Husairi Abdi

Haul Abah Guru Sekumpul: Memuliakan Guru, Maasi Papadahan Sidin

0

Oleh: Mahrita Julia Hapsari

BUMI Lambung Mangkurat adalah rahim para ulama kharismatik. Sebutlah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kelampaian yang terkenal dengan kitab Sabilal Muhtadin. Syekh Seman, ulama dan mufti kesultanan Banjar. Datu Sanggul dan Datu Nuraya dari Rantau. KH Muhammad Arifin Ilham yang terkenal dengan majelis dzikirnya. Dan masih banyak lagi.

ADALAH KH Muhammad Zaini Abdul Ghani, zuriyat Datu Kelampaian. Beliau adalah salah satu ulama Banua yang kharismatik. Gelar Abah Guru Sekumpul menambah rasa kedekatan pada sosok beliau. Isi ceramah yang beliau sampaikan, sarat dengan pelajaran dan hikmah.

Hingga ketika beliau wafat pada tahun 2005 lalu, masyarakat Banua pun merasa sangat kehilangan. Untuk itulah setiap tahunnya diadakan haulan abah guru Sekumpul. Jumlah jamaah haul yang hadir semakin bertambah setiap tahun. Bukan hanya masyarakat Kalsel tapi juga dari Kaltim atau Jawa dan provinsi lainnya, bahkan luar negeri ikut hadir di haulan.

Secara fitrah, manusia selalu ingin memuliakan orang yang memiliki kemampuan melebihi dirinya. Apatah lagi dalam bidang keilmuwan agama. Guru memiliki kedudukan yang mulia. Pewaris Nabi adalah gelar bagi ulama, guru yang menyampaikan ilmu. Lisannya berisi pengajaran dan ilmu yang bermanfaat. Segala tindak tanduknya menjadi teladan bagi murid-muridnya.

Betapa tingginya kedudukan ulama dalam agama ini. Rasul SAW memberi perumpamaan terangkatnya ilmu bersama dengan wafatnya seorang ulama. Sebagaimana sabda beliau: “Sesungguhnya Allah Taโ€™ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hambaNya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari).

Sebagai murid, wajib bagi kita memuliakan guru-guru kita. Caranya: pertama, membalas kebaikannya. Jika tak menemukan hal setimpal untuk membalas jasa guru, ucapkanlah Jazakallaahu khairan kepada guru. Artinya, semoga Allah membalas dengan kebaikan. Kedua, memujinya dengan tidak melebihi pujian kepada Allah dan Rasul.

Ketiga, mendoakan kebaikan untuk beliau. Keempat, mengamalkan apa yang beliau ajarkan. Rasulullah saw bersabda: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doโ€™a anak yang sholeh.” (HR. Muslim No. 1631).

Abah guru Sekumpul meninggalkan banyak ilmu yang bermanfaat untuk kita. Semestinya kita amalkan agar dapat menjadi aliran amal saleh untuk beliau. Meskipun beliau sudah meninggal. Bukankah Rasulullah saw. telah mengatakan hal yang demikian?

Dalam salah satu video ceramah sidin (https://youtu.be/vM6mnbjubxw), Abah Guru Sekumpul mengatakan bahwa Indonesia ini milik Allah. Bukan milik perseorangan. Jadi, wajib kita memakai aturan Allah. Kacaunya negara karena Allah marah. Marahnya Allah karena hukum Allah dilanggar, titik. Kalau ingin Indonesia dan lain-lainnya ini aman, kembalilah pada hukum Allah. Selesai masalahnya. Itu papadahan Guru Sekumpul.

Sidin mengajak kita semua berpikir, kenapa sekarang banyak orang menolak hukum Allah? Padahal kita semua adalah milik Allah, bahkan diri kita pun adalah milik Allah. Kenapa hukum Allah dianggap keras dan kejam? Lalu kada mau diterapkan. Nah, gara-gara kada memakai aturan Allah Inilah lalu kita kacau. Ujar abah guru Sekumpul.

Merenungi papadahan sidin sambil memperhatikan kondisi negara kita. Bujur banar apa yang Abah guru Sekumpul padahakan. Kita saat ini memakai aturan buatan sendiri, bukan aturan Allah. Akhirnya ketidakadilan dirasakan merata di seluruh negeri. Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Malah bergeser, tajam ke muslim dan tumpul ke rezim.

Syariat Islam dituduh intoleran. Para aktivis dakwahnya dituduh radikal. Sementara para koruptor dan penjual aset bangsa masih bisa menari di atas penderitaan rakyat. Para penikmat kemaksiatan masih asyik masyuk di dunia gemerlap tanpa ada yang bisa mencegah dan menasehati. Tersebab atas nama HAM, berbuatlah mereka sesuka hati, tanpa aturan.

Wajar jika akhirnya Allah marah. Marahnya Allah menjadi bencana dan musibah bagi manusia. Gempa dan tsunami menghempas kehidupan kita.

Kerakusan manusia yang mengeruk SDA tanpa aturan Allah. Allah juga marah. Allah biarkan alam menghukum manusia. Ketidakseimbangan cuaca karena deforestasi hutan. Hujan turun menjadi banjir bandang, bukan rahmat. Musim kemarau membawa asap tebal kebakaran hutan. Cekungan besar akibat pengerukan tambang menjadi musibah longsor dan sulitnya air bersih.

Pada tataran sistem sosial, Allah turunkan makhluk-makhluk sangat kecil untuk membuat kekacauan. Hanya sebuah virus, mampu membunuh manusia. HIV/AIDS mengancam manusia pelaku seks bebas dan LGBT. Virus Corona merebak di kehidupan manusia yang tak mau ikut aturan Allah soal makanan.

Tentu kita tak ingin senantiasa berada dalam kondisi kacau. Untuk itu, mari kita kembali pada aturan Allah, agar Allah ridho pada kita dan menurunkan keberkahanNya. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-A’raf ayat 96 bahwa Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi bagi penduduk negeri yang beriman dan bertakwa.

Kalau kita benar-benar cinta pada Abah Guru, memuliakan sidin, maka kita harus maasi papadahan sidin. Bersama kita amalkan apa yang sidin ajarkan: wajib taat pada syariat Allah. Wallahu a’lam.(jejakrekam)

Penulis adalah praktisi pendidikan

Pencarian populer:membuat pidato haul abah guru sekumpul
Editor Andi Oktaviani

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.