ACT

Konfrontasi Indonesia-Malaysia; Kalsel Siapkan Manuver Mandau Telabang

0 317

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

BULAN Juni 1964 Konfrontasi Indonesia-Malaysia mencapai suhu terpanas.Pada bulan ini Terjadi bentrokan besar antara gerilyawan Indonesia dan pasukan Malaysia yang didukung Inggris di Sarawak, Borneo Britania.

KONFRONTASI berlangsung sejak tahun 1962 dan mereda pada 1966. Akar awal konflik ini diawali oleh peristiwa klaim federasi Malaysia atas wilayah Brunei, Sabah, Serawak dan Singapura yang akan digabung menjadi Persekutuan Tanah Melayu (tahun 1961).

Peristiwa ini membuat presiden Soekarno dan beberapa negara lain kecewa. Soekarno menganggap pembentukan Federasi Malaysia ini sebagai proyek Nekolim (Neo-Kolonialisme dan Imperialisme) baru di kawasan Asia Tenggara yang dipimpin Inggris. Serta tidak sesuai dengan isi perjanjian Manila (Manila Accord).

Ditambah aksi demonstrasi anti Indonesia pada tanggal 17 September 1963 di Kuala Lumpur. Demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno. Kemudian, membawa lambang Negara Garuda Pancasila ke hadapan Tuanku Abdul Rahman Perdana Menteri Malaysia saat itu dan memaksanya untuk menginjak-injaknya.

BACA : Hassan Basry Pencetus Peristiwa Tiga Selatan, Soekarno pun Dibuatnya Marah Besar

Sejak saat itulah kemarahan Soekarno atas Malaysia mencapai puncaknya yang akhirnya memunculkan komando Dwi Komando Rakyat/Dwikora.

Pasca demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, pada 20 Januari 1963 Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Soebandrio menyatakan sikap bermusuhan terhadap Malaysia.

Sejak saat itulah kemudian muncul istilah “Ganyang Malaysia” dan “Dwikora” yang disebut oleh Soekarno sebagai upaya menjaga martabat Negara Republik Indonesia. Demikian ditulis J. A.C. Mackie (1974).

Melalui Komando DWIKORA pada tanggal 3 Mei 1964 dimana Presiden/Panglima Tertinggi, Soekarno menyerukan konfrontasi dengan Malaysia. Disampaikan pada Apel Besar tanggal 3 Mei 1964. Dwi Komando Rakyat (Dwikora) berisi (1) Bantu perjuangan revolusioner rakyat-rakyat Malaysia, Singapore, Sabah, Serawak dan Brunei,-untuk menggagalkan pembentukan Negara Boneka Malaysia. Kemudian (2) Memperkuat pertahanan Revolusi Indonesia.

BACA JUGA : Opsi Islam Dan Pancasila, Orasi Soekarno Di Amuntai Picu Protes Seantero Negeri

Operasi Dwikora berlangsung sekitar tahun 1964 di sepanjang perbatasan Kalimantan dengan Sabah dan Serawak. ABRI tidak mengirim pasukan secara terbuka. Hanya mengirim gerilyawan-gerilyawan untuk membantu Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) yang berperang melawan pemerintah Malaysia.

Di lain pihak Inggris sebagai sekuru Malaysia, akhirnya menerjunkan pasukan elit SAS (Special Air Services) yang begitu terkenal dunia kemiliteran. Dibantu pasukan Gurkha dan SAS tambahan, dari Selandia Baru dan juga Malaysia.

Konflik ini berdampak besar di seluruh wilayah Nusantara, khususnya Kalimantan Selatan. Komando Mandala Siaga (Kolaga) pun dibentuk. Terdiri atas Komando Mandala I dan Komando Mandala II. Daerah Kalimantan Selatan termasuk Komando Mandala II (Kolada) dengan Panglima Deputy Wilayah Kalimantan, Mayjen Maraden Panggabean.

BACA JUGA : Proklamasi 17 Mei 1949, Perjuangan Borneo Bagian Selatan Menjadi Indonesia

Dalam buku Rentjana Manuver Mandau Telabang yang dirilis Penguasa Pelaksanaan Dwikora daerah Kalimantan Selatan (1965) dipaparkan Pasukan-pasukan sukarelawan dibentuk untuk menyusup ke Wilayah Malaysia Timur (Kalimantan Utara). Antara lain Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PARAKU) di bawah pimpinan Bang Kifli (Zulkifli). Kemudian Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) yang merupakan gerilyawan Komunis.

Selain itu, di seluruh Indonesia sampai ke kampung-kampung disiagakan pasukan perlawanan rakyat. Orasi-orasi dan latihan militer Pertahanan Sipil ditingkatkan dengan efektif. Suasana perang benar-benar disimulasikan. Pada wilayah Kalimantan Selatan, digelar kegiatan gabungan antara kekuatan militer dan rakyat diwujudkan dalam Manuver Mandau Telabang Kalimantan selama 2 (dua) minggu.

Khususnya untuk Kota Banjarmasin sampai ke Kota Martapura selama 24 jam penuh, dijaga oleh Pasukan Pertahanan Sipil dan Perlawanan Rakyat. Jam malam diberlakukan. Bagi yang bepergian pada malam hari harus tahu sandi tanya dan sandi jawab. Tiap hari sandi ini berganti-ganti.

BACA JUGA : Ibnu Hadjar yang Tersisih, Bangkit Bersama Rakyat Tertindas

Celaka bagi yang tidak dapat menjawab sandi akan ditahan dan diinterogasi. Sandi dilakukan dengan suara dan atau isyarat lampu pada malam hari. Kondisi ini begitu mencekam. Karena itu warga sangat berhati hati keluar rumah.

Pada hari akhir persiapan Manuver Mandau Telabang Kalimantan, disimulasikan penuh dengan beberapa kegiatan. Diantaranya serangan pesawat tempur dan pembom musuh ke landasan terbang Ulin dan musuh berhasil menduduki Lapangan Terbang Ulin.

Kemudian serangan balasan dari pasukan Angkatan Bersenjata dengan serangan buru sergap Pesawat Mig-19 dan Mig-21 serta Pembom Ilyushin terhadap kekuatan musuh di lapangan terbang/bandara. Disertai serangan pasukan payung untuk menduduki lapangan terbang. Selanjutnya secara bersamaan diadakan serbuan kekuatan rakyat (Pertahanan Sipil dan Perlawanan Rakyat).

BACA JUGA : Dua Wajah Ibnu Hadjar, Pejuang Revolusi yang Dicap Pemberontak

Dalam skala nasional, keadaan seperti ini membuka peluang bagi PKI untuk mewujudkan kekuatan bersenjata.Meliputi pasukan buruh, tani, nelayan dan lain-lain yang disebut Angkatan Kelima. Perdana Menteri Chou En Lai dari Republik Rakyat Cina menawarkan bantuan senjata ringan sebanyak 100.000 pucuk terdiri atas Tjung, AK 47 dan RPD.

Untungnya, tokoh-tokoh Angkatan Darat seperti Letjen Ahmad Yani dan Jenderal A.H. Nasution, dengan tegas menolak. Alasannya hanya Angkatan Bersenjata sajalah yang boleh memegang dan menggunakan senjata.

BACA JUGA : Pemilu 1955, Ketika NU dan Masyumi Berbagi Kursi di Dapil Kalsel

Walaupun demikian, ternyata secara diam-diam PKI dan ormasnya mendapat dropping senjata beserta instrukturnya. Seperti yang kemudian ditemui di tempat latihan di Lubang Buaya, sekitar Lapangan Udara Halim Perdanakesuma, Jakarta.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.