Novel Malak, Sebuah Romantisme Bergenre Dakwah Karya Ewin Adhia

0 122

PELUNCURAN buku novel Malak karya Ewin Adhia diurai Sandi Firly (editor) dan Hajriansyah sebagai pemantik diskusi  di Kampung Buku Banjarmasin, jalan Sultan Adam, pada Kamis (15/10/2020) malam.

NOVEL Malak, sebuah genre spiritual-romance yang mengisahkan tentang makhluk Malak, sosok yang tak kasat mata itu dianggap sebagai penasehat hidup dari tokoh Neil Ihsan dan Rena. Secara bahasa Arab, Malak diambil dari kata tunggal yakni Malaikat.

“Dalam bahasa Arab, Malak sendiri diambil dari kata tunggal yaitu Malaikat. Awalnya nama judul yang ditawarkan Ewin kepadaku yaitu Peradaban Cumbu. Namun, saya tawarkan ke dia judul Malak dari semua gambaran novel itu,” ucap Novelis Sandi Firly kepada jejakrekam.com, Jum’at (16/10/2020).

Sang penulis mengemas kisah romantis yang terbalut dalam nilai spiritualisme. Ada tokoh Neil Ihsan yang terlahir dari rahim seorang insinyur pertama di Kampung Dalam Pagar. Sebuah perkampungan yang paling otentik di Martapura, Kalimantan Selatan. Kampungnya ulama kharismatik yakni Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

BACA : Novel Azimat Ungkap Sejarah Kelam Perhajian Indonesia

Sedangkan Rena, sosok perempuan yang selalu didampingi Malak sejak kecil hingga remaja. Sebagai hadiah kesabaran ayahnya tak mengeluh, sama seperti Neil dan Rena dapat melihat makhluk Malak, yang sosoknya dapat berpindah sekejap mata.

“Sosok makhluk Malak bisa berpindah ke suatu tempat yang membawa kedua tokoh Neil dan Rena, bisa ke India maupun negara lainnya. Malak dapat membaca masa depan,” ucap wartawan senior ini.

Sandi bercerita, bahwa telah setahun lamanya ditawarkan Ewin Adhia untuk mengeditori naskah novelnya tersebut. Karena tanpa batasan waktu yang diberikan, Sandi merasa berutang kepada Ewin setelah menerima postingan di laman facebooknya.

“Membaca postingan itu, dia menyebut saya sebagai orang yang dia percaya dalam mengeditori naskah novelnya tersebut. Lewat Whatsaap, saat itulah saya menghubungi Ewin dan janji datang ke rumahnya untuk membicarakan naskah novelnya kembali,” ujarnya.

BACA JUGA : Dee, Novelis Supernova Berbagi Tips agar Karya Bisa Melejit

Pada bulan Agustus lalu, Sandi berjanji kepada Ewin bahwa naskah novel yang dieditorinya itu segera rampung. Namun, selang beberapa hari setelah pertemuan itu, Sandi mendapat kabar meninggalnya Ustadz Ewin Adhia.

“Kita tahu, sosok Ewin Adhia cukup dikenal di medsos. Dia sosok pendakwah yang baik di mata masyarakat, kalau ingin mengenalnya maka bacalah buku novel Malak ini. Di sana kita menyelami dari gagasan dalam pengalaman spiritual dan idealismenya,” ungkap novelis asal Banjarbaru itu.

15 hari kepergian Ewin Adhia, Sandi telah menyelesaikan terbitan buku novel Malak ini. Dalam peluncuran ini dihadiri oleh pegiat sastra, seperti Ali Syamsudin Arsi, Rosyidi Aryadi, Sumasno Hadi, Kin Muhammad dan sebagainya.

BACA JUGA : Digarap Sejak 2008, Micky Hidayat Akhirnya Luncurkan Buku Leksikon Penyair Kalimantan Selatan

Adapun Hajriansyah, owner Kampung Buku Banjarmasin ini memandang novel Malak sebagai buku yang bernuansa dakwah.

“Ustadz Ewin piawai memainkan karakter-karakter dalam tokoh novelnya. Ada ayat-ayat suci yang melebur dalam buku novel Malak ini, seperti orang yang tidak berdakwah tapi sesuatu dialami. Ceritanya cukup mengalir, pada Bab pertama mengisakan tentang Malak. Malak ada, ketika pertama kali diciptakannya Adam dan Hawa,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Rahim
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.