ACT

Ahli Waris Pejuang Minta Tugu 9 November 1945 Ditinggikan

0 809

TEPAT 72 tahun lalu, peristiwa heroik para pemuda yang tergabung dalam Barisan Pemberontakan Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK), menyerang markas Tangsi Militer NICA Belanda (kini jadi Markas Polda Kalsel) pada  Jumat keramat, 9 November 1945.  Pertempuran tak seimbang ini membuat  gugur 9 kesuma bangsa yakni Badran, Badrun, Utuh, Umur, Ta’in, Juma’in, Sepa, Dulah, dan Pak Ma’rupi.

KINI untuk mengenang peristiwa bersejarah ini telah dibangun tugu 9 November 1945 di depan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN), di Jalan DI Panjaitan Nomor 10 Banjarmasin. Haul akbar ke-72 diperingati para veteran, ahli waris para pejuang 9 November 1945 di bekas Markas BPRIK, dan dilanjutkan dengan tabur bunga di tugu pahlawan itu.

“Peringatan haul jamak ke-72 ini untuk kembali mengingatkan kepada anak cucu kita, bahwa perebutan kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 itu harus ditebus dengan darah, bukan diberi gratis oleh Belanda,” kata Alimun Hakim, putra tokoh sentral BPRIK, Amin Effendy kepada jejakrekam.com, Kamis (9/11/2017).

Menurut Alimun Hakim, saat ini, semangat nasionalisme dan kepahlawanan makin memudar seiring dengan makin tergerusnya sejarah perjuangan bangsa ini. Untuk itu, Alimun yang juga Ketua Federasi  Serikat Guru Indonesia (FSGI) Kalimantan ini mengundang beberapa guru dan siswa di Banjarmasin untuk menghadiri peringatan peristiwa 9 November 1945, yang mendahului sehari Perang Surabaya yang dikenal dengan Hari Pahlawan tersebut.

Alimun pun berharap agar Tugu 9 November 1945 itu dilebarkan, bukan berada di tempat yang sempit dan terhimpit di tengah padatnya perkantoran di Jalan DI Panjaitan, Banjarmasin. Terlebih lagi, menurut dia, saat ini, Pemprov Kalsel berencana ingin membangun ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan eks Gubernuran Kalsel dengan model Tugu Pal 0 Banjarmasin.

Gayung bersambut, keinginan para veteran dan ahli waris pejuang 9 November 1945 diakuri Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina. Ia mengaku sudah memerintahkan agar Dinas Sosial Kota Banjarmasin segera berkoordinasi ingin menjadikan 9 November sebagai Hari Pahlawan di Kalsel, di samping 17 Mei yang menjadi Hari Proklamasi Kemerdekaan Kalimantan bergabung dengan NKRI.

Dalam peringatan haul ke-72, banyak tokoh veteran dan keluarga pejuang yang hadir. Mereka pun mendesak agar Tugu 9 November 1945 yang berada di tepi Jalan DI Panjaitan diperbesar, termasuk membuat taman, sehingga pada peringatan tahun berikutnya bisa menjadi pusat konsentrasi warga.

“Ini keinginan para veteran dan keluarga pejuang yang harus didengar pemerintah daerah. Jika perlu diusulkan ke pemerintah pusat,” ujar H Riyadi, pengurus Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Banjarmasin.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Antung Fatmawati pun menyetujui usulan itu. Ia berjanji akan menyuarakan agar Tugu 9 November 1945 di Jalan DI Panjaitan menjadi taman, bukan terhimpit perkantoran dan bagian pelengkap saja. “Sebagai generasi penerus, ini yang bisa kita berikan kepada para pejuang dan keluarga ahli waris para pejuang Kalimantan. Dengan tugu yang diperbesar, tentu masyarakat bisa mengetahui di sinilah dulu medan perjuangan para pahlawan Kalimantan,” tutur senator wanita Senayan Jakarta ini.

Menurut Antung Fatmawati, sebuah keharusan dan kewajiban bagi Pemprov Kalsel dan Pemkot Banjarmasin untuk mendengar aspirasi para veteran dan ahli waris keluarga pejuang, khususnya peristiwa heroik 9 November 1945 tersebut. “Kapan lagi kita ingin sejarah lokal ini bisa lestari, kalau kita tidak peduli dengan hal itu,” tandasnya.(jejakrekam)

 

 

Penulis Asyikin
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.