ACT

Ramai ‘Indonesia Terserah’, Psikolog: Lelah Mental Lebih Bahaya daripada Fisik

0 208

BEBERAPA hari terakhir ini, seruan ‘Indonesia Terserah’ dari tenaga medis menjadi ramai di media sosial. Bahkan, sejumlah pejuang di garda terdepan di Kalimantan Selatan pun turut menggaungkan kalimat tersebut.

KALIMAT dengan tagar Indonesia Terserah tersebut dianggap sebagai bentuk kekecewaan dari tenaga medis terhadap masyarakat yang acuh dengan situasi pandemi saat ini.

Itu berawal dari adanya kerumunan massa saat penutupan McD Sarinah dan keramaian di terminal Bandara Soekarno-Hatta pada yang terlihat tidak memperhatikan physical distancing.

Kejadian menjengkelkan tersebut juga terlihat di beberapa pusat keramaian di Banjarmasin yang turut viral di media sosial beberapa waktu terakhir ini.

Namun, beberapa kalangan beranggapan justru unggahan tersebut sebagai bentuk kekecewaan dari tenaga medis kepada pemerintah yang tidak tegas sehingga masyarakat menjadi abai terhadap pandemi Covid-19.

Pakar Psikologi asal Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB), Ceria Hermina, menganggap unggahan tersebut sebagai ungkapan emosi dan rasa lelah tim medis dalam melawan pandemi Covid-19.

BACA: Awasi Warga, Walikota Banjarmasin Minta Poskamling Dihidupkan Lagi Saat PSBB Jilid Tiga

“Mereka berjuang di garda terdepan mengorbankan banyak hal, kemudian melihat masyarakat yang semakin masif masih keluar rumah,” ucap Ceria saat dihubungi jejakrekam.com, Kamis (21/5/2020).

Bahkan, kini warga media sosial seakan mencibir balik ungkapan dari tenaga medis tersebut. Dengan hal itu, Ceria mengaku miris karena empati dari masyarakat kini mulai menipis.

Kondisi tersebut dinilainya mampu menjatuhkan psikis dari tenaga medis itu sendiri. Karena menurutnya, kelelahan akibat tekanan mental bisa membuat pejuang di garda terdepan itu lebih cepat berjatuhan, dibandingkan lelah akibat fisik.

Selain itu, peluang adanya gesekan pun akan rentan terjadi di kalangan masyarakat yang membuat konflik baru di tengah pandemi saat ini.

“Mari kita saling mengingatkan bahwa empati dan simpati harus tetap ada, khususnya terhadap tenaga medis,” pesan dosen muda ini.

Meski begitu, psikolog jebolan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta ini berpendapat, tidak semua tenaga medis saat ini menyatakan kalimat ‘Terserah’. Ia memastikan bahwa di belakang itu masih banyak tim medis yang masih berjuang sebagai garda terdepan.

“Saya yakin kalau pun mereka bilang ‘Indonesia Terserah’ pasti hati nurani mereka tidak menyatakan hal tersebut,” tutupnya. (jejakrekam)

Penulis M Syaiful Riki
Editor Almin Hatta

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.