Pertarungan Kehormatan

0 189

Oleh: Almin Hatta

DALAM setiap pertandingan atau perlombaan selalu memunculkan pemenang dan pecundang. Si pemenang tentu saja bergembira-ria, dan boleh jadi sampai menepuk dada. Lalu, si pecundang bagaimana? Haruskah ia menyesali atau bahkan menangisi kekalahannya?

TERSEBUTLAH dua prajurit marinir diajukan ke mahkamah militer dengan tuduhan pembunuhan terhadap dua orang rekan mereka sesama prajurit marinir pula.

Berdasarkan bukti-bukti yang ada, dua prajurit marinir itu hampir bisa dipastikan terbukti bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan. Tapi, pembela mereka yang dari kalangan marinir pula berusaha sekeras-kerasnya untuk mengungkapkan fakta sebenarnya.

Melalui sidang yang panjang, tegang, dan sangat melelahkan, akhirnya terungkap bahwa dalang dari semua itu adalah Sang Kolonel atasan mereka. Sang Komandan ini, yang semula cuma jadi saksi, akhirnya ditahan dan kemudian dinyatakan sebagai tersangka utama.

Akan halnya dua prajurit tadi, oleh mahkamah militer dinyatakan tidak terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan. Meski demikian, keduanya tetap dinyatakan bersalah sebagai prajurit yang berkelakuan buruk. Karena itu mereka tetap dijatuhi hukuman, yakni dipecat secara tak terhormat dari korp marinir.

Dua prajurit marinir yang bebas dari ancaman hukuman mati atau minimal 20 tahun penjara sebagaimana tuntutan oditor itu, mulanya tak terima. Dua prajurit marinir yang sangat yakin tak bersalah itu bahkan sangat berang, sebab harus keluar dari korp ketentaraan yang sangat mereka banggakan.

Melihat kemarahan mereka, si pembelanya dengan tenang dan lembut berkata. “Kalian tak perlu menjadi tentara kalau cuma untuk memperoleh kehormatan semata,” ujarnya.

Mendengar itu, dua prajurit yang sudah patah semangat tersebut mendadak terpana. Diam, agak lama. Lalu, “Siap, Pak,” kata mereka serempak sambil berdiri sempurna dan menyilangkan tangan kanan di depan wajah sebagai tanda penghormatan kepada sang pembela yang memang berpangkat lebih tinggi dari mereka.

Sesaat kemudian, keduanya tersenyum cerah sembari, lalu melangkah tegap meninggalkan ruang sidang untuk selanjutnya menapaki kehidupan secara terhormat di tengah masyarakat, meski tak lagi sebagai anggota tentara.

Cerita memukau di atas merupakan ringkasan film yang ditayangkan salah satu stasiun televisi pada selepas tengah malam Minggu kemarin.  

Jadi, inti dari pertarungan panjang yang bernama kehidupan ini, termasuk pertarungan memperebutkan jabatan di pemerintahan, termasuk pertarungan pilkada yang sekarang siap-siap digelar di sejumlah provinsi dan kabupaten/kota, cuma kehormatan. Ya, ‘cuma’ sebuah kehormatan. Kalah atau memang itu urusan yang ke sekian, yang penting kehormatan tak tergadaikan.(jejakrekam)

Editor Almin Hatta

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.