ACT

Simpang Siur Covid-19

0 216

Oleh: dr. IBG Dharma Putra, MKM

SIMPANG siur itu mengesankan adanya gerakan tidak beraturan yang terjadi dari arah depan, dari arah belakang, dari arah kanan, dari arah kiri, dan dari semua arah disaat yang bersamaan.

SIMPANG siur juga menciptakan suasana yang ruwet, sangat riuh, penuh ketidak jelasan, bernuansa kekhawatiran bahkan ketakutan, kebingungan dalam ketidak pastian dan menjadi sumber stres dan kegilaann

Simpang siur covid-19, mirip dengan suasana tersebut, karena percampuran berita yang benar dengan yang salah, yang baik dengan yang buruk, dari sumber berita yang jelas dan tidak jelas, dari pemberitaan atau sekedar informasi, membawa akibat yang tidak terlalu baik bagi masyarakat.

Ada berbagai kebingungan yang timbul dari simpang siur covid 19 dan kebinggungan itu, berujung pada polarisasi sikap dan perilaku anggota masyarakat. Sebuah polarisasi yang sangat tidak menguntungkan pengendalian penyakitnya.

Berbagai polarisasi dari ujung ketakutan sampai dengan meremehkan keberadaan covid bisa ditemukan di masyarakat. Anggota masyarakat yang patuh mengikuti ketentuan sebanding dengan yang belum mematuhinya dengan berbagai alasan.

Polarisasi berakibat penyikapan dan perilaku yang beragam, masyarakat menyikapi protokol pengendalian penyakit secara sendiri sendiri, padahak penyikapan yang serentak dan seragam sangat dibutuhkan untuk keluar dari pandemi ini.

BACA JUGA: Siapkah Masyarakat Kita Berdamai dengan Covid-19?

Tidak ada kata lain, yang bisa menyelesaikan simpang siur covid-19 ini, selain ketegasan, keterbukaan dan kepedulian pemerintah kepada masyarakatnya. Ketegasan, keterbukaan dan kepedulian yang didukung oleh sektor swasta untuk penyediaan sapras pengendalian covid 19 yang lebih murah dengan mutu yang baik serta kemandirian dan kepatuhan dari masyarakatnya.

Untuk menciptakan kondisi kepemerintahan yang baik itu, sekaligus sebagai fondasi untuk mempersiapkan kiprah kepemerintahan yang stabil di era normal baru, sebaiknya kita mulai belajar menyaring berita serta informasi dan mengurai segala simpang siur covid 19.

Ada berbagai langkah yang bisa dilakukan untuk mengurai benang kusut kesimpang siuran tersebut, antara lain.

  1. Mencoba mengelompokan pemberitaan, yang dikeluarkan oleh media cetak, media elektronik, media online dengan sekedar informasi dari media sosial. Pemberitaan punya aturan baku sehingga lebih bisa dipercaya dibandingkan dengan sekadar informasi saja.
  2. Mencoba mengetahui kapasitas dan kompetensi sumber informasi. Karena topik pembicaraan seharusnya nyambung dengan pembicaranya. Seorang virolog, epidemiolog, selayaknya bisa lebih memberi informasi yang lebih benar jika dibandingkan dengan seorang manajer, jika berbicara tentang karakter virus atau tentang wabah. Dalam kondisi seperti itu maka seorang cendikiawan, diharapkan menjaga etika dan mempunyai self kontrol, untuk tidak berbicara di luar bidang keilmuannya. Karena sebagian besar anggota masyarakat belum tentu tahu, bidang keilmulan cendikiawan dimaksud dan hanya akan menempatkannya sebagai pendapat ahli dan langsung dipercaya.
  3. Memahami bahwa kompetensi dan kapasitas penanggulangan covid 19, berada di tangan pemerintah dan dilaksanakan terkolaborasi secara global dibawah kordinasi WHO, sebagai badan kesehatan dunia. Dan hal tersebut bukanlah hal yang aneh, karena sudah merupakan kelaziman tata laksana kesehatan dunia, yang berlangsung serta disepakati sejak awal. Karenanya, semua anggota masyarakat sebaiknya tidak ragu serta dapat percaya, untuk berada dalam satu kesatuan komando didalamnya.
  4. Bedakanlah informasi atau berita yang menyoroti konspirasi keilmuan dan konspirasi bisnis. Sampai saat ini, belum tebukti adanya konspirasi keilmuan untuk merekayasa keberadaan virus covid 19. Berbagai naskah ilmiah bisa menjadi bukti dari lemahnya tudingan konspirasi ilmiah tersebut. Dan terbukti secara teoritis maupun emperis bahwa berhadapan covid tak boleh main main dan covid harus dikendalikan dengan jara jarak, bermasker serta rajin cuci tangan. Sedangkan konspirasi bisnis bisa saja terjadi, dan sudah mulai terbukti dengan adanya penumpukan masker untuk menaikkan harganya, dan lain lain.
  5. Memahami bahwa pandemi adalah masalah global. Dengan demikian keterbukaan informasi antar wilayah didalam sebuah negara dan antar negara didalam kordinasi WHO, adalah sebuah kewajiban, kecuali untuk sebuah wilayah atau negara yang tertutup ( tak ada di dunia saat ini ).
  6. Virus adalah ciptaan Tuhan yang sangat kecil, sangat rumit dan sangat komplek. Saking rumit dan kompleknya, maka tidak semua laboratorium mampu dan punya kapasitas untuk menangganinya. Untuk itulah, diperlukan kesabaran tingkat tinggi dalam pengelolaan penyakit yang disebabkan oleh virus. Kesabaran identifikasi karena untuk mengetahui serta memastikan etiologinya diperlukan waktu yang agak lama serta terkadang berbelit. Percayakanlah hal tersebut kepada ahli virus ( virologi ) dan bukan kepada yang lain.
  7. Pandemi covid 19 adalah peristiwa alami akibat mutasi genetik disertai dengan mekanisme lain dan belum terbukti secara ilmiah sebagai sebuah rekayasa, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  8. Secara ilmiah covid terbukti tidak direkayasa, karena reseptornya sangat efektif sehingga hanya mungkin terjadi dari hasil seleksi dan mutasi dialam dan struktur intinya sangat berbeda dengan virus sejenis yang sudah ada. Seperti sepeda dengan mobil. Sepeda mungkin saja direkayasa menjadi sepeda motor tapi sangat sulit direkayasa jadi mobil ( untuk pernyataan ini, boleh diklarifikasi ke virolog ).
  9. Jangan main main dengan covid 19, virus ini sangat menular, sangat mudah menimbulkan penyakit, dengan tingkat kematian rendah dan tak mudah menimbulkan reaksi untuk meningkatkan daya tahan di tubuh kita. Karenanya hindari kerumunan, jaga jarak dan pakailah masker.
  10. Yang terbaik, tinggal di rumah, secara serentak bersama sama, dalam 14 hari saja. (jejakrekam)

Penulis adalah Direktur Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Sambang Lihum | Epidemiolog Kalimantan Selatan

(Isi dari artikel ini sepenuhnya tanggungjawab penulis bukan tanggung jawab media)

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.