Bawaslu Oke

Intan Martapura

0 267

Oleh : Humaidy Ibnu Sami

SUNGGUH beruntung masyarakat Martapura dan sekitarnya, bukan saja dianugerahi Allah banyak lahir para wali (awliya) dan ulama, tapi juga dirahmati dengan tanahnya yang banyak mengandung intan-jumantan berlimpah tanpa habis-habisnya.

SUDAH lama diketahui bahwa ada intan di Kalimantan, persisnya di Martapura. Ada yang mengatakan sudah jutaan tahun silam sudah ada yang melakukan pencarian dengan alat dan tekhnologi yang sangat sederhana.

Menurut Mansyur (sejarawan ULM Banjarmasin) pendulangan intan tertua terletak di sekitar aliran Sungai Riam Kanan dan Sungai Riam Kiwa yang bersisian dengan Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan.

Menurut pakar geologi Jerman, Dr. Fransisco Herman Bank, dari fenomena alam pada batuan Granit Peredotit yang terhampar di aliran Sungai Kambang Aranio Kabupaten Banjar yang hulunya berhubungan dengan Sungai Riam Kanan, menunjukkan Riam Kanan sebagai sumbu Kimberlit.⁣⁣⁣

BACA ; Belanda Janji Kembalikan Berlian Sultan Banjar yang Dirampas ke Indonesia

Wilayah-wilayah yang menerima aliran air dari hulu Riam Kanan, dikenal sebagai sungai-sungai Purba. Oleh sebab itu, kawasan Kabupaten Banjar yang mendapat aliran Sungai Riam Kanan dan Sungai Riam Kiwa dengan sendirinya menjadi wilayah penghasil intan.

Di antaranya; Kecamatan Cempaka dikenal dengan pendulangan; Banyu Irang, Cempaka, Pumpung, Sungai Tiung, sampai ke Palam. Beberapa kawasan ini pernah meng-hasilkan intan besar, seperti intan Tri Sakti, intan Galuh Cempaka, intan Puteri Nursehan, Puteri Malu, Galuh Pumpung dan lain-lain.⁣⁣⁣

Kecamatan Karang Intan, dikenal dengan pendulangan; Sungai Alang, Mali-Mali, Sungai Basar, Panyambaran, Batu Hitam, Mandiangin, Awang Bangkal dan Aranio. Pada wilayah ini dikenal intan; Si Jalun, Si Kijip, Puteri Gumilir Awan, dan lain-lain. Kecamatan Simpang Ampat dikenal dengan pendulangan; Sungai jaring, Bumi Rata, Luk Cantung, Sungai Pinang dan lain-lainnya. Hasil pendulangan intan di daerah ini banyak dengan nama yang terkenal sebagai intan Bumirata.

BACA JUGA : Sejarah Urang Banjar Naik Haji : Kisah Pendulang Intan ke Mekkah (3)

Pendulangan intan di Kecamatan Mataraman, misalnya di daerah Mali’i, Takuti, Selan dan sekitarnya. Pendulangan intan di Kecamatan Astambul, ada di daerah; Tungkaran Mayat-Pingaran, Pamatang Danau, Jati dan sekitarnya. Pendulangan intan di Kecamatan Pengaron ada di sekitar Luk Tunggul, Maniapun, Belimbing, Antaraku dan sekitarnya.

Hasil pendulangan yang terkenal di wilayah ini secara umum sebagai Galuh saja tanpa embel-embel yang lain. Pada masa kesultanan Banjar masih berdaulat, ada peraturan bagi pendulang intan. Bagi siapa saja yang berhasil memperoleh intan lebih dari 4 karat, maka intan itu menjadi hak milik kerajaan.

Tidak jelas, apakah yang mendapatkan memperoleh penggantian atau ganjaran saja. Diperkirakan kesultanan Banjar banyak mempunyai intan yang sudah menjadi berlian dan besar-besar sebagai simpanan kerajaan.

BACA JUGA : Geser Aceh dan Palembang, Abad ke-18 Martapura Menjelma Jadi Kota Peradaban Islam Melayu

Dalam Hikayat Banjar, ketika Pangeran Samudera (Suriansyah) meminta bantuan kepada kerajaan Demak, beliau menghadiahkan beberapa buah intan atau yang sudah menjadi berlian beberapa buah. Pendek kata, Kesultanan Banjar waktu itu sangat kaya, karena banyak menyimpan intan-jumantan yang rata-rata berkelas.

Ini terbukti dalam waktu dekat ini pemerintah Belanda ingin mengembalikan harta jarahannya selama menjajah di kesultanan Banjar yakni Berlian 70 karat, milik kesultanan Banjar.

Kembali pada pembicaraan soal intan, pada tahun 1800-an Pemerintah Belanda telah mengirimkan geolog-geolog-nya untuk mencari intan primer, di mana sumber intannya, sebab yang diusahakan penduduk itu hanyalah deposit sekundernya, hanya hasil erosinya.

BACA JUGA : Elegi Tanah Banjar; Bak Ayam Mati di Lumbung Padi

Koolhoven (1935) yang melaporkannya dalam publikasi berjudul, “ Het primaire voorkomen van den Zuid-Borneo diamant” (Verhand. Geol. Mijnbouwk. Gen. Nederl. En Kol., Geol. Ser. 11, hal. 189-232). Menurut Koolhoven, sumber primer intan aluvial di Cempaka itu adalah Peridotit terbreksikan (brecciated peridotite) di Pegunungan Babaris, Meratus, yang disebutnya “Pamali Breccia”. Tetapi toh, penemuan Koolhoven ini tak ditindaklanjuti dengan penambangan intan besar-besaran dari sumber primernya seperti terjadi di negara-negara lain misalnya Afrika Selatan.

Dapat diduga bahwa penyelidikan Koolhoven mungkin tidak tepat. Kemudian, Steve Bergman dkk, pada akhir tahun 1980-an meneliti intan Kalimantan.

BACA JUGA : Intan Sultan Adam, Rampasan Perang Banjar yang Kini Dikoleksi Museum Belanda

Bergman dkk (1987) mengatakan bahwa Breksi Pamali yang disebut Koolhoven sebagai pipa intrusi intan, hanyalah endapan bongkah-bongkah Peridotit yang Konglomeratik. Bergman malahan lebih memusatkan penelitiannya di Kalimantan Barat, sebab dia percaya bahwa produksi intan skala besar itu di seluruh dunia hanya terjadi di sekitar Inti-Inti Benua (Craton), jadi Bergman tidak tertarik dengan Meratus sebagai sumber primer intan seperti dikatakan Koolhoven, sebab Meratus bukan Craton.

Namun penelitian inipun tampaknya tidak membuahkan hasil yang tepat dan bisa dipertanggung-jawabkan. Lalu ada penelitian Smith dkk, yang juga tidak meyakinkan sehingga tidak bisa dilanjutkan untuk explorasi dan penambangan.

Rupa-rupanya, intan di Martapura bukan barang tambang sembarang tambang, seperti barang tambang biasanya semisal emas, batubara, minyak tanah dan sejenisnya yang dapat dipeta lewat jasa satelit. Intan Martapura tidak bisa dipeta ia seperti benda hidup yang bisa pindah dan bergerak dengan cepat dari satu tempat ke tempat lainnya, bahkan ada yang percaya Intan Martapura itu benda gaib atau milik dari makhluk gaib.

BACA JUGA : Buku dan Film Itu Membangkitkan Libido dan Andrenalin Intelektualku

Oleh karena itu, banyak dari para pendulang Intan Martapura, sebelum berangkat pergi mendulang, biasanya konsultasi terlebih dahulu kepada Tuan Guru. Ada beberapa Tuan Guru, yang sering di datangi pendulang intan, di antaranya Tuan Guru H. Zainal Ilmi, Tuan Guru Nujhan (Dalam Pagar), Tuan Guru H. Salman Alfarisi (Rantau), Tuan Guru H. Anang Ramli (Bati-Bati) dan Tuan Guru H. Anang Jazuli (Tanjungrema).

Biasanya, mereka bertanya soal lokasi, waktu yang baik, cara mohon izin dengan makhluk ghaib yang menjaga dan ritual apa yang harus di lakukan. Pada umumnya, sebelum berangkat mendulang mereka mengadakan selamatan yang sederhana. Sesudah itu mereka berbagi tugas di pendulangan dengan kerja berat sama dijinjing ringan sama dipikul dan akan mendapat bagian sama atau adil kalau nanti memperoleh intan.

Isyarat atau indikator adanya intan di kawasan tersebut, biasanya muncul cahaya gemerlap di malam hari, pada sela-sela rerumputan atau rumpun serai. Etika di kawasan pendulangan tabu menyebut kata intan, tapi mereka menyebutnya Galuh.

Jika intan ditemukan mereka ramai-ramai membaca shalawat dan intan segera dimasukkan ke dalam mulut (dilumu) beberapa waktu untuk dimatikan agar tak akan berubah lagi, lari dan hilang dari yang menemukan. Jadi di pendulangan itu kepribadian dan akhlak mulia para pendulang diuji seperti sifat jujur, adil, amanah, kebersamaan, berbagi, menempati janji, berkasih sayang, tolong-menolong, solidaritas dan sejenisnya.

BACA JUGA ; Istana Sultan Banjar Mewah Karena Melimpahnya Lada

Sebab jika itu tak dilakukan, sulit akan memperoleh intan yang didambakan. Atau bisa juga intan didapat, tapi kemudian berubah menjadi kerikil biasa yang tak berharga. Atau intan memang didapat juga, tapi kemudian para pendulangnya mengalami sakit terkena wisa atau gila menjadi tidak ingat apa-apa

Itulah kepercayaan-kepercayaan dan mitos-mitos dalam pendulangan intan yang tidak begitu saja boleh diabaikan karena intan Martapura itu masih banyak misteri. Cuma ada yang sudah pasti, para pendulang intan yang bertaruh nyawa dalam sepanjang sejarahnya dari dahulu sampai sekarang, nasibnya begitu-begitu saja, tetap miskin, tak pernah menjadi kaya.

Ini mestinya menjadi keprihatinan kita bersama, terutama pemerintah daerah yang membuat kebijaksanaan agar ada regulasi yang berpihak kepada mereka, hingga tidak terulang lagi nasib seperti penemu Intan Trisakti 166, 75 karat dan Intan Galuh Cempaka 5 ,106 karat, yang tetap miskin dan melarat.(jejakrekam)

Penulis adalah Staf Pengajar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari

Peneliti Senior LK3 Banjarmasin

(Isi dari artikel ini sepenuhnya tanggungjawab penulis bukan tanggung jawab media)

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.