Ekonom STIE Indonesia Minta Kalsel Gencar Promosi Menarik Investasi

0 68

EKONOM STIE Indonesia Dr Iqbal Firdausi mengingatkan agar angka pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan harus terus digenjot di tengah keterpurukan akibat pandemi virus Corona (Covid-19).

MENGUTIP laporan perekonomian Kalimantan Selatan yang dirilis Bank Indonesia (BI) pada Mei 2020, disebutkan pada triwulan I 2020, pertumbuhan ekonomi tumbuh sebesar 5,68 persen.

Angka ini meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,85 persen year on year (yoy) atau perbandingan dalam satu yang sama.

Pertumbuhan ekonomi Kalsel bersumber pada peningkatan ekspor, konsumsi rumah tanggap dan konsumsi pemerintah di tengah perlambatan investasi. Namun, pada sisi penawaran, peningkatan pertumbuhan ekonomi terutama bersumber dari peningkatan industri pengolahan, pertambangan, pertanian, serta perdagangan, hotel, dan restoran (PHR). Sementara itu, perlambatan sektor konstruksi menahan laju peningkatan ekonomi Kalimantan Selatan.

BACA : Gandeng Kejati Kalsel, PT Timah Tbk Garap Tambang Batubara Pengaron

Nah, berkaca pada data itu, Iqbal Firdausi menegaskan Kalsel sangat membutuhkan adanya pendirian industri baru. Sebab, menurut dia, di era-era Gubernur Kalsel sejak Sjachriel Darham dan Rudy Ariffin serta sebelumnya justru membuka penuh investasi.

“Salah satunya adalah pendirian pabrik Coca-cola, Indofood, hingga pakan ternak bisa menyerap tenaga kerja yang cukup besar bagi warga Kalsel,” papar Iqbal Firdaus dalam diskusi ringan di Café Nangkene, Penginapan Borneo Syariah, Banjarmasin, belum lama tadi.

BACA JUGA : Tahun 2020, Belum Ada Pengurangan Produksi Batubara, Tetap 500 Juta MT

Menurut Iqbal, berdasar data yang dirilis BI, tercatat tingkat pengangguran terbuka (TPT pada Februari 2020 di Kalsel sebesar 3,80 persen naik dari Februari 2019 sebesar 3,50 persen. Sedangkan, tingkat partisipasi angkatan tenaga kerja (TPAK) berdasar rilis ketenagakerjaan menurun dari 73,91 persen pada Februari 2019 menjadi 73,03 persen pada Februari 2020.

Yang disesalkan Iqbal adalah pergantian kepemimpinan Banua justru berimbas pada kebijakan. Menurut dia, ketika gubernur berganti, maka kebijakan yang baik para pendahulunya justru tidak diteruskan.

“Padahal, ada kebijakan yang bagus, harusnya bisa dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Contohnya, mengundang investasi yang bisa menciptakan lapangan kerja yang besar bagi masyarakat Kalsel. Jadi, kita tak terfokus pada sektor pertambangan dan perkebunan sawit,” ucap Iqbal.

BACA JUGA : Ekspor Batubara Kalsel Turun Imbas Perang Dagang Tiongkok-AS

Ia mengatakan awalnya dulu pabrik elektronik dari Korea sebenarnya tertarik berinvestasi ke Kalsel. Namun, ternyata hal ini tak direspon dengan baik oleh pemerintah daerah.

“Makanya, jika Kalsel bisa mempromosikan dirinya ke nasional dan internasional, maka pertumbuhan ekonomi akan melesat. Tak hanya mengandalkan pada sektor sumber daya alam (SDA) yang bisa habis seperti batubara. Kita harus ingat, Kalsel pernah jaya dengan minyak dan kayu, tapi itu sudah menjadi cerita lama. Makanya, butuh terobosan baru dalam menggenjot sektor perekonomian,” tandasnya.(jejakrekam)

Penulis Ipik Gandamana
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.