Husairi Abdi

Terbanyak Siswa Disibilitas, Zona Sekolah Aman Digarap di Kelurahan Gadang

0

DIREKTUR Eksekutif Komunitas Kampung Kita (Kaki) Kota Banjarmasin, Muhammad Syahreza memastikan perwujudan kota ramah terhadap penyandang disibilitas akan terus digarap bersama komunitas lainnya di ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

KALI ini, proyek percontohan (pilot project) yang digarap Kaki Kota Banjarmasin bersama Kota Kita Solo membidik kawasan Kelurahan Gadang atau Kampung Gadang, Banjarmasin Tengah guna mewujudkan zona sekoalh aman atau zona selamat sekolah.

“Pilot project ini merupkan bagian dari program Banjarmasin Inklusif. Ada lima pilot project di dalamnya. Kami gagas besama setelah Banjarmasin merupakan salah satu kota dari 10 kota di dunia yang memenangkan Transformatif Urban Mobillity Innitiave (TUMI) Challenge 2019,” ucap Syahreza kepada jejakrekam.com, Minggu (26/1/2020).

BACA : Luncurkan Roadmap Kota Inklusi, Walikota Ibnu Sina Diundang Berbicara di Malaysia

Usai memenangkan TUMI Challenge 2019, Syahreza mengungkapkan Banjarmasin akhirnya mendapat soongan dana dari Pemerintah Federal Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH (GIZ).

Ia menjelaskan mengapa Kelurahan Gadang dipilih, karena  di kelurahan ini terdapat dua Sekolah Negeri Inklusi yakni SDN Gadang 2 dan SMPN 10 Banjarmasin.

“SDN Gadang 2 memiliki 66 orang siswa disabilitas atau SDN terbanyak yang memiliki siswa disabilitas di Banjarmasin. Sedangkan, SMPN 10 Banjarmasin memiliki 18 siswa disabilitas. Hal ini tentu mengejutkan semua orang,” ucap Syahreza.

Menurut dia, kawasan Jalan AES Nasution yang lumayan kecil pada jam-jam masuk dan pulang sekolah harus dikerumuni ratusan siswa SD dan SMP, belum lagi ditambah dengan orangtua yang mengantar atau menjemput anak mereka.

“Ketidakteraturan arus lalu lintas di area ini, membuat kami terpanggil untuk bisa menuntaskannya. Semoga saja, bantuan semua pihak bisa mewujudkan hal ini,” kata aktivis muda.

BACA JUGA : Dorong Kota Inklusi, Banjarmasin Masuk 10 Besar Global Urban Mobility Challenge 2019

Syahreza menjelaskan selain ada nilai plus, yang wajib disyukuri adalah untuk pendampingan dan desain pilot project ini, mendapat dukungan dan bantuan Urban+Institute Jakarta.

“Urban+Institute adalah pemenang utama desain ibukota baru yang diumumkan Bappenas awal tahun ini. Hal ini menjadi bukti bahwa banyak lembaga dan perorangan yang peduli pada Banjarmasin,” cetusnya.

Menurut Syahreza, isu Inklusif tidak hanya milik kalangan tertentu akan tetapi merupakan milik bersama setiap lembaga dan setiap orang.(jejakrekam)

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.