Bawaslu Oke

Berburu Rupiah Kuno, Jangan Dianggap Remeh, Uang Pecahan Bisa Tembus Ratusan Juta

0 857

MENYUKAI uang-uang Rupiah kuno dan unik sejak 2016, Khairil Anwar, warga Banjarbaru langsung berburu mata uang dari zaman VOC-Belanda hingga awal kemerdekaan Republik Indonesia dan teranyar yang terbilang antik.

TERBUKTI, kini koleksi pria yang pernah menjadi jurnalis di dua harian lokal di Kalimantan Selatan ini pun, sekarang telah banyak dan cukup lengkap.

Untuk kategori uang kertas, koleksi Khairil sampai kepada uang bergambar Jenderal Sudirman tahun 1968, Soekarno tahun 1960, bahkan seri Bunga tahun 1959, dan beberapa dari seri Hewan Liar tahun 1957.

Sementara uang koin, Khairil memiliki komplet edisi terakhir 2016, hingga uang koin tahun 1945. Bahkan, ia pun menyimpan belasan keping uang berlogo VOC tahun 1790.

BACA : Uang Beredar di Pasar Rentan Jadi Media Penularan Covid-19

“Kalau disebut kolektor, sebetulnya tidak juga. Masih pemula. Hanya sekadar suka saja,” ungkap pria berkaca mata kelahiran Banjarmasin tahun 1986 itu kepada jejakrekam.com, Sabtu (18/7/2020).

Dikatakan Khairil, tidak sulit untuk mendapatkan uang-uang kuno dan unik tersebut. Baik uang Rupiah, maupun uang asing tempo dulu.

“Kita bisa mencari ke orangtua-orangtua dulu, biasanya beliau-beliau itu menyimpan ‘benda pusaka’ ini. Atau bisa kita cari di penjual barang-barang antik. Kalau kita di Banjarmasin ini, ya ada di Pasar Sentral Antasari, tepatnya di Pasar Kasbah atau bisa juga di Pasar Batuah Martapura,” beber Khairil.

BACA JUGA : Hingga Akhir Tahun 2018, Uang Kertas Lama Emisi 1998-1999 Masih Bisa Ditukarkan

Bahkan, menurut dia, di era teknologi informasi sekarang, uang-uang kuno dan unik tersebut bisa dibeli di toko-toko online seperti olx, bukalapak, tokopedia, termasuk juga shopee.

“Kita juga bisa mencarinya di grup-grup medsos terutama facebook. Cari saja grup uang kuno atau numismatik, semua lengkap tersedia. Tinggal sediakan duitnya saja,” ucap Khairil diiringi gelak tawa.

Dijelaskannya, sebagian uang kuno memang berharga tinggi. Seperti pecahan Rp10.000 bergambar Jenderal Sudirman tahun 1968 dan bergambar Barong tahun 1975 yang diharga Rp 700 ribu sampai dengan Rp 2,5 juta per lembar. Begitu pula dengan uang Rp1.000 bergambar Soekarno.

BACA JUGA : Geliat Perjuangan Tanah Banjar di Tengah Keindonesiaan

Termasuk juga uang-uang dengan nomor seri bagus. Misalnya, nomor seri kembar 999999, nomor rendah 000001, dan sejenisnya. Atau juga uang salah potong (misscut) dan salah cetak (missprint).

“Ada lagi yang lebih mahal. Yaitu uang kertas Indonesia seri Hewan Liar tahun 1957. Pecahan Rp 500 sampai Rp 2.500-nya berharga masing-masing Rp 1 juta sampai Rp 3 juta. Adapun yang Rp 25 bergambar Badak, Rp 10 bergambar Rusa, dan Rp 5.000-nya yang bergambar Banteng, hanya dimiliki kolektor kelas atas. Harganya wow. Ratusan juta rupiah per lembar,” terang ayah dua anak tersebut.

Khairil menambahkan, ada banyak faktor yang memengaruhi harga uang-uang kuno. Tiga faktor utama adalah kelangkaan, kondisi uang, dan nilai uang pada saat beredar.

BACA JUGA : Berjibaku Melawan Waktu, Riwayat Kini Pasar Kasbah di Sentra Antasari

Adapun usia uang, tidak terlalu berpengaruh. Karena banyak uang yang secara usia sangat kuno, tapi tak bernilai tinggi. “Contohnya koin VOC yang oleh orang dulu disebut koin Doet (duit). Ini koin lama, tahun 1700-an. Tapi harganya sekarang cukup murah,” ujarnya.

Mengapa bisa begitu? Karena, kata Khairil, keberadaan koin tersebut masih sangat banyak. Itu seiring dengan jumlah cetaknya yang juga sangat banyak di tahun 1700an itu.

“Saya baca di sebuah referensi, terungkap 1 Doet itu sama dengan 1/160 Gulden. Atau 1 Gulden=160 Doet,” sebut Khairil.

BACA JUGA : Mengimpikan Pasar Seni, Pelukis Banua Seakan Dianaktirikan

Gaji pegawai Indonesia bekerja di perusahaan VOC saat itu, diungkapkan Khairil, ternyata sekitar 5,25 Gulden, dan semua dibayar dengan koin Doet, yakni 840 Doet/ orang/ bulan. Di mana, perusahaan kamar dagang milik Belanda itu, ketika itu memiliki sedikitnya 36.000 pegawai.

“Makanya, bisa dibayangkan, ada berapa ratus ribu keping koin Doet yang dicetak dan beredar setiap bulan. Itulah mengapa harganya sekarang sangat murah, sekalipun kuno sekali,” ucap Khairil.

BACA JUGA : Dipesan VOC Belanda, Meriam Eks Benteng Tatas Buatan Pabrik Besi Skotlandia

Lalu bagaimana dengan uang Rp 1.000 Kelapa Sawit yang viral berharga Rp 100 juta  per keping. “Wahahaha, iya. Benar itu. Rp 100 juta per keping, tapi sama kebun kelapa sawitnya,” Khairil tertawa gelak.

Disebutkannya, di kalangan penyuka koin, uang Rp 1.000 kelapa sawit itu berharga normal Rp2.000 sampai dengan Rp3.500 per keping. Kalau benar-benar bening, boleh lah naik harga Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Itu pun dengan pembeli terbatas.

BACA JUGA : Keraton Dibumihanguskan, Belanda Sita Regalia Kesultanan Banjar

“Apalagi, uang tersebut masih belum ditarik oleh BI, atau masih boleh dibelanjakan. Saya sendiri belum lama tadi, menukar koin itu dari seorang ibu di Martapura dengan harga sama Rp 1.000/ keping,” kata Khairil.

“Kata si Ibu, daripada hanya disimpan dalam celengan, mending ditukarkan, lumayan untuk keperluan sehari-hari. Ya, saya bantu tukar sebanyak 1.100 keping. Masih ada tuh uangnya, belum saya apa-apakan. Sayang untuk dijual. Nunggu beneran Rp100 juta per keping dulu,” papar Khairil, kembali tertawa.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor DidI G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.