Di Ponpes Hidayatullah, Andin-Guru Oton Bicara Soal Bahaya Politik Uang, Kesejahteran Guru dan Beasiswa Santri

0 172

LAHIR dan dekat dari kalangan ulama, duet calon Bupati-Wakil Bupati Banjar Andin Sofyanoor-KH Muhammad Syarif Busthomi (Andin-Guru Oton) terus merapat ke kalangan ulama dan pondok pesantren.

GERAKAN anti politik uang (money politics) terus digaungkan Andin Sofyanoor. Saat bertemu dengan para ustadz di SMIH Martapura yang kini dikenal Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Pangeran Hidayatullah, Martapura, Sabtu (17/10/2020), Andin Sofyanoor pun menyuarakan hal itu.

“Kabupaten Banjar akan hancur bila politik transaksional terus berlangsung dalam pemilihan calon kepala daerah atau wakil kepala daerah. Jika suara sudah dibeli, apa yang bisa diharapkan kepada pemimpin,” ucap Andin Sofyanoor didampingi Guru Oton, dalam silaturahmi dengan jajaran pengajar Ponpes Hidayatullah, Sabtu (17/10/2020).

BACA : Baliho Andin-Guru Oton Dirusak Tangan Jahil Justru Datangkan Simpati Warga

Guru Oton seperti mengenang kembali jasa-jasa para guru ‘paguruan’ yang mengajar di SMIH Martapura. Apalagi, Guru Oton sendiri merupakan alumni Ponpes Hidayatullah, Martapura.

Andin yang mengusung visi-misi Banjar Bersinar ini menegaskan kegelisahan publik akan masa depan daerah jelas tergambar, karena masih mengutamakan politik uang dalam memilih calon pemimpinnya.

“Adakah harapan Kabupaten Banjar bisa maju, jika suara Anda sudah dibeli? Memilih pemimpin dengan cara transaksional, bukan didasarkan rasionalitas dan hati nurani, maka harapan pemimpin akan peduli pasti berkurang. Sebab, jika suara Anda sudah dibeli, berarti yang menang adalah kaum kapitalis,” cetus doktor lulusan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung ini.

BACA JUGA : Bertemu Pimpinan Mejelis Sirajul Munir, Cabup Banjar Andin Sofyanoor Janji Kembalikan Identitas Kota Serambi Mekkah

Menurut dia, dari sisi agama tentu jika sudah transaksional atau politik uang jelas-jelas haram, berdasar fakwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bahkan, keberkahan pun tidak akan didapat dengan pemimpin yang melakoni politik curan gitu.

“Saya yakin, jika politik transaksional ternyata yang menang, maka bukan kemajuan daerah didapat justru kehancuran,” papar Andin.

Lantas bagaimana dengan program peningkatan pendidikan khususnya pondok pesantren mencakup guru, santri dan lainnya yang menjadi ciri khas Kabupaten Banjar? Andin menegaskan soal kesejahteraan para guru ponpes merupakan prioritas atau program yang akan diwujudkan jika amanah rakyat telah didapat sebagai Bupati-Wakil Bupati Banjar.

“Saya sendiri memilih menyekolahkan anak saya di Ponpes Hidayatullah Martapura dan Ponpes Gontor di Jawa Timur,” kata Andin.

Senada itu, calon Wabup Banjar KH Muhammad Syarif Busthomi menegaskan dirinya bersama Andin Sofyanoor benar-benar serius untuk memajukan sektor pendidikan, terkhusus ponpes yang selama ini belum terayomi dengan baik.

“Tentu saja, peningkatan kemampuan pelajar, santri dan kesejahteran para guru ponpes jadi perhatian kami berdua,” kata Guru Oton.

BACA JUGA : Gaungkan Anti Politik Uang, Cabup Banjar Andin Sofyanoor : Niat Saja Sudah Salah!

Menurut dia, dalam mencetak kader ulama berkualitas bagi Kabupaten Banjar, lewat program Banjar Bersinar telah disiapkan skema untuk beasiswa santri tiap tahun untuk lima hingga 100 orang.

“Jadi, mereka bisa meningkatkan jenjang pendidikan, baik menempuh studi di luar daerah maupun luar negeri. Ya, seperti ke Mesir, Maroko, Hadramaut dan sebagainya,” ucap Guru Oton.

Ia menegaskan hal itu bukan sekadar janji. Jika dirinya bersama Andin Sofyanoor terpilih sebagai Bupati-Wakil Bupati Banjar, maka prioritas pertama adalam mengembalikan julukan Kabupaten Banjar khususnya Martapura sebagai Kota Serambi Mekkah.

“Mohon doa restu dan dukungannya. Semoga ini bisa menjadi kebaikan bagi kami, kita dan kebaikan bersama,” ucap Guru Oton.

Satu harapan Guru Oton kepada guru-guru di Ponpes Hidayatullah atau SMIH Martapura, agar bisa menjadi penasihat bagi dirinya dan Andin Sofyanoor jika mendapat kepercayaan memimpin Kabupaten Banjar.

Untuk diketahui, Ponpes Hidayatullah ini didirikan oleh tiga ulama yang dikenal dengan sebutan tiga serangkai, yakni KH Hasyim Mochtar, KH M Nashrun Thahir dan KH Ahmad Nawawi Marfu.(jejakrekam)

Penulis Rahim
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.