ACT

Anak Didik Tak Beretik

0 289

MAHASISWA seyogyanya merupakan orang-orang yang terdidik dalam suatu lembaga pendidikan. Dari mereka pula besar harapan bangsa memiliki generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara sains dan teknologi, tetapi juga mempunyai adab yang luhur serta mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Namun, apa jadinya jika fakta berbicara sebaliknya.

SEBAGAIMANA  yang terjadi belum lama ini, ratusan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat, mengeluarkan para dosen dan pegawai di penguruan tinggi tersebut pada Selasa pekan ini.

Para dosen terpaksa keluar karena para mahasiswa terus mendesak agar seluruh pegawai dan dosen tidak berada di dalam gedung perkantoran dan perkuliahan, karena mereka akan menyegel pintu kampus. Mahasiswa juga bertepuk tangan gembira setelah semua dosen berhasil keluar dari kampus.

BACA : Islam sebagai Agama Peradaban

Seperti diketahui, aksi unjuk rasa mahasiswa berlangsung karena mereka tidak berhasil bertemu dengan Ketua STAIN Meulaboh, Dr Inayatillah terkait isu dugaan jual beli jabatan dalam suksesi kepemimpinan di lembaga perguruan tinggi agama setempat. Mahasiswa mendesak agar kasus tersebut diungkap agar menjadi titik terang (antaranews.com, 26/03/2019).

Sejatinya apapun kondisi yang terjadi di lembaga pendidikan, selama para pendidik tidak mengajarkan pada hal-hal yang bersifat negatif tentu sebagai orang-orang yang terdidik, tidak sepatutnya berlaku tidak sopan kepada mereka yang telah mengajarkan berbagai ilmu.

Padahal mahasiswa dikenal sebagai agent of change. Tentu yang dimaksud adalah perubahan ke arah yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Sayangnya fakta di atas menggambarkan bagaimana buruknya budi pekerti para mahasiswa tersebut terhadap para pendidiknya. Hal tersebut jelas mencoreng dunia pendidikan.

BACA JUGA : Kelancaran Berlalu Lintas, Cermin Keberhasilan Pembangunan Peradaban Modern  

Selain itu, kejadian tersebut pula mencerminkan bagaimana pendidikan karakter yang diperoleh anak didik saat ini. Tentu tak terlepas pula dari peranan para pendidik. Karena pendidik sejatinya takhanya sekadar transfer ilmu, tetapi lebih dari itu yakni mampu mengubah anak didik menjadi berbudi luhur. Karena cerdas secara sains dan teknologi saja tak cukup, jika tak diiringi dengan akhlak yang terpuji.

Di samping itu, tentu tak sepatutnya pula jika hanya menyalahkan para pendidik, karena dianggap belum mampu menjadikan anak didiknya berakhlak mulia. Tetapi tak dapat dipungkiri sistem yang ada saat ini memiliki andil menjadikan anak didik jauh dari nilai-nilai moral yang ada. Seperti adanya pengaruh paham hak asasi manusia (HAM), begitu juga sekularisme yang telah tertancap di hampir semua benak masyarakat, tanpa terkecuali para mahasiswa.

Apabila kita membaca bagaimana gambaran para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihiwasallam, muridnya Rasulullah, tidak pernah didapati mereka beradab buruk kepada gurunya. Mereka tidak pernah memotog ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya, bahkan Umar bin Khattab yang terkenal keras wataknya tak pernah menarik suaranya di depan Rasulullah, bahkan di beberapa riwayat, Rasulullah sampai kesulitan mendengar suara Umar jika berbicara.

BACA LAGI : Dakwah dan Komunikasi yang Intensif Bisa Cegah Penghancuran Peradaban Bangsa

Begitu pun ketika berada di depan guru, tentu seorang murid mesti memperhatikan adab-adabnya. Sebagaimana Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah di dalam kitabnya Hilyah TolibilIlm mengatakan, “Pakailah adab yang terbaik pada saat kau duduk bersama syaikhmu, pakailah cara yang baik dalam bertanya dan mendengarkannya.”

Sesungguhnya, ketika seorang anak didik menghormati gurunya dengan menjaga akhlaknya, insya Allah, seorang murid akan mendapat keberkahan ilmu yang diberikan oleh gurunya tersebut. Sebagaimana Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Dengan demikian, tentu penting sekali adanya sinergi antara pendidikan yang diperoleh anak di lingkungan keluarga, masyarakat dan peran negara. Karena tanpa adanyaketiga peran tersebut akan sulit mewujudkan generasi yang memiliki budi pekerti yang luhur. Wallahua’lam bi ash-shawwab.(jejakrekam)

Penulis adalah Guru SMAN di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.