Melawan Zaman Berubah, Merawat Eksistensi Kesenian Banjar Sinoman Hadrah

0

SEJAK tahun 2017, kesenian pertunjukan Sinoman Hadrah masuk dalam warisan budaya tak benda dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan nomor registrasi 201700544. Seni pertunjukan yang berkembang di Tanah Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan terus merawat diri melawan zaman yang terus berubah.

ADA dua kosa kata dari kesenian khas Banjar, yakni sinoman yang berarti perkumpulan orang yang memiliki tujuan sama. Sedangkan, hadrah berasal dari kosa kata Arab; hadrun atau hadir. Nah, kesenian ini pun disuguhkan untuk menyambut tamu yang dihormati atau dimuliakan. Namun, dalam hajatan besar seperti acara perkawinan khas Banjar, kesenian Sinoman Hadrah hadir sebagai pengantar agar ‘pasangan raja-permaisuri sehari’ itu benar-benar meriah.

Kesenian ini dilengkapi dengan alat musik dan perlengkapan lainnya seperti rebana, babun, ketipung, tamborens, bendera, dan payung besar berhias. Sinoman Hadrah ditarikan orang banyak, mininal 30 orang terbagi atas pemusik, pemegang bandu, pemayung dan penari. Seiring perkembangan zaman, kesenian ini tak hanya didominasi kaum pria, namun juga dijamah kaum perempuan dengan pakaian warna yang mencolok, balutan khas Banjar.

BACA : Lestarikan Budaya Banjar, 14 Grup Sinoman Hadrah Adu Kemahiran

Bagi komunitas Banjar yang ada di pelosok kampung di Banjarmasin, kesenian ini terus dijaga. Mereka pun memasuki gang-gang sempit seperti terlihat di kawasan Teluk Tiram Darat, Banjarmasin Barat, Minggu (22/12/2019).

Dengan pakaian warna kuning dan biru dibalut untai kambang barenteng (untaian bunga), saat hajatan pesta perkawinan seorang warga di Jalan Teluk Tiram Darat, Gang Palang Merah, kesenian Sinoman Hadrah pun menjadi suguhan menarik ditonton warga sekitar. Ditabuh bunyi terbang Banjar atau rebana bertalu-talu, syair-syair shalawat Nabi Muhammad SAW pun dikumandangkan.

Putaran payung besar yang berjuntai, makin memeriahkan atraksi seni pertunjukan yang lahir di era Kesultanan Banjar ini. Warga Teluk Tiram Darat, Hj Saniyati mengaku sangat jarang melihat pertunjukan Sinoman Hadrah untuk mengantarkan pasangan pengantin menuju ke rumah mempelai.

“Saat ini, kebanyakan pesta perkawinan selalu diisi dengan hiburan organ tunggal. Makanya, kehadiran Sinoman Hadrah tentu menggembirakan bagi kami, terutama bagi anak-anak muda bisa menyaksikan keseniman warisan orangtua dulu ini,” ucap Hj Saniyati kepada jejakrekam.com, Minggu (22/12/2019).

BACA JUGA : Desa Barikin dan Lakon Wayang Banjar, Warisan dari Kerajaan Negara Dipa

Menurut dia, perubahan zaman memang tak bisa lagi dihindarkan, namun kesenian bernafaskan Islam ini harus tetap dilestarikan. Terutama, saat digelar hajatan warga, instansi pemerintah atau swasta, sehingga kehidupan para seniman Sinoman Hadrah tetap terjaga, tak kalah dengan wahana hiburan modern yang lebih praktis seperti sekarang.

“Sekarang ini, justru banyak kesenian tempo dulu makin langka untuk disaksikan. Dulu, kalau ada Sinoman Hadrah, bagi yang berpunya bisa memainkan wayang Banjar atau lainnya. Makanya, pesta perkawinan itu sama dengan pesta seorang raja dan permaisuri. Nah, semangat itu sekarang mulai terkikis,” kata Saniyati.

Sadam Husni, salah satu pengelola Grup Sinoman Hadrah Cahaya Baru mengakui agak jarang menerima tawaran pertunjukan di masa sekarang, dibandingkan ketika masa-masa dulu. Menurut dia, kesenian Sinoman Hadrah ini pun merupakan warisan para leluhurnya yang terus diajarkan secara turun temurun.

Ia pun tak memungkiri, kebanyakan para penerbang atau penabuh rebana sudah berusia tua, belum ada yang kalangan muda menggeluti kesenian ini. Padahal, Sadam Husni dan kawan-kawannya siap berbagi ilmu dan pengalaman sebagai penjaga kesenian Melayu itu.

BACA JUGA : Pemertahanan Bahasa Banjar Melalui Seni Pertunjukan

Grup yang beralamat di Jalan Banyiur Luar, Banjarmasin Barat ini sudah bertahan puluhan tahun di tengah persaingan bisnis hiburan hajatan pengantin atau lainnya. Menurut Sadam Husni, saat ini, masih bisa dihitung jari kelompok atau grup Sinoman Hadrah di Banjarmasin.

“Keberadaannya pun kebanyakan berada di kampung-kampung pelosok kota. Sangat jarang ada di tengah kota. Sekarang, grup musik organ tunggal justru lebih banyak, bukan kami menolak keberadaan mereka. Tapi, memang untuk di wilayah Banjarmasin Barat, mungkin hanya ada enam grup Sinoman Hadrah. Kalau keseluruhan di kota, mungkin sekitar 30 grup yang kebanyakan ikut lomba atau mengisi hajatan perkawinan atau acara lainnya,” tandas Sadam Husni.(jejakrekam)

Penulis Sirajuddin
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.