Kutukan Gipsi

0 243

Oleh: Almin Hatta

CERITA dan fakta, terkadang punya kesamaan menakjubkan, meski lokasinya berjauhan dan bahkan beda dunia. Yang satu di alam nyata, satunya lagi cuma hasil rekaan alias khalayan belaka dari si empunya cerita. Pasalnya, sebuah kisah kerap dijalin berdasarkan kepiawaian membaca apa yang ada di balik kejadian, termasuk hasil perenungan terhadap fenomena alam.

TABRAKAN di jalan raya sudah biasa, sebab memang selalu terjadi di mana saja. Bukan cuma tiap hari, tapi boleh jadi tiap jam, dan bahkan sangat mungkin tiap menit terjadi tabrakan.

Tabrakan yang menelan korban jiwa pun bukan lagi peristiwa langka, sebab memang begitulah yang sering terlihat di jalan raya. Bahkan tak sedikit korban yang tewas seketika.

Meski demikian, ulah Afriyani Susanti (29 tahun) yang menabrak belasan pejalan kaki di kawasan Taman Tugu Tani, Jakarta Pusat, beberapa tahun lalu, tetap saja membuat banyak orang terkesima. Bukan cuma lantaran korban tewas 9 orang, tapi terlebih karena ia berkendara di tengah keramaian kota secara ugal-ugalan. Mobil Xenia yang dikemudikannya melaju kencang dengan kecepatan di atas 80 Km per jam.

Maka, kala itu, orang banyak pun mengecamnya, dan bahkan tak sedikit yang minta aparat menegak hukum menjatuhkan hukuman seberat-beratnya. Bahkan ada yang minta ia dihukum mati saja.

Adilkah tuntutan semacam itu? Entahlah, tergantung penilaian orang per orang tentunya. Sebab, tak sedikit pula orang yang menganggap peristiwa mengenaskan itu merupakan kecelakaan biasa, sebagaimana kecelakaan lalulintas lainnya.

Artinya, perempuan itu tak pernah menghendakinya. Di sisi lain, keimanan kita meyakini bahwa maut sesungguhnya hak sepenuhnya Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi, kasus tabrak maut itu hanya ‘cara’ belaka dari dicabutnya nyawa orang. Sebagaimana halnya korban virus Corona yang sekarang terus berjatuhan di mana-mana.

Maka, ada baiknya kita renungkan cerita berikut ini. Sebuah kisah yang terjadi nun jauh di Amerika sana, tapi ada kesamaannya dengan kasus Afriyani tadi.

Suatu hari, Billy Hallek (seorang konselor ternama di New York), mengendarai mobil bersama istrinya. Karena asyik bercanda dengan istri nan jelita, Billy (ia disapa Billy, bukan Hallek), tak melihat seorang perempuan Gipsi yang menyeberang jalan secara tiba-tiba.

Perempuan nomaden itu tewas seketika. Billy pun diseret ke ruang pengadilan. Tapi kesaksian Cary (polisi yang memeriksanya) menyatakan Billy sama sekali tak bersalah. Karena itu, Duncan selaku hakim yang melakukan pemeriksaan awal pada sidang pertama itu menyatakan kasus Billy ini tak bisa diteruskan. Singkat kata, pria paro baya bertumbuh tambun itu bebas dari tuntutan hukum.

Billy pun melenggang riang meninggalkan pengadilan. Tapi tunggu dulu. Ketika akan memasuki mobil, ia dicegat Tandzu Lempke. ‘Tetua’ Gipsi berusia 109 tahun ini menyentuh hidung Billy sembil berseru “kurus!”. Lempke ini tak lain ayah dari perempuan yang tewas ditambrak Billy.

Nah, sejak kejadian itu, berat badan Billy tiap hari turun satu kilogram. Mulanya pria ini senang, sebab ia sudah lama diet tapi tak pernah berhasil mengurangi berat badan. Kebetulan, tanpa diet ia mulai kurusan. Namun, setengah bulan berlalu, ia pun mulai ketakutan. Sebab, berat badannya terus turun, dan tubuhnya mulai kerempeng memunculkan tulang.

Ia lalu menemui Cary dan Duncan.Ternyata, dua koleganya itu mengalami hal serupa. Cary bahkan sudah kurus kering, dan tak lama kemudian meninggal dunia.

Billy pun teringat mistik tentang ‘kutukan Gipsi’, dan karenanya mulai ketakutan. Di sisi lain, tak satu pun dokter yang berhasil mempertahankan berat badannya, meski ia setiap saat menyantap makanan. Tubuhnya sudah kurus kering tinggal kulit pembalut tulang, dan bahkan mulai susah berjalan.

Billy lalu mencari Lempke, minta dimaafkan, minta dicabut kutukan. “Saya benar-benar tak melihat ketika anakmu tiba-tiba menyeberang jalan,” katanya. Tapi, apa jawaban Lempke? “Kalian orang-orang ternama memang tak pernah melihat kami (kaum Gipsi yang dipinggirkan),” ujarnya, sambil menolak memaafkan.

Maka, Billy pun melanjutkan perjalanan panjang kehidupannya dengan penuh penderitaan. Begitulah potongan cerita dari film yang ditayangkan sebuah stasiun televisi dua pekan silam. Apa judulnya, siapa para pemainnya, kiranya tak terlalu penting dikemukakan.

Begitu pula ending ceritanya, tak menarik lagi dinantikan. Demikian juga halnya mengenai kebenaran ‘kutukan Gipsi’, tak perlu diperdebatkan. Sebab, memang begitulah kenyataannya. Siapa pun yang telah menyebabkan orang lain sampai meninggal dunia, pasti mengalami penderitaan tiada tara.

Karenanya, hukuman fisik semisal penjara, berapa pun lamanya, tak lebih dari sekadar penanda belaka. Sebab, hukuman yang sesungguhnya adalah penderitaan batin nan tak kunjung reda.(jejakrekam)

Editor Almin Hatta

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.