ACT

BPRS Prihatin Sudah 8 Tahun Gedung RSUD PJS Kotabaru Terbengkalai

0 233

SEJAK berganti nama dari RSUD Kotabaru menjadi RSUD Pangeran Jaya Sumitra (PJS), justru belum membawa perubahan signifikan. Terutama, dari segi fisik bangunan berikut sarana dan prasarana rumah sakit milik Pemkab Kotabaru itu.

RUMAH sakit yang terletak di Jalan Brigjen H Hasan Basri, Semayap, Pulau Laut Utara, dipindah ke lokasi baru di kawasan Stagen, dekat Bandara Gusti Syamsir Alam. Sayangnya, kondisi bangunan baru itu justru terbengkalai hampir 8 tahun lamanya, usai dibangun pada 2011 silam.

Kondisi ini mengundang keprihatinan Badan Pengawas Rumah Sakit (BPRS) Provinsi Kalimantan Selatan yang datang meninjau sekaligus berdialog dengan jajaran direksi dan karyawan RSUD Pangeran Jaya Sumitra.

BACA : Hormati Raja I Pulau Laut, RSUD Kotabaru Berganti Nama Pangeran Jaya Sumitra

“Ya, sudah delapan tahun lamanya, rencana pembanguann RSUD Pangeran Jaya Sumitra Kotabaru menggantikan bangunan yang lama di pusat kota terbengkalai. Ini jelas memprihatinkan,” ucap anggota BPRS Provinsi Kalsel, Anang Rosadi Adenansi bersama Ketua BPRS dr Gabriel Taufik Basrie didampingi anggota lainnya, Aus Al Anhar, Elsya Jelita dan Endang Pratiwi, usai dialog.

Menurut Anang Rosadi, bangunan baru itu sudah berdiri dengan dana sekitar Rp 60 miliar, dari rencana awal sebesar Rp 300 miliar atau baru 20 persen. Mantan anggota DPRD Kalsel ini menilai sangat jelas pembangunan gedung baru rumah sakit seakan tak berujung dan tanpa ada solusi tepat, demi meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

“Ironis memang, seharusnya urusan wajib semacam ini menjadi prioritas berdasar amanat UU. Tapi, sepertinya tidak mendapat perhatian serius dari Pemkab Kotabaru,” cetus Anang Rosadi kepada jejakrekam.com, Kamis (31/10/2019).

Ia mengatakan dari sisi perencanaan juga harusnya terukur dengan kemampuan keuangan daerah, sehingga tidak menimbulkan masalah baru. Bahkan, insinyur jebolan Universitas Jayabaya Jakarta ini juga melihat ada beberapa bagian dari RSUD Pangeran Jaya Sumitra tidak tercover, seperti ruang cuci darah dan keperawatan.

“Saya minta agar Pemkab Kotabaru, Pemprov Kalsel dan pemerintah pusat untuk memperhatikan masalah ini. Bagaimana pun, keberadaan rumah sakit ini sangat vital bagi masyarakat Kotabaru yang terpisah dari daratan Kalimantan,” tuturnya.

BACA JUGA : BPRS Kalsel Diketuai Gabril, Anang Rosadi : RS Perlu Pengawasan Ketat

Jangan sampai, masih menurut Anang Rosadi, dana bermiliaran rupiah yang telah tertanam itu menjadi sia-sia, sehingga bangunan rumah sakit yang baru menjadi rumah hantu. Bahkan, di halaman tak terjaga, sehingga banyak kotoran kerbau dan sapi berhamburan.

“Ironisnya lagi, sudah  delapan tahun justru posisi direktur rumah sakit masih pelaksana tugas, tidak didefinitifkan. Ini juga menjadi kendala dalam pengambilan keputusan yang sangat prinsip bagi rumah sakit ke depan,” imbuh Anang Rosadi.(jejakrekam)

Penulis Ipik Gandamana
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.