ACT

Ketika Lagu Banjar Karindangan Nanang Irawan Dipoles Didi Kempot

0 280

TEMBANG Jawa bergenre koplo yang dipopulerkan Didi Kempot bisa menembus pasar musik nasional, bahkan internasional terutama Belanda dan Suriname. Padahal, talenta Banua pun bisa meniru jejak musisi yang dijuluki Lord Didi atau The Godfather of Broken Heart.

LEWAT para pencinta yang tergabung dalam Sobat Ambyar, penyanyi bernama asli Didik Prasetyo yang tutup usia ke-53 tahun pada 5 Mei 2020, memberi kenangan tersendiri bagi musisi dan pencinta musik di Kalimantan Selatan.

Budayawan Banua Taufik Arbain pun mengatakan warga Kalimantan Selatan khususnya penutur bahasa Banjar juga mengenal sosok A Hamid dengan lagu fenomenalnya, Siti Ropeah. Liriknya kocak justru memberi warna dalam khazanah lagu pop berbahasa Banjar, karena bisa mengundang gelak tawa. Sayangnya, kini A Hamid telah tiada, hanya meninggalkan karyanya yang masih dikenang para pendengarnya.

BACA : Banyak Lirik Lagu Banjar Masih Salah dalam Penulisannya

Dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini mengungkapkan hubungan mendiang Didi Kempot dengan musisi Banua sangat erat, dalam turut memperkaya karya musik tradisional di tataran nasional.

“Beberapa waktu lalu, saya mempublis lagu Perawan Kalimantan Mix versi milenial Tommy Kagangan. Ternyata, lagu ini pun naik daun setelah diaransemen apik oleh Didi Kempot,” ucap Taufik Arbain kepada jejakrekam.com, Sabtu (9/5/2020).

Bagi dia, lirik sederhana walau berbahasa Jawa yang digubah Didi Kempot sangat menginspirasi seniman Nusantara, terutama dalam genre dangdut. “Tentu saja, tak terkecuali lagu Banjar yang jauh dari hiruk pikuk daftar penerima anugerah pemerintah. Sebut saja, seperti musisi Banjar Nanang Irawan dan A Hamid,” tutur Taufik Arbain.

Datuk Cendikia Kesultanan Banjar ini berharap dedikasi seorang Didi Kempot bisa ditiru seniman Banjar dalam menangkap inspirasinya.

“Ini demi bisa menegaskan identitas budaya dan bergerak bersama dalam membangun khazanah budaya nusantara  yang beragam,” ucap doktor jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

Bahkan, beber Taufik, lagu Karindangan karya Nanang Irawan tahun 2002 berkolaborasi dengan Didi Kempot dengan judul baru Perawan Kalimantan yang menampilkan lirik dalam bahasa Jawa dan Banjar.

“Tahun 2013, lagu itu dinyanyikan Didi dan Ika Damar. Saya sangat kagum kolaborasi ini, selain keindahan aransemen, marketible, jauh dari itu membangun rasa kebersamaan anak bangsa dan diplomasi kebudayaan yang mengukuhkan keindonesiaan,” paparnya.

BACA JUGA : Kenangan Label Suryanata Record, Lagu Banjar yang Kini Kehilangan Cengkok

Taufik juga mengatakan pernah pada tahun 2014 memberi pertimbangan kepada Kesultanan Banjar agar Nanang Irawan dan A. Hamid diberikan Anugerah Astaprana. Ini karena karyanya mampu menjangkau khalayak Banjar di level akar rumput hingga ke tanah rantau.

“Intinya Didi Kempot harus diakui memang pioner dan menginspirasi menjemput zaman dengan diplomasi budayanya bagi nusantara,” tandasnya.(jejakrekam)

Penulis Ipik Gandamana
Editor DidI G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.