Kekhawatiran

0 272

Oleh : Almin Hatta

KEKHAWATIRAN itu seperti kursi goyong. Ia memerlukan banyak energi dan tidak mengantarkan Anda ke mana pun – Zig Ziglar (Something to Smile About).

KETIKA gudang peluru milik TNI-AL di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, meledak dan terbakar pada suatu pagi puluhan tahun silam, saat bersamaan sedang ada rapat di Gedung Departemen Pertanian yang berjarak sekira satu kilometer dari pusat ledakan.

Ledakan gudang peluru itu berlangsung lebih dari 24 jam. Dalam rentang waktu tersebut ribuan peluru yang tersulut panas api meluncur ke segenap penjuru. Ada yang meledak di udara, tapi tak sedikit pula yang meledak setelah menerpa rumah penduduk, gedung perkantoran, atau bangunan lainnya.

BACA : Ilmuwan Sejati

Khawatir Gedung Departemen Pertanian yang memang masuk dalam radius gawat itu dihantam peluru nyasar, maka rapat tadi pun dipindahkan ke rumah salah seorang petinggi Deptan di kawasan Jatipadang yang jauhnya sekira 12 kilometer dari pusat ledakan.

Tapi, apa kemudian yang terjadi? Gedung Departemen Pertanian itu sama sekali tak disentuh peluru. Sedangkan rumah pejabat tadi justru diterjang sebuah peluru, dan salah seorang peserta rapat itu pun meninggal dunia. Jadi, maut memang tak bisa dihindari, tak bisa ditinggalkan lari. Kalau sudah tiba waktunya, maka nyawa siapa pun pasti direnggutnya!

Usai menyaksikan reruntuhan sebuah pesawat yang jatuh dan terbakar serta merenggut nyawa ratusan orang, seorang pengusaha memutuskan untuk tidak akan naik pesawat terbang lagi. Jika harus bepergian jauh dan tidak ada angkutan darat, ia memilih naik kapal atau speed boat.

Tapi suatu ketika speed boat yang ditumpanginya tenggelam karena bertabrakan dengan klotok, dan pengusaha itu pun meninggal dunia bersama dua penumpang lainnya. Jadi, sekali lagi, maut tak bisa dihindari, tak bisa ditinggalkan lari. Kalau sudah tiba waktunya, maka nyawa siapa pun pasti direnggutnya!

BACA JUGA : Segelas Air

Tapi, intinya bukanlah maut itu sendiri yang memang tak bisa dipungkiri. Melainkan kekhawatiran akan keselamatan diri. Dan, kekhawatiran semacam itulah yang kini melanda kebanyakan orang di seantero dunia terkait wabah virus corona belakangan ini.

Jadi, masalahnya bukan cuma lantaran pesawat terbang bisa jatuh. Bukan pula karena kapal atau speed boat bisa tenggelam. Juga kereta api, bus, dan kendaraan lainnya yang bisa tabrakan atau nyungsep ke jurang teramat dalam.

Kalau demikian, apa perlunya kita khawatir berlebihan naik kendaraan darat, angkutan air, atau pun pesawat terbang? Repotnya, orang tidak cuma khawatir mendapat celaka ketika naik angkutan. Tapi juga tak sedikit yang khawatir dalam mengarungi bahtera kehidupan. Yang masih berstatus pelajar atau mahasiswa, khawatir tak naik kelas atau tak lulus ujian.

Akibatnya, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belajar saja siang dan malam, sampai lupa bahwa kehidupan yang diberikan tidak cuma untuk menuntut ilmu pengetahuan. Mereka bahkan lupa bahwa kebahagiaan masa depan tidak cuma ditentukan oleh tinggi rendahnya pendidikan, melainkan banyak hal lain yang saling mempengaruhi dan berkaitan.

BACA JUGA : Pertarungan Kehormatan

Yang ingin berdagang, selalu dihantui kekhawatiran menderita kerugian. Akibatnya, usaha berjualan tak kunjung dimulai dan hari-harinya berlalu begitu saja tanpa menghasilkan sesuap nasi. Jadi, yang bersangkutan sudah rugi sebelum usaha dagangnya dimulai.

Yang ingin kawin selalu dihantui kekhawatiran tak mampu membiayai rumah tangga. Juga takut tak mampu menyekolahkan dan memanjakan anak sebagaimana mestinya. Akibatnya pinangan tak pernah dilakukan, dan gadis idaman tiba-tiba disunting orang. Kalau sudah demikian, siapa pula yang hendak dipersalahkan?

Karena itu jangan tumbuhsuburkan budaya khawatir ini, apalagi jika sampai berlebihan. Soalnya, dengan kekhawatiran tak akan pernah mengubah keadaan: yang susah akan tetap susah, yang bujangan akan terus membujang sampai rambut ubanan, dan keinginan menimang anak tak akan pernah kesampaikan. Padahal, si anak tak pernah menuntut apa-apa, sebab rezekinya sudah ditentukan pula oleh Yang Maha Kaya.(jejakrekam)

Editor Almin Hatta

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.