Bersisian dan Menyuarakan Kegelisahan Hilangnya Romantisme Masa Lalu

0 98

PAMERAN karya lukis Bersisian di Sanggar Seni Rupa Sholihin, Taman Budaya Kalimantan Selatan, telah berakhir pada Selasa (21/1/2020). Usai berlangsung lebih dari dua pekan sejak Sabtu (5/1/2020) lalu, banyak kesan tersendiri bagi pengunjung.

IWAN dari Makassar, misalkan mengaku takjub ternyata Banjarmasin lebih maju dari dunia seni rupa. Ia pun mengaku datang jauh-jauh dari ibukota Sulawesi Selatan, setelah mendapat informasi dari media sosial facebook (FB).

“Kalau di Makassar, biasanya pameran lukisan itu gelas Galeri Nasional (Garnas) di kawasan Pantai Losari. Beda di Banjarmasin, sudah punya sanggar lukis sendiri,” ucap Iwan kepada jejakrekam.com, Selasa (21/1/2020).

Iwan yang juga pelukis ini mengaku menikmati karya seni dua pelukis Kalsel berbeda genre, Ahmad Noor konsisten dengan aliran realisme atau realistik menangkat keseharian warga Kalimantan Selatan. Sedangkan, pelukis generasi milenial yang juga mahasiswi seni rupa di Universitas Negeri Malang (UNM), Mawiyatul Hasanah atau Maui, dengan aliran pop art, bahkan lebih ke potret Manga ala Jepang.

BACA : Potret Lukisan Hitam Putih di Tengah Minimnya Apresiasi Seni Warga Banjarmasin

“Ada kegelisahan bagi saya dalam menuangkan lukisan di atas kanvas, baik cat arkilik maupun minyak, ketika makin tergusurnya kearifan lokal khas Kalsel,” ucap Ahmad Noor.

Pelukis kawakan ini mengaku inspirasi lukisan didapat dari kegiatan hunting foto ke berbagai tempat, terutama bantaran sungai dan panorama alam Kalsel yang masih mengesankan.

“Makanya, saya senang bisa tampil berbeda dengan pelukis muda Maui. Ada 18 lukisan yang saya pamerkan. Semua bercerita tentang alam dan kearifan lokal yang kini tengah terancam,” ucap pelukis asal Banua Anyar ini.

Ahmad Noor bukan sekali ini mengikuti pameran. Sejak 2015, pameran di Balai Kota Banjarmasin bertema Mengaji Warna Damai di Kota Seribu Sungai, pameran Banjarmasin Kota Budaya (2016), Pameran Seni Rupa Nusantara di Manado, Jakarta, Palangka Raya, Samarinda, hingga ke Sanur Denpasar Bali turut diiikutinya.

“Seperti potret seorang nenek yang tampak menerawang lesu, karena di belakang alam masih terbentang bagus. Namun, pandangan ke depan, alam menjadi rusak akibat keserakahan manusia dengan tambang yang merusak,” tutur Ahmad Noor.

BACA JUGA : Galeri Lukis Nanang M Yus, Jawaban dari Impian yang Diabaikan Pemda

Ia mengakui lukisan sang nenek di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) belum rampung. Sedangkan, lukisan lainnya bertema Pasar Terapung Kuin dan Lok Baintan, hingga kegelisahannya anak-anak zaman now tak lagi bisa menikmati permainan layang-layang, melunta, atau mandi di sungai.

“Mereka seperti tersedot menggemari gawai hingga melupakan permainan yang justru lebih mendidik. Ya, semua itu mengakibatkan anak akan asyik dalam individualisme,” ucap Ahmad Noor.

Ia juga menggambarkan satu lukisan tenang kucing dan ikan yang bisa bersama. Padahal, keduanya adalah sang pemangsa dan mangsa. Menurut Ahmad, ada pesan moral bahwa kesetaraan dan kebersamaan bisa membuat damai sebuah kehidupan.

“Memang, banyak lukisan saya menggambarkan romantisme masa lalu. Sebuah masa yang kini pelan-pelan menghilang dari dunia anak kita dan generasi sekarang,” tutur Ahmad Noor.(jejakrekam)

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.