Covid-19 dan Rekonstruksi Zikir Global

0

Oleh : Rosihan Anwar

SABDA Nabi Muhammad SAW : Meratanya azab atau bencana adalah meratanya kejahatan manusia. Sabda Rasulullah SAW ini mengajarkan bahwa sesuatu yang buruk (dalam hal ini virus Corona atau Covid-19 itu) disebabkan oleh hal-hal buruk yang memeranguhinya.

DALAM agama, bencana semacam virus Corona (Covid-19) yang sedang menjadi ancaman atau ‘horor; masyarakat global ini diidentikkan sebagai ujian (eksaminasi) supaya setiap manusia merekonstruksi tingkat “zikirnya” kepada Yang Maha Kuasa.

Di dunia ini, sudah berkali-kali Allah SWT menjadikan beragam bencana sebagai peringatan yang menguji dan mengajak zikir manusia. Ini agar manusia merehabilitasi segala sepak terjang perilaku berpola kekejian atau ragam kriminalitas yang diproduksinya.

Manusia sekarang terbaca sangat liberal dalam menjalani kehidupannya. Mereka memilih apa yang dianggap bisa menyenangkan dan memuaskannya, sehingga terkadang opsi ini paradoksal dan bahkan membusukkan norma-norma etika dan religiusitasnya.

BACA : Triangle Epidemiologi Dalam Memutus Rantai Penularan Covid-19

Manusia itu diingatkan-Nya supaya mengonstruksi jalan kebenaran sebagai jalan penyelamatan dan pencerahan hidup bermasyarakat dan berbangsa. Ketika bencana masih sering dan berlanjut terjadi. Ini bisa saja berarti, mereka belum maksimal membangun hidup berkeadaban atau kebermoralannya.

Relasi kausalitas antara dosa dan bencana, sering disinggung dalam kisah nubuat (kenabian). Bencana secara umum berembrio dari sikap atau sepak terjang manusia. Pepatah menyebut “evil causis evil vallacy” yang bermakna, sesuatu yang buruk bisa terjadi pada manusia akibat pengaruh keburukan yang dilakukannya.

Tidak akan pernah ada keburukan atau bencana yang bersifat sangat istimewa (extra ordinary) yang terjadi di masyarakat, jika di masyarakat ini tidak banyak kejahatan atau ragam perilaku disnormatifitas yang istimewa.

BACA JUGA : Agar Tak Stres Corona, Antropolog ULM Sarankan Jaga Jarak Bermedia Sosial

Dalam Islam,misalnya kita diingatkan oleh sejarah, seperti ada kisah tentang hancurnya sebuah negeri makmur sumber daya alam dan ekonomi yang berubah menjadi melarat karena dosa-dosa penduduknya, khususnya komunitas elitenya.

Di samping itu, ada kisah tenggelamnya manusia akibat mengingkari ajaran Nabi Nuh atau hancurnya kaum Nabi Luth akibat perilakunya yang suka memproduk kekejian (kezaliman) dan amoralitas.

Memang idealnya, dengan berkali-kali Tuhan mengirimkan ujian dan peringatan dalam bentuk banjir, gempa atau gunung meletus, dan sekarang dalam bentuk virus Corona (Covid-19).

Sejatinya, manusia di muka bumi dapat membacanya dengan kebeningan nurani, bahwa dalam konteks makro, ada dosa atau kejahatan besar yang sedang melekat dalam diri masyarakat dan sejumlah elemen bangsa ini, sehingga Tuhan perlu mengingatkan.

Tuhan tidak akan menjatuhkan hukuman tanpa sebab, kalau tidak karena Tuhan bermaksud menguji tingkat ketahanan iman, seperti yang  dialami Nabi Yaqub yang hartanya dimusnahkan hingga terkena penyakit yang membuatnya disingkirkan oleh masyarakat.

BACA JUGA : Tingkat Kematian 11,7%, Teranyar Pasien Covid-19 Kalsel Bertambah Lima Orang

Tentu saja, kita lebih baik berasumsi, bahwa kita bukan seperti Nabi Yaqub yang  bukan dari golongan pendosa, tetapi sepatutnya kita memposisikan diri di antara skenario Iblis.

Tentu, dalam rumus politik Iblis telah menjadikan kita sebagai musuh (objek) abadi yang  harus diseretnya dalam perbuatan angkara, dosa, maksiat, dan zalim, sehingga ketika dalam kehidupan kita ini akrab dengan bencana. Maka identitas yang pantas kita sandang adalah kita sedang atau telah lama menjadi pendosa .

Iklim kehidupan masyarakat tidak akan sarat atau akrab dengan berbagai problem gangguan bencana penyakit serius (Corona), jika dalam kehidupannya lebih sarat penegakan nilai-nilai kebenaran, keadilan, kemanusiaan, dan kejujuran.

Selama nilai-nilai adiluhung tidak digunakan sebagai pondasi kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan, maka masifikasi virus menjadi sulit ditolak bangsa ini. Kalangan elite yang tidak mau bercerai dari keadidayaan dosa-dosa privasi dan strukturalnya akan potensial menghambat kemajuan,  kesejahteraan dan keberkahan negeri ini.

Stigma the biggest moeslem community in the world  misalnya, hanya omong kosong ketika para elitenya tidak punya kesungguhan menceraikan dirinya dari sikap dan perilaku  amoralitas dan dehumanitasnya.

BACA JUGA : Pesan Damai Pemuka Agama Di Banjarmasin Soal Penanggulangan Corona

Krisis sikap bertaubat atas kejahatan dan dosa yang diperbuatnya, meski sudah dikirimi Covid-19 yang mengerikan adalah suatu wujud arogansi pendosa, pasalnya mereka merasa kalau dosa dan kejahatan yang diperbuatnya bukan perbuatan yang dilarang agama, melainkan sebagai aksesoris hedonismenya.

Kecenderungan massifnya Covid-19 mengindikasikan bahwa tingkat produktifitas kejahatan dan kemaksiatan masih menempati ranah superioritas dalam kehidupan masyarakat Indonesia, baik di level individual maupun kelompok.

Kasus korupsi dana penanggulangan bencana alam maupun korupsi jenis lainnya merupakan contoh produktifitas kejahatan yang masih mencengkeram negeri ini.

Nabi Muhammad SAW bersabda:  Meratanya azab atau bencana adalah meratanya kejahatan manusia.

Sabda ini mengajarkan bahwa sesuatu yang buruk (Covid-19) itu disebabkan oleh hal-hal buruk yang memengaruhinya. Covid-19 tidak akan dibuat gampang terjadi dan menyebar, jika para elite selalu rajin menyalehkan dirinya.

BACA LAGI : Ini Saran Pakar Ilmu Kesehatan Masyarakat ULM-UPR Untuk Rencana PSBB Banjarmasin

Ketika sekarang negeri ini dikepung Covid-19 misalnya, maka ini mengindikasikan, bahwa bangsa ini masih gemar menyemaikan dosa di berbagai sektor pembangunan. Tentu saja bukan hanya Presiden dan Wakil Presiden yang harus secara terus menerus mengampanyekan urgensinya konstruksi pemerintahan yang kuat dan saleh.

Namun, sepatutnya semua mesin kekuasaan dari pusat hingga daerah harus secara kolektif membersihkan kejahatan pribadi maupun kelompoknya, khususnya yang mendemagogisasi rakyat.(jejakrekam)

Penulis adalah Aktivis Kemasyarakatan HSU

Lulusan IAIN Antasari Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.