Dua Aktivis Mahasiswa Banjarmasin Resmi Ditetapkan Tersangka karena Dugaan Pelanggaran Demo

0 218

DUA mahasiswa yang dipanggil Ditreskrimum Polda Kalsel pada Senin (26/10/2020) kemarin, ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian.

KEPALA Bidang Humas Polda Kalsel, Kombes Mochmmad Rifa’i menyebut dua mahasiswa yang berinisial AZ dan AR sudah menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP).

“Betul (sudah dimulai penyidikan), sudah SPDP. Inisialnya AZ dan AR,” ujar Rifai kepada awak media, Selasa (27/10/2020) sore.

Keduanya terjerat melakukan pelanggaran atas Pasal 218 KUHPidana jo Undang-Undang nomor 9 tahun 1998 tentang Menyampaikan Kemerdekaan Pendapat di Muka Umum.

BACA JUGA: Dipanggil Polisi soal Demo, Korwil BEM Se-Kalsel Dicecar 20 Pertanyaan

Dua mahasiswa asal perguruan tinggi yang sama ini terancam pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak Rp 9000.

Dikonfirmasi terpisah, Kuasa Hukum BEM se-Kalimantan, Muhammad Pazri malah mengaku belum menerima surat penetapan tersangka dua mahasiswa berinisial AZ dan AR oleh Ditreskrimum Polda Kalsel.

“Kami belum menerima. Selama tidak menerima (surat penetapan tersangka) itu, otomatis menurut kami itu hanya sebatas berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan antara polisi atau dari siapa,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Advokat muda dari Borneo Law Firm ini pun merasa janggal atas perkara dua mahasiswa tersebut. Sebab, SPDP, lanjutnya, baru diterima kemarin saat proses pemeriksaan.

“Kalau pun langsung digelar perkara untuk hari ini menetapkan tersangka itu sangat disayangkan,” herannya.

BACA JUGA: Dipanggil Polisi, Belasan Mahasiswa Lakukan Long March Datangi Polda Kalsel

Untuk diketahui, sebelumnya ada 16 mahasiswa dari lintas kampus menerima panggilan Ditreskrimum Polda Kalsel pada Senin (26/10/2020) kemarin.

Musababnya, buntut dari aksi unjuk rasa menolak omnibus law jilid II pada Kamis (15/10) lalu.

Saat itu, massa mulai berdatangan memenuhi ruas Jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin sekitar pukul 15.00 Wita. Sebelum pukul 18.00 Wita, massa sudah diingatkan untuk bubar.

Mengingat, dalam Peraturan Kapolri Nomor 7 Tahun 2012, ada aturan waktu yang ditentukan saat demo di ruang terbuka: pukul 06.00-18.00 waktu setempat.

Namun, ketika demo jilid II waktu itu, massa baru membubarkan diri pada Kamis (15/10/2020) pukul 24.00 Wita. Sebelum itu sempat terjadi negosiasi yang cukup alot, yang berujung isak tangis Ahdiat.

Di surat bernomor S.Pgl/525-1/X/2020/Ditreskrimum, Ahdiat dipanggil sebagai saksi dalam perkara dugaan tindak pidana kejahatan dengan sengaja mengumpulkan massa. (jejakrekam)

Penulis M Syaiful Riki/Iman Satria
Editor Donny

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.