Husairi Abdi

Pasar Malabar Makin Menepi, Pengrajin Batu Permata Tinggal Hitungan Jari

0

SEMPAT booming pada 2016 lalu, kini pesona batu permata khas Kalimantan, makin meredup. Jika sebelumnya para pedagang hingga pengrajin batu cincin ini panen besar, sekarang memasuki masa penceklik. Seperti yang kini dirasakan sejumlah pengrajin batu permata di kawasan Pasar Malabar, Banjarmasin.

PASAR yang menjadi pusat perdagangan batu permata dan mulia terletak di Jalan Pangeran Samudera, kini terlihat agak sepi. Para pedagang dan pengrajin batu permata merasakan dampak terus menurunnya angka penjualan batu penghias jemari itu.

“Sekarang yang membeli itu batu itu hanya para penghobi. Sisanya, ya pelanggan. Tak ada lagi yang mencari batu seperti Red Borneo atau sejenisnya,” ucap Saiful, pedagang sekaligus pengrajin batu permata Kalimantan kepada jejakrekam.com, Rabu (29/8/2018) di Pasar Malabar.

Ia mengakui saat boomingnya permintaan batu akik khas Kalimantan Selatan seperti Red Borneo dan lainnya, omzet penjualan sempat meroket. Kini, Saiful mengatakan masih bertahan saja sudah untung, karena permintaan penggosokan atau pembelian batu jauh berkurang.  “Para kolektor batu permata pun sudah jarang ke pasar. Ya, tidak seperti dua tahun yang lalu,” kata Saiful.

Menurut dia, sepatutnya Pemkot Banjarmasin atau instansi terkait bisa membantu dengan mempromosikan Pasar Malabar sebagai pusat perdagangan batu permata kepada para pengunjung. “Apalagi, dalam beberapa bulan ini, banyak agenda perhelatan berpusat di Banjarmasin. Sayangnya, batu-batu permata andalan Kalimantan kurang dipromosikan,” ujar Saiful.

Dia khawatir Pasar Malabar justru akan sepi ditinggalkan para pedagang dan pengrajin batu permata, akibat omzet penjualan terus menurun. Sementara, biaya sewa kios dan lainnya harus ditanggung para pedagang. “Jangan sampai Pasar Malabar tinggal nama,” imbuhnya.

Senada Saiful, pengrajin batu permata, Firman mengatakan permintaan untuk menggosok cincin atau batu sudah jauh berkurang pada hari-hari biasanya. “Yang cukup ramai itu pada hari libur. Ya, paling banter hanya lima orang datang ke kios ini,” kata Firman.

Dengan ongkos Rp 20 ribu per batu permata, Firman mengatakan hanya bisa bawa pulang uang sebesar Rp 100 ribu. Selebihnya, pendapatan sehari tak menentu. “Tapi, kami tetap bersyukur. Meski sepi, tapi masih ada yang datang menggunakan jasa kami,” ujar Firman.

Sekarang, para penyapuh cincin dan penggosok batu permata di Pasar Malabar tinggal hitungan jari. Firman mengakui yang kini bertahan hanya sekitar tiga pengrajin. “Memang, keberadaan Pasar Malabar masih kalah pamor dengan Pasar Batuah Martapura. Di sana memang jadi pusat perdagangan batu permata. Tapi, kalau Pemkot Banjarmasin gencar mempromosikan keberadaan pasar ini, tentu bisa mengangkat perekonomian di sini,” pungkas Firman.(jejakrekam)

 

Penulis Sirajuddin
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.