yang membahana sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan yang menginjak-injak marwah dan martabat anak bangsa terasa menyakitkan.

SEMANGAT dan idealisme anak-anak muda 92 tahun silam itu sebagai cerita sukses (success story’) yang tidak terlupakan.Cerita sukses (success) sebagai beyond imagination, sebagai kerinduan yang tidak terbendung.

Kerinduan mendalam menggumpal itu melintas dalam imaginasi kolektif anak-muda yang berwajah lusuh-kusut dengan dibalut kemarahan-caci dan anti penindasan. Beyond imagination dan ideologi kemarahan itu menjadi dasar perjuangan dan menerkam siapa siapa saja menginjak-injak harga diri sebagai manusia bermatabat.

Tidak ada kata lelah. Tidak ada kata  putus asa, yang ada hanya tetesan air mata yang menetes di Bumi Pertiwi tempat ari-ari terkubur. Anak-anak muda lugu sederhana itu tidak sesederhana idealisme dan heroisme melawan penjajah. Penjajah itu harus dilawan. Hanya satu kata, lawan !!!. Musuh kolektif adalah penjajahan yang telah merobek-robek harga diri, Bumi Pertiwi yang terinjak-injak dengan kezaliman.

BACA : Pilkada di Tengah Pusaran Oligarki Lokal

Dalam buku Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread on Natonalism adalah buku karya Benedict Anderson.   Karya Anderson terbit pertama kali pada 1983 itu bercerita mengenai gerakan nasionalisme. Yaitu gerakan nasionalisme memperjuangkan kesadaran nasional untuk melepaskan diri dari belenggu dan eksploitasi penjajah.

Bagi Anderson, bangsa bukanlah merupakan sesuatu yang real tetapi hanya sesuatu yang terbayang. Tidak berarti Anderson tidak bersimpatik terhadap sintimen nasionalisme. Anderson membedakan dirinya dengan Gellner yang menggambarkan nasionalisme sebagai suatu fenomena yang dibuat-buat atau sesuatu yang palsu.  Nasionalisme dan bangsa (nation) memiliki nilai sebab adanya individu-individu yang menganggap dirinya suatu komunitas. Dalam buku itu, terlihat bagaimana Anderson menikmati dan mengagumi geliat sejarah masing-masing bangsa untuk menjadi suatu bangsa (nation).

BACA JUGA : Demokratisasi Pilkada dalam Cengkeraman Oligarki Lokal

Perlu kita ketahui adalah Prof Benedict Anderson ilmuwan sosial pertama menulis sejarah Indonesia modern serta memiliki hubungan emosional mendalam tentang Indonesia dan memiliki kedekatan dengan Presiden Sukarno.

Karya monumental Anderson itu, dikalangan dunia akademik dianggap memiliki otoritas tinggi bercerita mengenai revolusi dan nasionalisme suatu bangsa, termasuk Indonesia.

Selain karya Anderson, karya Parakitri T Simbolon berjudul Indonesia Menjadi diterbitkan oleh Gramedia tahun 2007 itu, juga salah satu buku menarik yang mengungkap perjalanan panjang bangsa ini bisa menjadi Indonesia, Parakitri menyebut Indonesia Menjadi.

Buku setebal 846 itu secara gamblang bercerita mengenai keterlibatan peran kesejarahan pemuda dalam revolusi dan nasionalisme melawan penjajah. Anderson dan Simbolon keduanya menjelaskan bahwa kehadiran pemuda dalam proses pergerakan bangsa (nation) selalu dalam posisi terdepan dalam realitas perjuangan melawan kolonialisme.

Heroisme-nasionalisme anak-anak muda 92 tahun silam menjadi sejarah emas yang tidak terlupakan. Heroisme-nasionalisme pemuda 92 tahun silam itu adalah kolonialisme sebagai musuh bersama yang telah membelenggu  dan membiarkan dalam dalam kebodohan dan ketertindasan secara ekonomi dan sosial. Dimarjinalkan di tanah kelahirannya.

BACA JUGA : Hegemoni Negara, Kekerasan Politik dan Dilema Demokrasi

Sumber daya alam dirampok oleh  kolonial dan diangkut ke negerinya. Rakyat dibiarkan dalam kebodohan. Rakyat yang bersikap kritis ditindas dengan cara-cara kekerasan dan biadab. Rakyat terkooptasi dan menjadi alas kaki  kolonial atas nama kekuasaan.

Ya, pemuda adalah pilar sejarah. Pemuda adalah anak kandung sejarah,  lahir dari rahim perjuangan yang terukir dalam sejarah dikenal Sumpah Pemuda. Bersumpah, bersyahadat (suatu kesaksian suci) bahwa tanah air ini adalah tanah tempat ari-ari ditanam.

Tanah air ini bukan tanah air yang dikapling-kapling oleh penjajah. Tanah air ini bukan tanah air warisan nenek moyang para penjajah. Oleh karena itu,   segala bentuk penindasan harus hilang dari negeri ini.

Sumpah pemuda adalah ikrar suci bentuk kesaksian bahwa segala bentuk kedzaliman dan eksploitasi harus hilang di negeri.

Perjalanan panjang sejarah bangsa ini telah memberikan pelajaran bahwa segala bentukan penindasan pasti menghadapi resistensi rakyat. Cepat atau lambat rakyat tidak akan diam. Setelah berabad-abad rakyat dalam ketertindasan suatu saat secara akumulasi kemarahan pasti muncul, demikian halnya peristiwa 28 Oktober 1928 lalu sebagai refleksi proklamasi kemarahan anak-anak muda pada zamannya. Satu Bangsa, Satu Bahasa, dan Satu Tanah Air.

Sumpah Serapah

Peristiwa 28 0ktober 1928 lalu adalah ikrar pemuda atau syahadat suci sebagai ekspresi perlawanan terhadap penjajahan. Yang dilawan adalah penjajahan bukan melawan bangsa sendiri. Penjajahan adalah musuh bersama. Lalu, apa makna Sumpah Pemuda 92 tahun silam itu dalam konteks saat suatu rentang sejarah panjang? Konteks sejarah dan setting sosio-ekonomi dan politik telah berubah.

Lalu, bagaimana peran kesejarahan pemuda saat ini. Selanjutnya, siapa musuh kaum muda (milenial) saat? Masih ada sejumlah pertanyaan elementer yang perlu dialamatkan kepada pemuda saat ini, generasi sejarah yang hidup di era 4.0 atau revolusi industri informasi (digital).

BACA JUGA : Pilkada, Tanah Bumbu, dan Birahi Kekuasaan

Indonesia saat ini telah memasuki peradaban modern, peradaban demokrasi dan struktur pemerintahan modern. Sebagai bangsa yang memilih struktur  pemerintah yang demokrasi tentu saja harus mencerminkan nilai-nilai demokratis dan berkeadilan. Demokrasi dan berkeadilan itu adalah esensi dari cita-vita bangsa yang diimajinasikan seperti terekam dalam karya Benedict Anderson dan Parakitri T Simbolon.

Bangsa ini telah mengalami jatuh-bangun kekuasan. Sejak lepas dari kekuasaan kolonial, proses pencarian model kekuasaan yang efektif tidak pernah berhenti. Secara konstitusional bangsa ini memilih jalan demokrasi bukan jalan otoriter dalam menjalankan sistem pemerintahan. Akan tetapi ketika tetapi sejak era pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru sistem pemerintahan telah mengalami distorsi demokrasi.

Pemerintahan Orde Lama berusaha menerapkan demokrasi terpimpin sementara pemerintahan Orde Baru menerapkan otoritarianisme dan meliterisme. Pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru sama-sama telah mengkhianati nilai-nilai demokrasi, khususnya pemerintahan Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun. Rezim Orde Baru dalam menjalankan pemirintahan secara otoriter, monoloyalitas dan politik belah bambu.

BACA JUGA : Arena Pilkada dan Permainan Para Cukong

Penyeragaman pemikiran   rakyat dan kebenaran hanya ditangan penguasa. Atas nama stabilitas nasional dan pembangunan tidak ada ruang bagi publik untuk mengekspresikan pikiran dan kebebasan berpendapat. Yang ada hanyalah kebebasan semu dan demokrasi semu yang didesain oleh penguasa sekedar untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara demokrasi dalam bungkus otoritarianisme, meliterisme, dan feodalisme.

Pemilu pun berjalan secara rutin sebagai ritual demokrasi dan hasilnya pun sudah bisa ditebak. Ini bentuk ritual demokrasi yang menjijikkan. Inilah ilusi demokrasi (illusion democracy).

Kejatuhan rezim Orde Baru 22 tahun silam adalah tonggak sejarah baru untuk terbebas dari kekuasan otoritarianisme dan  meliterisme itu adalah mimpi rakyat untuk menuju sistem pemerintahan demokratis.

BACA JUGA : Di Balik Pilkada: Aktor Politik dan Perebutan Hegemoni Sumber Daya Lokal

Sering perjalanan waktu mimpi itu semakin terjal dan jalan berliku yang telah jelas arahnya. Desain kekuasaan politik dan ekonomi saat ini justru menyuburkan gerombolan oligarki dan predator yang merampok sumber daya ekonomi negera dan membajak negara dengan cara-cara koruptif dan kolusi. Lingkaran setan sistem politik dan regulasi yang dibuat oleh negara bukan lahir dari ruang hampa kepentingan, yaitu kepentingan para oligarki politik dan ekonomi yang jauh dari aspirasi dan kepentingan rakyat.

Situasi carut-marut di tengah menguat feodalisme demokrasi yang terstruktur dalam bentuk oligarki-pridatoris dan politik famili menjadi ruang terbuka bagi bagi Sumpah Serapah publik. Rakyat (pemuda) tidak lagi menyumpahi para penjajah kolonial tapi pemuda saat menyumpahi penguasa yang di mata mahasiswa-pemuda dianggap pengkhianat bangsa dan pengkhianat demokrasi.

Fenomena merebaknya resistensi publik atau mahasiswa adalah ekspresi Sumpah Serapah terhadap penguasa atas sejumlah kebijakan dianggap tidak mewakili kepentingan publik tapi lebih mewakili kepentingan sekelompok orang pengusaha atau oligaki-predator yang membonceng di era demokrasi.

Pada kolonial, pemuda telah berinvestasi dalam sejarah untuk melawan oligarki kolonial. Demikian pula di era Orde Lama dan Orde Baru melawan kekuasaan oligarki sebagai musuh bersama.  Lalu, apakah fenomena demo dimana-mana sebagai fakta dan bisa diklaim sebagai musuh bersama atas sejumlah kebijakan pemerintah seperti halnya pada detik-detik senjakala kekuasaan Suharto.

Sejumlah tokoh mahasiswa atau tokoh demonstran yang terlibat penjatuhan Soeharto pada saat ini banyak menjadi instalator, agen kekuasaan, dan menjadi penjaga gawang penguasa saat ini. Lalu, siapa lawan, musuh, dan kawan sejati pemuda, mahasiswa saat ini. Bukankan kita saat ini di era demokratisasi telah mengalami pergeseran pola persepsi dalam memandang kekuasaan sekarang  di tanah  masyarakat yang berubah. Yaitu masyarakat yang mengalami fragmented society (masyarakat yang tercerai-berai) dalam pandangan ideologi politik.

BACA JUGA : Pilkada: Bos Lokal dan Arena Beternak Politik

Sekali lagi, siapa sebenarnya musuh bersama pemuda, mahasiswa, buruh, dan mayoritas rakyat saat ini. Menurut pendapat saya, musuh bersama yang harus dilawan oleh pemuda mahasiswa, buruh dan mayoritas rakyat adalah para oligark-predator yang membajak dan merampok sumber daya alam, sumber daya ekonomi dan mendikte negara secara biadab.

Musuh kita adalah para penguasa serakah yang menggunakan jabatan dan kekuasan untuk berburu rente ekonomi dan KKN. Ini yang harus disumpahi, yaitu Sumpah Serapah.

Terakhir, “Ambilkan tujuh pemuda akan kupindahkan Gunung Semeru”, demikian kata Bung Karno. Tentu saja pemuda-mahasiswa berkualitas. Rain belajar, rajin berdiskusi, kelompok anak muda yang memilik kegelisahan intelektual dan memiliki semangat juang dan sensitivitas politik terhadap bangsanya.(jejakrekam)

Penulis adalah Peneliti pada Pusat Studi Politik dan Kebijakan Publik, Banjarmasin

(Isi dari artikel ini sepenuhnya tanggungjawab penulis bukan tanggung jawab media)

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.