Sejarah Kopi dan Peradaban Islam

0 1.186

Oleh : Humaidy Ibnu Sami

KATA “kopi” dalam bahasa Arab disebut “qahwah” yang memiliki arti “kekuatan”. Kata qahwah ini kemudian berubah dalam berbagai bahasa menjadi “Qahveh” (Turki), “koffie” (Belanda), “coffee” (Inggris) dan “kopi” (Indonesia). Dalam istilah masyarakat Hadrami atau Arab Yaman disebut Qohwa, namun bila dilisankan mereka senang menyebutnya dengan nama Gahwa.

PERADABAN atau kebudayaan “ngupi” ternyata punya akar panjang dalam sejarah Islam. Tidak seperti teh yang merupakan minuman-rumah atau minuman-keluarga, kopi adalah minuman sosial. Sebelumnya minuman-sosial adalah khamr, minuman beralkohol yang dibuat melalui fermentasi sehingga memabukkan. Makkah dikenal sebagai kota produsen khamr terbaik bahkan setelah larangan meminum khamr diterapkan. Sampai abad ke-10, Mekkah tetap memproduksi khamr untuk ekspor.

Sejarah Kopi, dalam kebudayaan masyarakat Arab, khusus untuk orang Yaman (Hadrami), kita akan menemukan catatan sejarah yang menarik. Konon, walaupun biji kopi dikatakan ditemukan di Ethiopia (Abessyenia), namun budidaya biji kopi dalam perkebunan luas ada di daerah Yaman, setidaknya sejak abad ke-6 Masehi. Dalam tradisi lisan masyarakat Hadramaut, kopi konon ditemukan oleh as-Syaikh Ali bin Umar Asy-Syazili atau yang lebih dikenal dengan Syekh Asy-Syazili saja, seorang wali yang makamnya dianggap keramat di Mocha. Menurut as-Syaikh Najm al-Ghazy yang mula-mula menjadikan biji kopi sebagai bahan campuran minuman adalah asy-Syaikh Abu Bakr bin Abdillah as-Sadzily yang juga dikenal dengan julukan al-Aydrus. Itulah sebabnya terkadang bila meminum kopi orang Arab di Hadramaut senang mengenangnya, karena sang Syaikh dianggap orang yang menemukan cita rasa kopi sebagai sebuah minuman.

Kopi kemudian menjadi minuman penting, setelah orang Arab menemukan cara yang pas untuk menyajikannya. Bisa dikatakan, orang Arablah yang merevolusi cara menyajikan dan menikmati kopi. Sebelumnya kopi dinikmati tidak dengan cara diseduh untuk minuman, melainkan dimakan dengan cara dibungkus dengan lemak binatang.

Ada semacam tradisi unik di kalangan masyarakat Hadramaut tempo dulu. Di sana kopi biasanya dinikmati di antara dua waktu makan. Biasanya bila seorang hendak berkunjung ke rumah salah seorang sahabat atau bila ada tamu yang datang, maka diadatkan untuk membawa beberapa biji kopi di dalam sorban atau dalam radi. Sang tuan rumah akan mengumpulkan biji-biji kopi tersebut, untuk dinikmati bersama.

Tak butuh waktu yang lama, kopi akhirnya menjadi semacam minuman kesukaan orang Islam. Konon di mana ada agama Islam disebarkan baik di wilayah Turki, negara-negara Balkan, Spanyol, maupun Afrika Utara dan Asia, kopi juga ikut tersebar. Sehingga sempat timbul semacam pelabelan bahwa kopi itu minumannya orang muslim.

Dari kebiasaan minum kopi beberapa komunitas tarekat di Yaman sejak pertengahan abad ke-14, beberapa orde Sufi menyajikan hidangan minuman kopi terbaik untuk menarik jamaah mendatangi diskusi-diskusi yang mereka selenggarakan di malam hari. Para pelancong dan pendatang asing yang datang ke Yaman atau mampir di kota itu untuk perjalanan haji, tertarik dengan kebiasaan itu. Mereka akhirnya ikut berpartisipasi untuk menyediakan jenis-jenis kopi terbaik dari segala penjuru, dan memperkenalkan cara-cara baru memasak kopi. 

Terus saja, budaya minum kopi mengalami inovasi sehingga secara perlahan-lahan menjadi alternatif terhadap kebiasaan minum khamr yang belum sepenuhnya lenyap di kalangan masyarakat Arab. Inovasi-inovasi kegiatan ngopi ini juga akhirnya menciptakan komunitas yang mengasyikkan, menjelang shalat malam berjamaah.

Suatu saat, ketika jamaahnya datang ke Makkah di musim haji dan mempraktekkan kebiasaan baru ini, minuman kopi menjadi makin terkenal — meski sempat menimbulkan kontroversi ketika Gubernur Makkah melarangnya dengan alasan-alasan politis. Sang Gubernur takjub sekaligus curiga, orang-orang yang berkumpul minum kopi bersama-sama sambil mendiskusikan banyak hal itu bisa menimbulkan persekongkolan untuk menggulingkan kekuasaan. Gubernur melaporkan perkumpulan kopi itu kepada Sultan Mamluk di Cairo. Isu minum kopi menjadi isu yang panas.

Melalui perdebatan panjang yang melibatkan pakar-pakar fiqh, hakim/qadi, para dokter, dan pemimpin-pemimpin politik di seluruh dunia Muslim, minum kopi akhirnya bukan hanya dianggap halal tetapi justru dianjurkan karena dinilai bermanfaat untuk pencerahan spiritual — melalui jalan “markaha,” yakni persekutuan deliberatif untuk berkumpul dan berbicara tentang kebaikan dalam persaudaraan dan persahabatan.

Fatwa halal kopi membuat kota-kota Muslim pada tahun 1453, seperti untuk pertama kali Turki dengan membuka kedai kopi bernama Qahveh dan kedainya disebut Kiva Han.  Kemudian menyusul Konstantinopel, Bagdhad, dan beberapa kota di India dan Iran, menyediakan kafe-kafe publik perhelatan kopi. Para Sultan juga mulai tergila-gila pada kopi sebagai minuman bergengsi. Di istana-istana mereka dibuat tempat khusus untuk minum kopi.

Dalam literatur medis kaum muslim, ada beberapa ilmuwan Islam menulis tentang minuman kopi ini. Sebut saja diantaranya Al-Razi di abad ke-9, menjadi orang pertama yang menyebut kopi dalam tulisannya dengan memasukkan kata bunn dan sebuah minuman bernama buncham, dalam ensiklopedi tentang zat-zat yang dipercaya menyembuhkan penyakit. Sayangnya, karya ini telah musnah tak ditemukan lagi. Sementara pada abad ke-11, Ibnu Sina mengatakan bunchum dapat “membentengi tubuh, membersihkan kulit, dan mengeringkan kelembaban di bawahnya, serta memberikan bau yang enak untuk tubuh”.

Berbeda dengan dunia muslim, bangsa Eropa baru merasakan harumnya kopi di abad ke-17. Setidaknya seperti itulah yang disebutkan Claudia Rosen dalam bukunya Coffee. Ia menceritakan bahwa baru pada 1615, saat para pedagang Venesia membawanya ke Eropa, kopi segera menggebrak seisi benua tersebut. Konon di Italia, pihak gereja sempat menghawatirkan beredarnya minuman yang mereka sebut “temuan pahit setan” dan meminta Paus Clament VIII melarang peredarannya. Tapi Paus bukannya melarang,  justru terkesan dengan cita rasa kopi yang kuat. Baginya, kopi sayang sekali jika hanya menjadi minuman ekslusif orang muslim saja, semua orang bolek menikmatinya. Sejak itu kopi tak terbendung lagi di Eropa bahkan di belahan dunia manapun.

Di atas sudah disinggung secara ringkas kontroversi meminum kopi, ada yang membolehkan dan melarang dengan masing-masing memiliki dalil dan argumentasi. As-Syaikh Ibn Hajar al-Haytami mengulas secara khusus perihal silang pendapat ini dalam al-I’ab Syarh al-‘Ubbaab, dan beliau mengembalikan hukumnya kepada qaidah fiqhiyyah Lil Wasail Hukmul Maqashid (Hukum perantara sama dengan hukum tujuan).

Beberapa nama berikut ini adalah para ulama yang berpendapat bahwa minum kopi itu halal: 1. Syaikhul Islam Zakaria al-Anshary; 2. Syaikh Abdurrahman Bin Ziyad az-Zabidy; 3. Syaikh Zarouq al-Maliky al-Maghriby; 4. Abdullah bin Sahl Ba Qusyair; 5. Al-‘Allamah Muhammad bin Abdil Qadir al- Hibbany.

Berikut beberapa ulama Hadramaut yang bahkan tidak sekadar mengatakan halal, namun memuji minuman kopi, yaitu: 1. Al-Habib Abu Bakr al-‘Aydarus; 2. Al-Ustadz Abdurrahman bin Ali; 3. As-Sayyid Syaikh bin Ismail; 4. Al-Imam Ahmad bin Alawi Ba Juhdub; 5. As-Syaikh Abu Bakr bin Salim; 6. As-Syaikh Abdullah bin Ahmad al-‘Aydarus; 7. As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al-‘Aydarus; 8. As-Sayyid Abdullah al-Haddad; 9. As-Sayyid Hatim al-Ahdal; 10. As-Syaikh Abu al-Hasan al-Bakri; 11. As-Syaikh Muhammad bin Abi al-Hasan; 12. As-Syaikh Abdul Wahhab as-Saudy; 13. Al-Faqih Umar bin Abdillah Ba Makhramah; 14. As-Syaikh Abdurrahman bin Umar al-‘Amudy.

Bahkan as-Syaikh as-Sayyid al-‘Arif Hatim al- Ahdal berkata, “Jika tidak ada kurma untuk berbuka puasa, maka berbukalah dengan kopi”.

Tradisi Ritual Minum Kopi As-Syaikh Abdul Qadir menyebutkan dalam Risalah Shofwah as-Shofwah fi Bayaani Hukm al-Qahwah, juga al-Habib Abdurrahman bin Muhammad al-’Aydarus dalam Inaas as-Shofwah bahwa bagi mereka yang melaksanakan Majelis Kopi agar membaca zikir khusus yang telah disusun para ulama, yaitu : 1. Surah Al-Fatihah 1 x, kemudian; 2. Surah Yasin 4 x, kemudian; 3. Sholawat 100 x, kemudian; 4. Ya Qawiy 116 x. Jika masih ada waktu tersisa hendaknya dilanjutkan dengan mudzakarah (diskusi) tentang kebesaran Allah ataupun mudzakarah ilmu agama dan kalam-kalam para ulama/wali. 5. Semua bacaan al-Qur’an dan zikir tersebut pahalanya dihadiahkan ke Hadirat Rasulullah Shalallahu ‘alaih wa aalih wa sallam kemudian kepada al-Habib Ali bin Umar as- Syadzily (Syaikh al-Qahwah). 

Kopi menurut ahli kesehatan modern berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Harvard Women’s Health, cukup bermanfaat. Minum kopi beberapa cangkir setiap hari dapat menghindarkan kita dari penyakit Diabetes tipe 2, Kanker Usus Besar, Parkinson, Batu Ginjal, hingga Sirosis alias rusaknya fungsi hati, serta menghindarkan kita dari menurunnya daya kognitif otak.

Sebagaimana telah diketahui, zat yang terkandung dalam kopi adalah kafein. Kafein merupakan senyawa kimia alkaloid yang dikenal sebagai trimetilsantin dengan rumus molekul C8H10N4O2. Jumlah kandungan kafein dalam kopi adalah 1-1,5%, sedangkan pada teh 1-4,8%. Kafein bekerja dalam tubuh dengan mengambil alih reseptor adenosin dalam sel syaraf yang akan memacu produksi hormon adrenalin.

Minum kopi dalam jumlah yang cukup atau sedang tidak akan membahayakan, bahkan akan bermanfaat bagi kesehatan.

Jumlah yang boleh dikonsumsi adalah 300 mg kafein atau setara dengan 3 cangkir kopi per hari. Kecanduan terhadap kafein diperkirakan jika mengkonsumsi lebih dari 600 mg kafein atau setara dengan 5-6 cangkir kopi per hari selama 8-15 hari berturut-turut. Sedangkan dosis yang dapat berakibat fatal bagi manusia adalah sekitar 10 gram kafein atau 20-50 cangkir per hari.

Beberapa manfaat kopi 1. Mencegah penyakit saraf. Peminum kopi berkafein cenderung tidak akan mengembangkan penyakit Alzheimer dan Parkinson. Kandungan antioksidan di dalam kopi akan mencegah kerusakan sel yang dihubungkan dengan Parkinson. Sedangkan kafein akan menghambat peradangan di dalam otak, yang kerap dikaitkan dengan Alzheimer.

2. Melindungi gigi. Kopi yang mengandung kafein memiliki kemampuan antibakteri dan antilengket, sehingga dapat menjaga bakteri penyebab lubang menggerogoti lapisan gigi. Minum kopi secangkir setiap hari terbukti dapat mencegah risiko kanker mulut hingga separuhnya. Senyawa yang ditemukan di dalam kopi juga dapat membatasi pertumbuhan sel kanker dan kerusakan DNA.

3. Menurunkan risiko kanker payudara. Menjelang masa menopause, wanita yang mengonsumsi 4 cangkir kopi sehari mengalami penurunan risiko kanker payudara sebesar 38 persen, demikian menurut sebuah studi yang dipublikasikan di The Journal of Nutrition.

Kopi melepaskan phytoestrogen dan flavonoid yang dapat menahan pertumbuhan tumor. Namun konsumsi kurang dari 4 cangkir tidak akan mendapatkan manfaat ini. 4. Mencegah batu empedu. Batu empedu tumbuh ketika lendir di dalam kantong empedu memerangkap kristal- kristal kolesterol. Xanthine, yang ditemukan di dalam kafein, akan mengurangi lendir dan risiko penyimpanannya. Dua cangkir kopi atau lebih setiap hari akan membantu proses ini. 5. Melindungi kulit. Konsumsi 2-5 cangkir kopi setiap hari dapat membantu menurunkan risiko kanker kulit nonmelanoma hingga 17 persen. Kafein dapat memacu kulit untuk membunuh sel-sel prakanker, dan juga menghentikan pertumbuhan tumor. 6. Mencegah diabetes. Orang yang mengonsumsi 3-4 cangkir kopi reguler atau kopi decaf (dengan kadar kafein yang dikurangi) akan menurunkan risiko mengembangkan diabetes tipe II hingga 30 persen. Asam klorogenik dapat membantu mencegah resistensi insulin, yang merupakan pertanda adanya penyakit ini. Hikayat Keajaiban Kopi 1. Bayi Usia Tiga Hari Bisa Berdiri Diceritakan bahwa suatu hari bertamu tiga orang sufi dan wali ke rumah al-Habib Ahmad bin Husein al-‘Aydarus, untuk mengucapkan selamat atas kelahiran anaknya yang kemudian dikenal dengan as- Sayyid al-‘Arif Billah Abdullah bin Ahmad Ibn Husein al-‘Aydarus. Tepat di hari ketiga dari kelahiran anaknya tersebut. Mereka adalah as-Sayyid Ahmad bin Alawi Ba Juhdub, al-‘Arif Billah Husein Bal Hajj dan al-Habib Syeikh bin Abdillah al-‘Aydarus. Setelah mereka duduk, atas permintaan mereka maka dihadapkanlah bayi kecil putra Habib Ahmad. Tidak lama berselang, disuguhkan minuman kopi kepada para sufi tersebut. Lucunya, bayi kecil bernama Abdullah yang kelak menjadi seorang ulama besar memalingkan wajah ke arah kopi yang dihidangkan, hal ini membuat para sufi tertawa. Melihat hal demikian, ayah sang bayi al-Habib Ahmad Bin Husein berkata, “Demi al-Fatihah dan Qahwah (Kopi) bangunlah hai Abdullah, ciumlah kaki orang-orang suci ini..!”. Ajaib, Abdullah kecil yang baru berumur 3 hari bangun dari tempatnya, menutup badannya dengan kain kemudian mencium kaki para wali tersebut, lalu berdiri dan oleh mereka diberi minum kopi kemudian disuruh kembali ke tempat baringnya. Setelah kejadian, Abdullah bin Ahmad kembali ke keadaan semula, seperti normalnya bayi, tidak bisa bangun dan berdiri hingga sampai usianya. 2. Menarik Rejeki dan Mahabbah Dalam Manaqib al-Habib Abi Bakr bin Salim, Al-Imam Muhammad bin Abdirrahman Ibn Siraj menceritakan, “Suatu hari, datang menghadap Syaikh al-Habib Abu Bakr seorang sayyid bernama Abdurrahim al- Bashri al-Makki untuk meminta syafaat keramat al-Habib dalam mendamaikan hubungannya dengan isterinya yang bernama Makiyyah. Menurut Abdurrahim, isteri dan keluarganya telah mencelanya bahkan menuntut cerai darinya lantaran kemiskinannya. Al-Habib menatap Abdurrahim dan bertanya, “Apakah kau mencintai Makiyyah?”. “Ya, saya mencintai dan menggila terhadapnya. Maksud ,kedatangan saya ini untuk meminta nazhar dan doa Anda agar kehidupanku menjadi lebih baik,karena kesabaranku telah habis”. Saat itu tangan al-Habib sedang memegang cangkir besar berwarna hijau yang berisi kopi dan disamping beliau jendela terbuka. Tiba-tiba Al-Habib menyembunyikan cangkir sambil berseru, “Cepat..!”. Kemudian mengeluarkan tangannya dan terlihat cangkir kopi itu lenyap. Al-Habib kemudian berkata, “Kami telah mebantu memperbaiki keadaannmu dengan syafaat hai Abdurrahim”. “Kopi ini untuk apa saja yang kau niatkan.” Lanjut al-Habib sambil membekali Abdurrahim. Sayyid Abdurrahim pun pulang ke Makkah. Ajaib, manakala mengetahui kedatangan Abdurrahim bersama kafilah, keluarganya menyambutnya dengan gembira dan memberinya uang (dirham). Keluarganya juga mendatangkan Makkiyyah. Ajaib, terlihat perubahan drastis pada isteri Abdurrahim. Dia nampak sangat mencintai dan menghormati suaminya. “Saat kepergianmu,” Cerita isteri Abdurrahim, “sangat mengherankan, pada suatu hari tiba-tiba ada seorang lelaki (sambil menjelaskan ciri-cirinya) memberiku cangkir yang berisi kopi, kemudian secara tiba-tiba pula lelaki yang tidak kuketahui datangnya dari mana tersebut menghilang entah kemana. Akupun meminum kopi yang dia berikan dan setelah itu timbul rasa cinta dan sayang kepadamu”. Ajaib, lelaki yang diceritakan isterinya tesebut persis al-Habib Abu Bakr bin Salim. Bahkan cangkir diberikan lelaki misterius itupun sama persis dengan cangkir yang dipegang al-Habib Abu Bakr saat Abdurrahim menghadap beliau. Tidak hanya itu, kejadiannya pun bertepatan saat Abdurrahim menghadap al-Habib.” 3. Menjaga Harta dan Menyembuhkan Sakit Diceritakan bahwa salah seorang sufi merebus kopi dengan niat agar tidak ada seorangpun yang bisa mengambil kopi miliknya tanpa izin. Suatu hari, sang anak yang tidak tahu niat ayahnya mengambil kopi tersebut. Saat itu juga tangan sang anak keseleo. Sang sufi kembali merebus kopi dengan niat agar tangan anaknya sembuh. Ajaib, tangan anaknya sembuh dan kembali seperti semula. 4. Zikir Uap Kopi Diriwayatkan dari beberapa orang shalih, bahwa katal “La Ilaha Illallah Muhammadurrasulullah” dengan huruf yang jelas dan fasih sepanjang kopi masih mengepulkan uap. Suara yang mereka dengar lama-lama semakin tidak jelas seiring dengan hilangnya uap kopi. 

Penulis adalah Dosen UIN Antasari Banjarmasin – Peneliti Senior LK3 Banjarmasin
Editor Almin Hatta

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.