Klaim Bukan Propagadis, Film Jejak Khalifah di Nusantara Ungkap Sejarah Islam

0

TEPAT 1 Muharram 1442 Hijriyah atau Kamis (20/8/2020) pukul 09.00 WIB, film dokumenter ‘Jejak Khilafah di Nusantara’(JKDN) ditayangkan secara live streaming di Khilafah Channel. 

FILM ini diprakarsai oleh Khilafah Channel & Komunitas Literasi Islam (KLI).  Berdasar catatan panitia, sebanyak 250.000 orang mendaftarkan diri untuk mendapatkan tiket virtual agar bisa menonton film ini. 

Rizki Awal, seorang pengamat media sosial bahkan mengatakan tayangan langsungnya mencapai rekor 430 ribu lebih tayangan.

Penayangan film dokumenter JKDN mendapatkan sambutan hangat dari para warganet.  Bahkan empat tagarnya pun menjadi trending topic di Twitter yaitu #JejakKhilafahdiNusantara, #DakwahSyariahKhilafah, #SejarahIslamIndonesia dan #NobarFilmKhilafah pada hari itu.

BACA : Pancasila Sudah Final, Wajar Jika Umat Islam Bereaksi Ketika Diutak-atik Lewat RUU HIP

Sebelum film JKDN ditayangkan, warganet disambut oleh tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz KH Rokhmat Labib.  Ia mengingatkan tentang 1 Muharram sebagai tonggak awal hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah tidak hanya sebagai nabi dan rasul, namun sebagai kepala negara. 

“Apa di balik hijrah? Setelah hijrah, umat Islam yang tadinya tidak punya daulah, lalu punya daulah, punya negara dan di atas daulah itulah Islam ditegakkan,” ucap Rokhmat Labib.

Menurut dia, 13 Abad umat Islam memiliki negara dan selama itu memiliki kemuliaan. Agar umat Islam kembali memiliki kemuliaan maka pengembalian khilafah seperti sebelumnya.

“Jika kita menginginkan kemuliaan dari selain Islam maka kehinaanlah yang kita dapatkan,” ucap Rokhmat.

Tiga Orang di Balik Pembuatan Film JKDN

Dalam talkshow bersama tiga orang yang berperan di balik pembuatan film JKDN yaitu Ustadz Ismail Yusanto (penasihat KLI), Nicko T. Pandawa (produser sekaligus penulis naskah JKDN), dan Septian A. W. (sejarawan muda) yang dipandu oleh Ustaz Karebet Widjajayakusuma.

Film JKDN sendiri berbicara tentang sejarah Islam di nusantara.  Berbicara tentang sejarah dan film JKDN, ustaz Ismail mengatakan bahwa Islam memandang sejarah (tarikh) adalah penting untuk dipelajari karena di dalamnya ada ibrah.

BACA JUGA : Opsi Islam dan Pancasila, Orasi Soekarno di Amuntai Picu Protes Seantero Negeri

Ibrah adalah pelajaran atau lesson atau hikmah bagi orang yang berpikir.  Ibrah didapat dari bagaimana sejarah itu diungkapkan atau ditulis.  Bila ditulis dengan benar maka akan didapat ibrah yang benar demikian juga bila salah maka akan didapat ibrah yang salah. 

Sejarah adalah second hand reality tergantung kepada yang menuturkan, merumuskan. Pengaburan dan penguburan sejarah pun bisa terjadi. 

“Maka penting bagi kita untuk menggali sejarah dan kebenaran (digging up the past & the truth). Maka kita bisa mendapatkan ibrah yang benar. JKDN dibuat berdasarkan hal ini,” ucap Ustadz Ismail.

BACA JUGA ; Geser Aceh dan Palembang, Abad ke-18 Martapura Menjelma Jadi Kota Peradaban Islam Melayu

Urgensi secara mendalam dari JKDN, ditegaskan Ismail bahwa sejarah adalah objek pemikiran atau kajian maka menjadi pelengkap atau pendukung dari apa yang kita pahami bahwa khilafah adalah ajaran Islam.

“Apakah khilafah sampai ke Nusantara? Sejarah sebagai objek pemikiran maka juga sebagai bukti yang memperkuat,” tuturnya.

Septian menambahkan terkait latar belakang dari diproduksinya JKDN yakni untuk menjawab tantangan zaman. Ia merasa terketuk untuk menghadirkan riwayat khilafah di tengah-tengah umat. Kenapa JKDN karena belum ada film yang mengisahkan hubungan antara Nusantara dan khilafah secara jelas.

BACA JUGA ; Wajah Keislaman Timur dalam Esai Sejarawan IAIN Palangka Raya

Ia menampik bahwa film JKDN propagandis.  Menurutnya, hal itu tidak relevan. “Bukan karena filmnya tapi karena ada yang setimen dengan kata khilafah,” ungkapnya.

Sedangkan, Nicko menjelaskan, film ini bisa dipertanggungjawabkan secara akademis, sebab melandaskan penelitian dan riset yang panjang, didukung sumber primer maupun sekunder (data pustaka), ditambah data lapangan yang tersebar dari ujung Sumatera-Aceh-, Pulau Jawa, hingga ujung Timur -Ternate dan sebagainya.

Napak Tilas Sejarah Islam di Nusantara Melalui Film JKDN

Film JKDN hadir dengan audio visual nan apik.  Narasinya pun mudah dicerna. Berdurasi sekitar 120 menit.  Menghadirkan enam penutur sejarah yakni K H Hafidz Abdurahman, MA (Ulama, Pengkaji Sejarah Nusantara); Moeflich Hasbullah (Sejarawan); Salman Iskandar (Penulis, Editor buku “Api Sejarah”; Sukarna Putra (Wakil Ketua CISAH-Center for Sumatera Pasai Heritage ); Nicko Pandawa (Sejarawan Komunitas Literasi Islam )& Yoesri Ramli (Sekjen. MAPESA- Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) menambah nilai plus pada JKDN yang menampilkan untaian sejarah jejak khilafah di Nusantara.

Diawali KH Hafidz Abdurrahman yang menjelaskan tentang kepemimpinan Rasulullah SAW sebagai kepala negara yang setelah beliau wafat kemudian kepemimpinan tersebut dilanjutkan oleh para sahabat dalam bentuk negara kekhilafahan Islam.  Usai kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, kekhilafahan Islam pun tetap berlanjut bahkan merambah hingga ke Nusantara.

BACA JUGA : Islam Banjar Perpaduan Kultur Demak dan Samudera Pasai

“Khilafah atau kekhilafahan Islam bukanlah hal yang baru di Nusantara. Sudah ada hubungan antara kesultanan-kesultanan di Nusantara dengan kekhilafahan Turki Utsmani atau wilayah Arab secara keseluruhan sejak abad ke-7,” ucap sejarawan Moeflich Hasbullah.

Begitu pula, Salman Iskandar. Ia mengatakan bahwa menurut Buya Hamka dalam bukunya “Sejarah Umat Islam’, Islam masuk ke Nusantara jauh sebelum teori Gujarat.

Nicko Pandawa juga menceritakan tentang kekhilafahan Abbasiyah yang mengurusi sampai ke Aceh. Dulu, Aceh yang berkuasa di sana adalah Samudera Pasai dan berbaiat kepada Kekhilafahan Abbasiyah.

Apa yang disampaikan oleh Sukarna Putra dan Yoesri Ramli pun semakin memperkuat adanya hubungan antara Khilafah Islam dengan kesultanan yang ada di nusantara, khususnya Samudera Pasai.

BACA JUGA : Kesultanan Nusantara Bentuk Pan-Islamisme, Bendung Misi Perang Salib Eropa

Sukarna mengatakan hal yang sama dengan Nicko bahwa ada fakta kesultanan Samudera Pasai berbaiat langsung kepada kekhilafahan Abbasiyah.  Yoesri pun mengatakan bergerak dan terus bergerak dan Sultan Zainal ‘Abidin Ra-Ubabdar (Ra – Ubabdar adalah gelar yang artinya ‘ penakluk gelombang’), sebagai sultan Samudera Pasai  melebarkan sayap ke seluruh Asia Tenggara.

Salah seorang intelektual perempuan, Shanti Komalasari salah satu pengurus Ikatan Psikologi Kalsel mengatakan dirinya sangat ingin mengetahui tentang jejak khilafah. Itulah sebabnya, ia menonton film JKDN.

“Karena ilmiah dan juga berdasarkan kisah nyata dari dokumentasi-dokumentasi yang ada.  Tidak bisa dipungkiri bahwa di Indonesia, jejak khilafah itu ada,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Rilis
Editor DidI G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.