Husairi Abdi

Terbenturnya Pancasila dan Agama

0

Oleh : Haris Wahyudianor

BERANGKAT dari sebuah permasalahan yang baru-baru ini terjadi menyangkut dengan landasan dan arah tujuan bangsa indonesia yaitu Pancasila dengan Agama yang mayoritas dianut oleh masyarakat indonesia yaitu Agama Islam.

POLEMIK ini bermula ketika Sukmawati Soekarnoputri yang membanding-bandingkan Bung Karno (Sang Proklamator) dan Rasulullah SAW panutan dan suriteladan Umat Islam. Hal ini tentu menjadi sebuah kecaman keras apalagi itu menyangkut suriteladan agama yang mayoritas dianut warga di Indonesia.

Polemik pun berlanjut ketika Kepala Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi menyatakan bahwa “Agama Musuh Pancasila”dan ada juga salam yang biasanya diucapkan “Assalamualaikum” diganti dengan “Salam Pancasila”. Masalah ini tentu menjadi keresahan masyarakat pada umumnya dan menjadi pertanyaan yaitu “apakah yang dinamakan paham radikalisme sendiri adalah Pancasila?” karena bayangkan saja Pancasila yaitu sebuah landasan bernegara bangsa dibenturkan dengan agama Islam yang dipeluk mayoritas warga negeri ini. Parahnya lagi, yang mengeluarkan pernyataan itu sendiri adalah mereka yang menganut ajaran agama itu sendiri.

BACA : Pancasila Bukan Anak Durhaka

Lebih jauh mengkritisi hal ini, ada beberapa orang berpendapat bahwa “Pancasila itu poin-poinnya telah menggambarkan sebuah nilai-nilai agama”, tapi nyatanya dalam mengeritisi masalah belakangan ini Pancasila menjadi sebuah alat untuk menjatuhkan sebuah keutuhan suatu agama.

Pancasila hanya merupakan arah dan landasan bernegara tidak bisa dimaktubkan ke Agama. Mengutip pernyataan Rocky Gerung (pengamat politik) bahwa Pancasila itu bukan ideologi. Ideologi itu merupakan sebuah kodrat dari lahir seorang manusia sedangkan Pancasila dibilang ideologi negara tapi nyatanya negara itu abstrak, jadi apa yang menjadi ideologi tersebut. Terlepas dari masalah tersebut bahwa Pancasila akan menjadi sebuah radikalisme sesungguhnya yang dapat memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila seharusnya menjadi sebuah pedoman kehidupan bernegara tapi malah menjadi sebuah paham yang menghasilkan sebuah konflik yang melibatkan agama, hal ini yang perlu kita kritisi bersama.

Pengaruh kelompok-kelompok yang tidak bijak mengatasnamakan nama Pancasilais yang dapat merubah tatanan bernegara menjadi sebuah konflik yang besar dalam negara ini. Oleh sebab itu, pemerintah yang gencar-gencarnya membuat sebuah pernyataan “lawan radikalisme” padahal nyatanya yang membuat radikalisme sendiri adalah kelompok-kelompok mereka sendiri.

BACA JUGA : Saya Pancasila(is); Pancasila dalam Narasi Kekuasaan dan Narasi Kebudayaan

Ini sebenarnya tidak mampu dicerna oleh pemerintah,pembuatan BPIP dengan tujuan memberi sebuah kepahaman terkait dengan Pancasila, tapi nyatanya saat ini BPIP malah membenturkan Pancasila dengan agama, seolah-olah Pancasila dimasukkan menjadi ideologi setiap individu.

Kita pahami bersama dulu mendiang Abdurahman Wahid (Gusdur) pernah menyatakan “Pancasila itu hasil dari Ijtima ulama-ulama”.Tapi kenapa Pancasila yang sekarang menjadi lebih prioritas dari agama? Apakah agama yang notabenenya sekarang identik dengan teroris menjadi terbelakangkan dan menjadi kambing hitam sehingga membuat Pancasila menjadi prioritas pertama di negara ini.

Kegaduhan-kegaduhan ini tentu menjadi sangat meresahkan bagi masyarakat indonesia yang mayoritasnya agama Islam. Ketidakmampuan pemerintah membuat sebuah keharmonisan dalam bernegara menjadi salah satu catatan hitam rapor yang dimiliki pemerintah saat ini. Boleh jadi kebijakan dalam pembentukan BPIP menjadi sebuah bumerang nantinya bagi pemerintah, apalagi memaknai Pancasila sering kali dibenturkan dan dibanding-bandingkan dengan agama, dalam hal ini adalah agama Islam sendiri.

Tentu hal ini nantinya akan membuat radikalisme muncul dengan sendirinya bukan berasal dari serang-serangan dari luar tapi berasal dari dalam itu sendiri dan pernyataan Bung Karno pun akan terbukti nantinya yaitu “Perjuangan ku lebih mudah karena mengusir penjajah,tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsa mu sendiri”.Inilah nantinya akan terjadi jika pemerintah tidak mampu untuk menjaga hubungan baik dengan rakyat maka siap-siaplah akan melawan bangsa indonesia sendiri.

BACA JUGA : Peran Pemuda dalam Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Benteng Tantangan Zaman

Tentunya ini menjadi perhatian serius khususnya bagi masyarakat sendiri maupun bagi pemerintah karena apa yang paling penting adalah bagaimana menghidupkan suasana keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjunjung tinggi nilai toleransi.

Untuk itu, sepatutnya pemerintah kembalilah dalam tugas, pokok,dan fungsinya pemerintah dalam melayani masyarakat biarkan  mereka hidup dalam keberanekaragaman agama, budaya, ras maupun golongan.(jejakrekam)

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.