ACT

Polisi Reka Ulang Pembunuhan Dipicu Utang Piutang, Istri Korban Marahi Pelaku

0 156

JAJARAN Polsek Banjarmasin Utara menggelar rekonstruksi peristiwa pembunuhan yang dipicu utang piutang. Reka ulang yang menghadirkan  pelaku, M Irfan alias Ifan (44) digelar di halaman Polsek Banjarmasin Utara, Kamis (23/07). 

“REKONSTRUKSI ini, tidak kami gelar di lokasi kejadian, untuk mengantisipasi hal – hal yang tidak diinginkan,” kata Kapolsek Banjarmasin Utara, AKP Gita Suchandi Achmadi. 

Dalam gelaran rekonstruksi, pelaku memperagakan sebanyak 24 adegan dari kedatangan di lokasi kejadian hingga terjadinya penikaman.

Sekadar mengingatkan, penikaman itu sebelumnya terjadi di depan rumah korban, Jalan Alalak Utara RT 15, Banjarmasin Utara, Senin (29/6) silam.

Penikaman sendiri dilatari persoalan lama, yakni hutang piutang. Ceritanya, korban memiliki hutang kepada pelaku senilai Rp7.500.000 sejak satu tahun yang lalu.

Uang itu dibayarkan pelaku untuk menyewa mobil angkutan kepada korban. Namun, mobilnya tak kunjung ada, sedang uangnya habis.

BACA JUGA: Diduga Stress, Pemuda Mengamuk Di Pasar Kalindo, Lukai Beberapa Warga

Bertele-tele membayar dan kasarnya perkataan korban saat ditagih juga membuat pelaku menjadi makin dongkol.

Suatu waktu, pelaku dan korban juga sempat bersitegang, namun berhasil dimediasi oleh Bhabinkamtibas Alalak Utara, Banjarmasin Utara.

Namun ternyata, permasalahan itu tidak benar-benar selesai hingga akhirnya pada hari kejadian, yakni Senin (29/6) malam, pelaku bersama temannya kembali mendatangi korban ke rumahnya untuk mencoba menagih hutang lagi. “Teman saya minta tunggu di sepeda motor saja,” beber pelaku.

Dari rekonstruksi kejadian itu, saat tiba di depan rumah korban, pelaku sempat dibentak korban hingga terjadi cekcok. Korban juga sempat ingin memukul pelaku, namun pelaku menghindar. 

BACA JUGA : Dituding Ajari ‘Ngelem’, Motif Pembunuhan di Gang Inayah Belitung Darat Berhasil Diungkap

Setelah adegan itu, pelaku kemudian lari mengambil senjata air soft gun dan pisau dari dalam jok sepeda motor yang diparkir tak jauh dari halaman rumah korban. Setelah itu pelaku kembali mendatangi korban, dengan senjata yang disimpan dalam celananya.

Hingga tiba kejadian pelaku kembali berhadapan dengan korban. Waktu itu, pelaku menodongkan pistol air soft gun kepada korban.

Namun bukannya takut, korban malah maju dan mencoba merebut pistol air soft gun milik pelaku. 

“Sempat saya tembak sekali, meleset,” kata pelaku.

BACA JUGA: Pelaku Pembunuhan di Belitung Darat Ternyata Residivis Keluar Masuk Penjara

Setelah itu, tarik menarik senjata terjadi antara pelaku dan korban. Perebutan itu terjadi hingga ke luar halaman rumah korban.

Singkat cerita, saat pergumulan itu terjadi, pelaku langsung menusuk korban dengan pisau yang sudah disimpannya dalam celana. “Hingga beberapa kali tusukan, saya tidak ingat, terakhir di bagian pinggang belakang,” terangnya.

Setelah mengalami sejumlah luka tusukan korban sempat kembali ke halaman rumahnya, waktu itu istri korban, Rasidah juga menyaksikan.

“Korban sempat mengangkat baju untuk menunjukan lukanya, waktu itu saya tendang satu kali lagi,” kata pelaku.

Keterangan pelaku tersebut dibantah istri korban, Rasidah. Menurutnya, pelaku sempat berkali-kali menendang korban. “Tidak seperti itu, kamu sempat menendang dan menembak 3 kali, sudah saya katakan untuk berhenti, tapi masih kamu serang,” teriak Rasidah.

“Demi Allah dia berbohong,” timpal pelaku.

Sahut menyahut sempat terjadi, namun hal tersebut berhasil didinginkan oleh pihak kepolisian.

Pada adegan selanjutnya, korban kemudian lari bersama temannya. Sementara korban, sempat ingin mengejar dengan menggunakan sepeda motor namun akhirnya ambruk. Korban pun dibawa ke Rumah Sakit Ansari Saleh Kota Banjarmasin.

BACA JUGA: Sekali Aksi, Empat Penyalahguna Narkotika Diringkus Ditresnarkoba Polda Kalsel

Namun nahas, setelah beberapa jam diberikan penanganan, nyawa korban tak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.

Usai sidang, sembari lirih, Rasidah mengaku bahwa hingga saat ini, dirinya sendiri pun masih terbayang akan kejadian nahas tersebut. “Tidur di rumah saja saya masih tidak berani,” 

Rasidah berharap agar pelaku bisa dihukum dengan hukuman paling berat. “Seumur hidup atau hukum mati saja,” ujarnya diiringi tangis sejadi-jadinya.

Akibat perbuatannya, Irfan pun akan dijerat dengan Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiayaan yang menghilangkan nyawa seseorang. Ancaman hukumannya 7 tahun penjara. (jejakrekam)

Penulis Deden
Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.