Digarap 10 Tahun, Perjalanan Maestro Anang Ardiansyah Terekam dalam Biografi ‘Abah Raja Ai’

0 271

PELUNCURAN buku berjudul ‘Abah Raja Ai’, sebuah biografi sang maestro Lagu Banjar Anang Ardiansyah menjadi salah satu kado manis pada momentum Hari Jadi Kota Banjarmasin ke-494 tahun.

BIOGRAFI yang ditulis dari Nasrullah dosen Prodi Pendidikan Sosiologi Antropologi FKIP ULM dan Riswan Irfani, mantan wartawan sekaligus putra almarhum ini diulas dalam acara bedah buku di Balai Kota Banjarmasin, pada Sabtu (19/9/2020).

Kegiatan itu menghadirkan narasumber Almin Hatta, Mukhlis Maman dan langsung diresmikan Walikota Ibnu Sina. Selain itu, ada pula sejumlah penulis senior yang menjadi audiens.

Menurut Ibnu Sina, warga Banjarmasin harus berbangga karena punya seniman seperti Anang Ardiansyah. “Walaupun sebetulnya abah Anang bukan hanya milik kota banjarmasin, tetapi milik Kalimantan Selatan bahkan Indonesia saya kira,” ujarnya.

BACA JUGA: Mencari Identitas Lagu Banjar, dalam Berkarya Musisi Harus Bebas Merdeka

Ibnu bahkan mengaku dejavu. Saat membuka lembar demi lembar biografi sang maestro yang telah menulis 123 lagu Banjar tersebut.

“Saat membuka lembar demi lembar buku Abah Raja Ai, saya seperti dejavu. Karena yang diungkit bukan hanya lagu, tapi ada lain juga misalnya seperti kain sasirangan,” tutur Ibnu.

Ia berharap, biografi seorang sang maestro Lagu Banjar itu bakal menjadi kado terindah buat hari jadi Kota Banjarmasin yang kini memasuki usia 494 tahun.

“Apa yang kita lakukan hari ini, hanya merupakan sedikit yang bisa dibalas dari kiprah beliau,” pungkasnya.

BACA JUGA: Misteri ‘Kerajaan Gaib’ Pulau Kadap dalam Bait Lagu Khairiadi Asa

Menurut Almin Hatta, buku yang ditulis dalam perenungan panjang Riswan Irfani dan Nasrullah, mampu membungkus sejarah yang selama ini tidak diketahui publik. Tentunya melalui buku ini publik akan banyak tahu dibalik kisah perjalanan panjang Anang Ardiansyah.

“Kedua penulis ini memotret sisi lain dan bagaimana mengungkapkannya lewat tulisan. Sehingga lagu yang kita kenal itu bisa diresapi dan dijiwai lewat dendang ceria maupun ratapan lirih Anang Ardiansyah,” tutur wartawan senior yang juga dikenal penulis produktif buku.

Lain Almin, lain pula Muchlis Maman. Pria yang dikenal sebagai salah satu seniman teater dan dosen seni ini menuturkan sosok Anang, sebagai orang pintar yang mampu menangkap inspirasi secara langsung.

Tak pelak, jika inspirasi itu sering diutarakan lewat “bagarunum” yang akhirnya terciptalah sebuah lagu. Inilah salah satu pembeda dengan pencipta lagu lainnya, terutama lagu-lagu daerah.

BACA JUGA: Ketika Lagu Banjar Karindangan Nanang Irawan Dipoles Didi Kempot

“Yang tak kalah penting adalah beliau memiliki karakter dan kuat dalam nada, buka pada syair. Beliau berbahasa Indonesia tetap lagu Banjar, termasuk dalam lagu-lagunya. Sebaliknya pengarang lagu lain meskipun menggunakan bahasa banjar, kelihatan bukan lagu banjar,” ujar Julak Larau.

Buku itu menuturkan latar belakang dan proses hidup yang memengaruhi penulisan lagu Banjar karyanya. Dengan mencakup 136 halaman di dalamnya.

Dalam buku tersebut, sosok Anang Ardiansyah diceritakan sempat membahas beberapa lagu Banjar karyanya yang dianggap orang sebagai lagu mistik. Terutama, pengalaman sang maestro terhadap hal-hal mistik yang menginspirasi penulisan lagu. Seperti lagu berjudul “Kasih Putus di Luhuk Badangsanak”, “Sanja Kuning”, “Pangeran Suriansyah” dan “Kambang Goyang”.

Selain itu, tak banyak orang yang tahu proses penciptaan lagu fenomenal Paris Barantai yang lebih populer dinamai Kotabaru. Bahkan, kata Paris Barantai tidak disebutkan dalam bait lagu tersebut.

Menariknya dalam proses pembuatan buku ini, seperti yang dikutip jejakrekam.com dari kisah para penulis. Pembuatan buku ini membutuhkan waktu sampai 10 tahun, dan hanya perlu 2 hari untuk mengeditnya. (jejakrekam)

Penulis M Syaiful Riki
Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.