Husairi Abdi

Dari Jalan School Weg, Sukaramai, hingga Hasanuddin HM

0

Kisah dari Sudut Kota Banjarmasin

BAGI warga Banjarmasin tentunya tidak asing lagi dengan jalan Hasanuddin HM, yang membentang mulai bundaran air mancur Simpang Hasanuddin HM (belakang Kantor Bank BCA KCU Banjarmasin) hingga Jembatan Ahmad Yani (Jembatan Dewi).

JALAN Hasanuddin HM diabadikan menjadi nama jalan utama di Kota Banjarmasin sejak tahun 1970-an. Pada masa Hindia Belanda hingga tahun 1942, Jalan Hasanuddin HM bernama School Weg (Jalan Sekolah), karena jalan ini pernah terdapat sekolah bernama Meisje School.

Berdasarkan peta tahun 1945, nama jalan tidak dituliskan secara khusus, hanya terdapat beberapa nomor urut bangunan utama. Diantaranya bangunan theatres (Bioskop), ice plants (Pabrik Es), serta post office (Kantor Pos). Sementara, bangunan yang sama juga terdapat dalam keterangan Peta Kota Besar Bandjarmasin tahun 1970. Akan tetapi dalam peta ini, jalan ini sudah berubah nama menjadi Jalan Sukaramai.

Pada tahun 1979-an, pada wilayah sekitar area Jalan Lambung Mangkurat, tepatnya di depan Kantor Kodim, terdapat simpang tiga. Jalan ini disebut Jalan Hasanuddin HM.

Hasanuddin HM adalah Pahlawan Amanat Penderitaan Rakyat (AMPERA) dari Banjarmasin dan Pejuang Eksponen 66, yang ditembak saat melakukan aksi demonstrasi menyuarakan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) pada 10 Februari 1966, 53 tahun silam.

Pada Jalan Hasanuddin HM, sebelah kiri dan kanan jalan, terdapat toko-toko besar. Sampai wilayah pertigaan, tepatnya di depan Bioskop Ria dulu (sebelumnya bernama Bioskop Rex), merupakan pusat-pusat pertokoan di Kotamadya Banjarmasin.

Sejak tahun 1980-an di kawasan ini terdapat banyak toko serba ada maupun pedagang-pedagang yang menjual dagangannya di sekitar trotoar seperti pedagang-pedagang buku, majalah-majalah, surat kabar, dan lain-lain.

Walaupun terasa mengganggu orang-orang yang memakai jasa jalan tersebut, tapi dulu tak pernah dilarang. Apalagi lokasinya berdekatan dengan Pasar Baru dan pusat perbelanjaan di Pasar Sudimampir.

Masalah lain adalah sempitnya jalan-jalan raya. Pada era itu, penggunaan Jalan Hasanuddin HM masih menggunakan dwifungsi jalan, artinya satu jalan dua arah. Hal ini mengakibatkan jalan itu cepat rusak.

Untuk mengatasinya direncanakan pengaturan jalan yang baik dan benar, dan setelah Jembatan Ahmad Yani beroperasi, maka pengaturan jalan yang baik akan segera direalisir pemerintah. Sayang, belum berjalan dengan baik.

Pada ujung Jalan Hasanuddin HM terdapat Bioskop Dewi (dulu). Di depan bioskop Dewi adalah jalan utama Jembatan Coen yang kemudian berubah nama menjadi Jembatan Ahmad Yani. Memotong arah ke hilirnya, di kiri-kanan ditemukan toko-toko. Dahulu dibangun toko pada tepi Sungai Martapura, tetapi sesudah kebakaran lalu dibongkar.

Dalam awal Pelita III (tahun 1974) diresmikan dan difungsikan penggunaan Jembatan Ahmad Yani atau lebih dikenal dengan nama Jembatan Dewi yang membentang di atas Sungai Martapura. Diharapkan dengan peresmian jembatan ini dapat memperlancar arus lalulintas.(jejakrekam)

Penulis Mansyur Sammy
Editor Almin Hatta

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.