Paribasa Banjar; Sakali Samustawa

0 148

Oleh : Noorhalis Majid

TIDAK sering. Jarang, bahkan sangat jarang sekali. Bukan berulang-ulang. Tidak setiap waktu. Paling hanya sekali saja. Bahkan hanya sekali dalam seumur hidup, langka, itulah yang dimaksud sakali samustawa.

ENTAH berasal dari kosa kata apa samustawa, atau mustawa ini. Belum saya temukan artinya dalam bahasa Banjar. Langgamnya, seperti bahasa Arab.

Sakali samustawa, sangat sering diucapkan untuk menegaskan bahwa jarang sekali. Hanya sekali saja. Bahkan boleh jadi hanya sekali ini saja. Jangan berpikir akan berulang kali. Karena itu, jangan sia-siakan. Jangan hilanglkan kesempatan langka tersebut, tidak akan terulang dua kali.

Kenapa hanya sekali saja? Apakah karena tidak penting?, boleh jadi. Apakah karena sangat jauh, sangat mahal, sangat jarang, sehingga kesempatannya terbatas?, bisa juga. Berbagai sebab, membuat hal tersebut menjadi sakali samustawa. Menyebabkan tidak mungkin sering, tidak berulang kali.

BACA : Paribasa Banjar ; Cacap Igutan

Pada sesuatu yang dianggap sakali samustawa, orang tidak mempertimbangkan untung atau rugi. Sekalipun harus mengeluarkan biaya mahal, dengan rela merogoh kantong, bahkan walau harus berhutang.  

Tidak mempertimbangkan waktu. Rela berlama-lama, menyisihkan waktu, atau mengalahkan alokasi waktu lain untuk hal yang disebut sakali samustawa. Waktu menjadi tidak penting, karena ada lebih dari sekedar waktu, yaitu kesempatan yang tidak akan terulang dua kali.

Juga tidak mempertimbangkan tenaga, jarak dan bentuk pengorbanan lainnya, demi sakali samustawa. Lupakan yang lain, fokus pada hal yang dianggap sakali samustawa. Besok, lusa, dan entah kapan, belum tentu menemuinya, mendapatkannya. Suatu kesempatan langka yang tidak datang seperti sesuka keinginan dan harapan. Bersyukurlah sekarang ada, manfaatkan, jangan sampai terlewatkan.

BACA JUGA : Paribasa Banjar: Pandiran di Getek

Apa yang dapat dianggap sakali samustawa? Bisa berupa orang, bisa pula berupa produk barang ataupun jasa, yang kesempatannya tidak datang dua kali.  Faktor subyektivitas sangat besar. Karena penting dan tidak penting,  langka atau sering, berharga atau murahan, sangatlah subyektif. Sehingga, sakali samustwa juga bersifat subyektif, bahkan sangat individu.

Bagi satu orang boleh jadi hal tesebut sakali samustawa, tapi bagi yang lain, biasa saja, sangat sering, tidak langka, lajim. Karena bersifat subjektif, tidak dapat digeneralisasi. Saya sendiri tidak ingin melewatkan ulasan tema ini, karena ini sesuatu yang langka, sakali samustawa. (jejakrekam)

Penulis adalah Kepala Ombudsman Perwakilan Kalsel

Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.