ACT

Perang dan Cinta, Seuntai Sajak Perjuangan

0 794

HARI itu di taman  dekat Balai kota, segerombolan orang yang sudah lama saya kenal duduk-duduk melingkar, di hadapan mereka masing-masing segelas kopi hitam. Galuh Cempaka, kemudian mempercepat langkah, menuju sebuah altar yang  meninggi, berlatar sebuah lukisan alam Gunung Meratus, ia menemukan sebait puisi di kelopak sekuntum bunga mawar. Terpesona, aku membacanya. Aku telah membaca puisi, katanya.

GERIMIS turun, lapangan bola Van Der Pijl membanjir hingga ke lutut, debu luruh dan hanyut. Jam 2.00 telah tengah malam, ia begegas pulang. Di rumah, sebuah kost di jalan Bulan Purnama dalam kesendiriannya, ia baca sajak itu dengan setengah berbisik.

Saya mendengar suara bisik itu ketika ia memasuki kamar dengan nada puitik. Saya tahu baris-baris itu sebuah sajak cinta. Sebab ia membacanya sehangat api unggun di pantai berpasir, pun saya tahu bahwa itu adalah bait puisi dari kekasih yang sedang dirindukannya.

Tetapi, pada suatu ketika yang lain, bahwa puisi yang dikutipnya dari bait kelopak mawar dengan bukti lima goresan sebentuk jari-jari yang berpegangan, bersebelahan dengan tanda amor yang tertembus panah  Bunga itu tertinggal di luar dekat jendela berkayu, gerimis telah menghapus huruf-hurufnya.

“Sepanjang abad manusia, perang dan cinta adalah niscya”.

“Seperti darah yang merendam pakaian merah pengantin, sehabis perang”.

Ratusan tahun lalu, di tempat lain, seperti perang Uhud, langit mendung,  perang masih berkecamuk, perempuan itu telah kehilangan anak pertamanya di medan juang, Tiada ratap pedih, ia kembali mengirimkan anaknya yang kedua. Tubuhnya luka  berdarah, kuda-kuda prajurit tak kenal lelah, bertahan untuk menyerang, dan tak ada kata  mundur sebelum menang. Anaknya yang keduapun gugur sudah, tetapi ia tiada menyerah, kini ia sendiri memanggul senjata bersama sang Nabi yang dicintainya. Dalam cerita, ia pun syahid bersama suami dan anak-anaknya.

Perang seperti sebait puisi yang ditulis dengan tinta berdarah?, sebab nun juga dalam kecamuk mesiu masih sempat  mengirimkan bunga sebagai tanda cinta. Anak-anak bertempur dimedan laga, syahid dipangkuan ibundanya.

Saya mengutip  Zentgraaf dalam Atjeh ‘melukis’ sosok Cut Meutia “ia melangkah ke medan tempur untuk bertarung. Ia tidak merasa takut mendampingi suaminya dan mengiringi pasukan-pasukan melakukan pertempuran di mana-mana. Ia keluar-masuk hutan belantara dengan menelan serba aneka kesulitan, kepahitan dan penderitaan. Sementara itu, pasukan-pasukan marsose mengintainya ke mana ia pergi” . Zentgraaf sebagai saksi bagaimana masa ‘bulan madu’ berada di medan perang ditapal batas, berjaga dengan jarak terdekat dari senapan musuh.

Pada 26 September 1910 sebuah pertempuran seru terjadi antara Belanda dengan pejuang Aceh. Dalam pertempuran itu, Pang Nanggroe syahid dan Cut Meutia bertindak sebagai Panglima Sukey (resimen). Paska kematian Pang Nanggroe, gerakan perlawanan Cut Meutia dan pejuang Aceh semakin parah. Setiap malam tangsi-tangsi Belanda diserbu dan menjelang pagi pasukan ini mundur ke dalam hutan. Markasnya selalu berpindah-pindah tempat.

Perang gerilya yang dilancarkan Cut Meutia berakhir pada 22 Oktober 1910 akibat adanya mata-mata yang memberitahukan lokasi markas kepada Belanda. Pasukan marsose dengan jumlah besar dan persenjataan lengkap menyerbu benteng pertahanan Cut Meutia. Pertempuran ini berlangsung selama tiga hari.

Seuntai sajak pemberontak juga dilukiskan Ratu Zaleha di, perempuan berdarah biru kesultanan Banjar terakhir. Seperti Cut Nyak Dien, ia memutuskan untuk bertempur dengan, bukan hanjya disebabkan wasiat kakeknya Pangeran Antasari, Sesudah suaminya Gusti Muhammad Arsyad ditangkap Belanda pada 4 Januari 1904 (kemudian diasingkan ke Bogor) akhirnya ia berjuang sendirian. Dan, kemudian ayahandanya Sultan Muhammad Seman tewas dalam pertempuran di Bomban Kalang Barat, hulu Beras Kuning, Sungai Menawing, pedalaman Barito, 24 Januari 1905.

Ratu Zaleha pun menjadi target utama yang paling dicari Belanda. Walau menderita kelelahan fisik dan batin luar biasa karena menjadi buruan Belanda, Ratu Zaleha menolak menyerah. Ia terus melawan. Bahkan, senjata kelewang Ratu Zaleha pernah memotong leher serdadu Belanda dalam suatu pertempuran di Barito.

Tahun 1990 an, saya dan Herman pulang kampung di Paliwara Kota Amuntai, kami singgah di rumah jurnalis Anang Abdul Muin  atau lebih dikenal sebagai Aam Niu, cerita  Anggaraini Antemas dalam di Harian Utama edisi 26 September 1970 ‘Mengenang Kembali Perdjuangan Pahlawan Puteri Kalimantan Gusti Zaleha’, menyebutkan dalam suatu medan perang di lembah Barito Ratu Zaleha terkepung pasukan Belanda. Hutan di sekitarnya dibakar oleh pasukan Belanda hingga menjadi lautan api. Di bawah desingan peluru dan kepungan api yang membakar, Gusti Zaleha keluar mempertahankan hidupnya.

“Rambutnya yang cukup panjang dan disanggul rapi telah putus dilanda peluru. Sedang lengannya yang kiri ditembus pula oleh peluru yang lain sehingga badannya bergelimang merah darah. Baju dan celana compang camping, darahnya mengalir membasahi tubuh, namun air matanya tak pernah jatuh setetespun menyesali perbuatannya itu. Wasiat almarhum ayah dan suaminya sebelum masuk perangkap Belanda tetap dipegang teguh,” tulis Anggraini.

Perlawanan Ratu Zaleha berakhir di awal tahun 1906. Menurut Gusti Hindun, keponakan Ratu Zaleha yang juga putri Gusti Muhammad Arsyad, pejuang wanita Banjar ini akhirnya tertangkap setelah pelarian seusai aksi bumi hangus Belanda di Hulu Barito.

Luka dan kemudian berdarah, rambut Ratu Zaleha pun berdarah. Tak ada kepiluan dan tiada kepalsuan sebab cinta sejati adalah mengobarkan perjuangan. Bertempur di garis depan sebagai garda bangsa adalah sebait puisi sangat romantik.

“Seperti darah yang merendam pakaian, ketika bulan madu tiba, serangan mesiu seperti mengabarkan cinta yang membara”. “Perang adalah cinta yang puitik, demikian saya menutup catatan ini dan membiarkan setangkai mawar di Makam Gusti Ratu Zaleha, sebab berharap setiap pagi aku membaca Fatihah untuknya”.

Gerimis tak reda, berpayung hitam, aku pulang dari pusara dengan mata berlinang, menyusuri alun-alun kota dan taman Van Der Pijl. Segerombolan anak-anak muda mengitari gelas kopi mereka, nampak ceria menjelang pagi tiba. (jejakrekam)

 

Penulis : Setia Budhi Borneo

Antropolog FISIP ULM Banjarmasin

Foto     : Koleksi Museum Troppen Belanda

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.