Limbah Sasirangan Dibuang ke Sungai Martapura, DLH Banjarmasin Segera Ambil Tindakan

0

BISNIS kerajinan kain sasirangan selama ini menjadi tulang punggung perekonomian bagi masyarakat Banjarmasin. Namun, sisi lain, justru berdampak pada pencemaran lingkungan Sungai Martapura. Itu ketika, ada beberapa oknum pengrajin kain sasirangan justru membuang limbahnya masih ke aliran sungai yang ada di Banjarmasin.

TEMUAN ini diposting Paman Anum, sapaan akrab Hasan Zainuddin seorang wartawan senior Antara, aktivis Melingai dan Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin dalam grup facebook Surga (Suara Warga), Kamis (27/6/2019), pukul 18.33.

Paman Anum memposting sebuah foto yang menggambarkan seorang pengrajin sasirangan tengah membuang air limbah zat pewarna di bilangan Kampung Sasirangan, Sungai Jingah, Banjarmasin Utara. Foto yang diambil peserta pemberdayaan masyarakat peduli sungai yang diselenggarakan Balai Wilayah Sungai (BWS) II Kalimantan.

BACA : Kampanye Hemat Air di Tengah Tercemarnya Sungai di Banjarmasin

Menanggapi foto dan temuan itu, Kepala Bidang Pengawasan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin, Wahyu Hardi Cahyono mengakui untuk limbah sasirangan sudah dilakukan penelitian terhadap sumber pencemar yang ada di Sungai Martapura.

“Memang, pengrajin sasirangan saat ini belum melakukan pengelolaan terhadap limbahnya. Kami juga tengah menjajaki ke beberapa universitas dalam mencari solusi untuk memastikan adanya alat pengolah air limbah dari pewarna yang efektif dan portable yang bisa digunakan para pengrajin sasirangan,” ucap Wahyu Hardi Cahyono kepada jejakrekam.com di Banjarmasin, Jumat (28/6/2019).

BACA JUGA : Air Sungai Martapura Terlalu Asin, Intake Sungai Bilu Dimatikan

Ia menegaskan dinasnya juga melakukan percobaan pengolahan air limbah. Tapi masih melakukan penelitian lanjutan. Menurut Wahyu, jika pengolahannya sudah didapat, maka para pelaku bisnis sasirangan akan segera diundang.

“Kami juga mewacanakan untuk belajar ke Yogyakarta atau Solo, Jawa Tengah untuk melihat pengawasan pemerintah daerah terhadap pengrajin batik,” ucapnya.

Lantas, apakah DLH sudah memberi edukasi kepada pengrajin sasirangan? Wahyu menjawab ada beberapa pengrajin yang sudah diberikan pendidikan mengenai pentingnya menjaga sungai untuk tidak membuang limbah  produksi.

“Dulu, kami sudah memberi bantuan alat dari kementerian kepada mereka. Akan kami cek apakah masih digunakan untuk pengolahan limbah sasirangan,” tutur Wahyu.

BACA LAGI : Mengembalikan Pewarna Alami Sasirangan Demi Mempertahankan Tradisi

Menurut dia, idealnya jika pengrajin sasirangan terpusat pada satu kawasan bisa menjadi dasar DLH Banjarmasin untuk membuatkan IPAL komunal. “Inikan terpisah-pisah pengrajinnya. Jadi, harus dicarikan solusi IPAL yang portable dan dapat mereduksi bahan bahan kimia pewarna,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Arpawi
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.