Husairi Abdi

Di Tengah Keterbatasan, ASKS XVII Tabalong akan Tetap Digeber Secara Virtual

0

SUASANA pandemi virus Corona (Covid-19) tak membuat agenda tahunan, Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) XVII tahun 2020 ini ditunda. Rencananya, berpusat di Kota Tanjung, Kabupaten Tabalong pada 19-21 November 2020, even yang menghimpun ratusan sastrawan, seniman dan budayawan ini tetap digeber.

KEPALA Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Tabalong Masdulhaq Abdi mengungkapkan karena suasana pandemi, ASKS XVII tahun 2020 ini terpaksa digelar secara virtual karena tetap mengutamakan protokol kesehatan Covid-19.

“Persiapan AKSK XVII tahun 2020 ini sudah matang. Bahkan, kami sudah mengirimkan surat untuk meminta perwakilan 13 kabupaten dan kota se-Kalsel mengirim 20 hingga 30 sastrawan, seniman dan budayawan untuk meramaikan even tahunan ini,” ucap Masdulhaq Abdi kepada jejakrekam.com di Kampung Buku Banjarmasin, Sabtu (12/9/2020) malam.

BACA : Rekam Profil Sastrawan Lokal Periode 1930-2020, Micky Hidayat Rilis Buku Leksikon Penyair Kalsel

Menurut dia, beberapa acara seperti pembacaan puisi berbahasa Banjar, lomba membuat puisi berbahasa Banjar, gelar sastra Banjar, rembug, lomba membuat cerita rakyat Kalsel dan lainnya digelar secara virtual melalui TV lokal, kanal Youtube dan akun facebook resmi ASKS XVII Tabalong.

“Sasaran kami tentu untuk mencari bibit dan melahirkan sastrawan dan seniman muda yang ada di Kalsel, terutama di sekolah-sekolah. Makanya, dalam menentukan peserta akan dilakukan seleksi yang cukup selektif dan akurat,” kata Masdulhaq.

Ia mengakui sebelum adanya pandemi Covid-19, gelontoran dana untuk menyukseskan ASKS XVII tahun 2020 di Tabalong disuntik Rp 600 juta dalam APBD Tabalong. Namun, karena anggarannya harus dialihkan untuk penanganan Covid-19, sehingga terkorting menjadi Rp 250 juta.

“Bahkan, kami harus memulainya dari nol lagi. Namun, Aruh Sastra Kalimantan Selatan tak boleh dibatalkan, karena memiliki nilai misi pencerahan, memberi nilai positif dan menumbuhkembangkan daya nalar dan minat generasi penerus dalam menggeluti dunia sastra Banua,” tutur Masdulhaq.

BACA JUGA : Ketika Sastrawan dan Budayawan Banjar Galau akan Langkanya Hayati Banua

Guna menutupi kekurangan biaya perhelatan, Masdulhaq mengakui panitia aruh tengah berkoordinasi dengan pihak ketiga untuk membantu agar even tahunan para seniman, sastrawan dan budayawan Banua ini tetap digelar, walau di tengah keterbatasan akibat pandemi.

“Sebab, di Kalsel ini, banyak sekali komunitas seniman dan sastrawan berada. Dunia sastra dan seni Banua harus tetap bernapas panjang. Apalagi, ASKS ini satu-satunya even di Indonesia yang mampu mengumpulkan seniman, sastrawan dan budayawan yang tergolong banyak,” tutur Masdulhaq.

Menurut dia, walau di Kalsel dikenal banyak dialek penutur bahasa Banjar, baik hulu, kuala dan batang banyu, toh hal itu tidak akan mengganggu dalam menentukan karya sastra yang berkualitas dan memiliki semangat tinggi.

“Tentu, kita sudah punya pakem atau karakteristik puisi berbahasa Banjar. Lahirnya bibit-bibit baru seniman dan sastrawan di Kalsel akan menjadi aset berharga bagi Kalsel. Saat ini, misalkan, yang paling rajin membikin puisi dalam berbahasa Banjar ya seperti seniman kawakan kita, YS Agus Suseno. Tentu kita berharap akan lahir generasi penerusnya,” kata Masdulhaq.

BACA JUGA : Walau Tak Punya Aksara, Bahasa Banjar Kaya dengan Karya Sastra

Bahkan, Masdulhaq memastikan bagi mereka yang keluar sebagai juara dalam ASKS XVII tahun 2020 di Tabalong bisa dipromosikan untuk bisa tampil di kancah nasional. Sebab, kata dia, masing-masing di daerah memiliki Dewan Kesenian, termasuk level Provinsi Kalsel, sehingga dari bibit-bibit unggul yang tersaring bisa nanti berkiprah dan mengharumkan Banua di tingkat nasional, bahkan internasional.

“Terpenting, karya yang dihasilkan bukan hasil dari plagiat, karena dalam dunia sastra juga memberi kebebasan bagi setiap individu melahirkan karyanya. Terpenting ada norma yang harus ditaati seperti tidak menyangkut SARA dan pornografi. Sebab, pada dasarnya, karya sastra itu memiliki nilai religius, karena buah hasil pemikiran seseorang,” tuturnya.

Agar tetap abadi dan bisa dibaca, Masdulhaq memastikan dari hasil karya di ASKS XVII tahun 2020 di Tabalong ini akan dibikinkan buku antalogi.

“Dari buku antologi ini akan tergambar ide, daya nalar dan pemikiran dari karya sastra yang dihasilkan semua seniman dan sastrawan Banua. Karena, lewat buku itu, karya sastra para penyair itu bisa abadi,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Ipik Gandamana
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.