ACT

Sepanjang Bendungan, Kenangan Memori Kedatangan Soeharto di Riam Kanan

0 614

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

HAMPIR seabad atau tepatnya sekitar 99 tahun lalu, pada 8 Juni 1921, Soeharto dilahirkan. Tanah kelahirannya berada di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, DI Yogyakarta.

DARI anak seorang petani miskin akhirnya menapak sukses menjadi Jenderal Besar TNI hingga menduduki kursi Presiden RI. Kepala negara kedua Republik Indonesia menggantikan Soekarno, menjabat dari tahun 1967 sampai 1998. Tak ada yang belum mengenal sosok yang dikenal Bapak Pembangunan ini. Mulai dari Jakarta hingga ke pelosok negeri.

Tak terkecuali di Kalimantan Selatan. Soeharto sering berkunjung ke Banua, mulai dari kunjungan resmi hingga kunjungan pribadi. Konon presiden yang lekat dengan dunia klenik ini sering datang, hanya ditemani pengawal pribadinya ke Kalsel.

Tujuannya beragam. Mulai dari silaturrahmi ke seorang tokoh di Tamban, kunjungan diam-diam ke Mandiangin hingga ke pesolok Borneo.

BACA : PM Noor, Bapaknya Para Pejuang Kalimantan; Hassan Basry dan Tjilik Riwut

Terlepas dari itu, presiden yang mendapat julukan The Smiling General ini menyisakan banyak kenangan di wilayah selatan Borneo. Sebut saja pada momentum peresmian Bendungan/Waduk dan PLTA Riam Kanan tahun 1973. Bendungan yang kemudian berubah nama menjadi PLTA Ir.P.M.Noor,pada 19 Januari 1980.

Kilas balik, pembangunan waduk ini dimulai pada 1958 silam, diprakarsai Ir Pangeran Mochamad Noor yang merupakan Gubernur pertama Kalimantan Selatan.Kemudian mantan Menteri Pekerjaan Umum di era Presiden Soekarno (Orde Lama).

Menurut beberapa versi bendungan ini setelah eksplorasi awal tahun 1958, pembangunannya dimulai secara resmi tahun 1963 dan selesai pada tahun 1973. Pembangunan megaproyek yang menelan korban jiwa dan insiden penenggelaman kampung di Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar.

BACA JUGA : Elegi Tanah Banjar; Bak Ayam Mati di Lumbung Padi

Setelah sempat terkendala karena peristiwa G30 S tahun 1965-1966, akhirnya pembangunan ini dilanjutkan pada masa Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto. Waduk tersebut akhirnya selesai. Kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto yang datang ke Banjarmasin pada 30 April 1973.

Dalam buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973” dituliskan bahwa pada hari Senin, 30  April 1973, Presiden Soeharto meresmikan bendungan dan PLTA Riam Kanan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Dari kota Banjarmasin, proyek ini berjarak sekitar 45 menit dengan mengendarai mobil. Dalam upacara peresmian tersebut, Nyonya Tien Soeharto melepaskan bibit-bibit ikan di Bendungan Riam Kanan.

BACA JUGA : Mengenang Sejarah Imbas Supersemar di Kalimantan Selatan

Dalam pidato sambutannya, Kepala Negara mengatakan bahwa perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam pembangunan di daerah-daerah selama ini mencerminkan keterbatasan kemampuan kita. Keterbatasan kemampuan itu mengharuskan kita menentukan prioritas pembangunan secara tepat. Demikian dikatakan Presiden Soeharto.

Demikian pula dalam buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, dituliskan Presiden selesai upacara peresmian memberikan penghargaan kepada beberapa orang karyawan proyek yang mengalami kecelakaan selama dalam melaksanakan tugasnya. Kemudian dengan berkendaraan mobil, Presiden Soeharto bersama rombongan akan meninjau Power House PLTA Riam Kanan.

BACA JUGA : Hassan Basry Pencetus Peristiwa Tiga Selatan, Soekarno pun Dibuatnya Marah Besar

Turut serta bersama Presiden Soeharto, Menteri PUTL Ir. Sutami, Menteri Pertanian Prof. Ir. Tojib Hadiwidjaja, Menteri Penerangan Mashuri SH, Menteri/Sekretaris Negara Sudharmono, Dubes Jepang di Jakarta, Dirjen PMD Soedarmo Djajadiwangsa, Aspri Presiden Letjen R. Surjo dan Mayjen Tjokropranolo.

Selain itu juga hadir Gubernur Kalimantan Selatan, Kolonel Soebardjo. Pada saat diresmikan bendungan ini memiliki sudah memiliki 2 unit mesin pembangkit listrik dengan kapasitas masing-masing 10 MW.

Presiden Soeharto pada kesempatan itu juga mengemukakan bahwa selesainya proyek serbaguna Riam Kanan akan memberikan kesempatan kepada daerah Kalimantan Selatan untuk memajukan ekonominya. Kemudian meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan masyarakatnya.

BACA JUGA : Kisah Saudagar Banjar dan Monopoli Pelayaran KPM Belanda (3)

Dengan selesainya proyek serbaguna itu maka tenaga listrik untuk daerah tersebut, bertambah besar. Banjir yang selalu mendatangkan kerugian dapat dicegah, air yang diperlukan untuk pengembangan pertanian di daerah hilir mulai dapat diatur.

Kemudian, di waduk yang besar itu perikanan dapat dikembangkan, lalu lintas air di daerah hulu akan makin lancar dan dengan berbagai usaha kepariwisataan akan dapat dihidupkan.

Proyek Serbaguna Riam Kanan di Kalimantan Selatan itu diselesaikan dengan bantuan pemerintah dan rakyat Jepang. Untuk itu, Presiden Soeharto telah menyampaikan ucapan terimakasih.  Setelah peresmian, presiden dan rombongan mengunjungi beberapa tempat hingga akhirnya kembali di Ibukota Jakarta, Senin sore.

BACA JUGA : Jejak Sunyi Jalan Spritual Sang Guru Politik NU, Idham Chalid

Waduk Riam Kanan adalah salah satu waduk terbesar di Kalimantan Selatan yang ada di Aranio, Aranio, Banjar. Waduk buatan yang dalam pembangunannya memakan waktu selama 10 tahun ini dibangun dengan membendung 8 sungai yang bersumber dari Pegunungan Meratus.

Hingga akhirnya, ada 9 desa yang kemudian ditenggelamkan di area seluas 9.730 hektare tersebut. Karena ditenggelamkan, akhirnya penduduknya menyebar ke Desa Tiwingan Lama, Tiwingan Baru, Liang Toman, Kalaan, Banua Riam, Bunglai, Bukit Batas, Apuai, Rantau Bujur, Balangian dan lain-lain.

Dalam proses pembuatan bendungan itu juga melibatkan hingga 3.000 orang pekerja dari seluruh Indonesia, termasuk dari Jepang. Tenaga ahli dari teknik sipil, teknik mesin dan teknik listrik juga terlibat dalam megaproyek era Orde Baru itu.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.