Husairi Abdi

Sungai Kuripan Berlumpur, PDAM Akui Akibat Rembesan Limbah Air

0

AIR Sungai Kuripan yang keruh dan berlumpur diduga akibat rembesan limbah pengolahan air leding milik PDAM Bandarmasih, menjadi atensi DPRD Kota Banjarmasin. Pada Rabu (5/4/2017), Komisi III DPRD Banjarmasin langsung mengecek instalasi pembuangan air limbah serta lumpur dari beberapa kolam penampung air milik perusahan plat merah itu.

KEPADA rombongan Komisi III DPRD Banjarmasin yang dipimpin H Faisal Heriyadi, Direktur Bidang Teknik dan PDAM Bandarmasih Yudha Ahmadi mengakui beberapa tahun yang lalu, endapan lumpur serta bahan lainnya memang sempat dibuang di Sungai Kuripan. Namun, usai dilengkapi Instalasi Fresh Water Treatment, endapan lumpur serta bahan kimia penjernih serta pemurnian air leding itu, kini telah berubah menjadi tanah. Jika pun ada limbah yang mengalir ke Sungai Kuripan, diakui akibat tingginya curah hujan sehingga merembes ke anak-anak sungai di pemukiman warga.

“Memang ada keluhan dari warga Kuripan yang masih memanfatkan sungai itu yang menduga adaya aktivitas pembuangan limbah PDAM Bandarmasih itu yang membuat sungai itu dangkal dan airnya keruh serta berbau,” ujar Ketua Komisi III DPRD Banjarmasin, H Faisal Heriyadi kepada jejakrekam.com, Rabu (5/4/2017).

Menurutnya, sejak 2015 lalu, sudah disiapkan instalasi khusus pengolahan limbah, sehingga endapan lumpur dan bahan kimia lainnya seperti kaporit, tawas dan lainnya tak lagi dibuang ke Sungai Kuripan. “Saat kami mengecek ke sana, memang tak ada lagi pembuangan limbah langsung ke sungai. Sekarang, lumpur yang sudah berupa tanah cukup padat sudah dibuang ke areal khusus di Jalan Pramuka,” kata legislator Partai Amanat Nasional (PAN).

Mengutip keterangan dari Direktur Teknik PDAM Bandarmasih, Faisal mengungkapkan kapasitas pengolahan air yang ada itu mencapai 550 liter per detik, sehingga menghasilkan limbah berupa lumpur mencapai 9 hingga 12 kubik sehari. “Sekarang PDAM Bandarmasih memang masih menerapkan teknologi yang lama, sehingga limbah dari pengolahan air itu masih berupa tanah yang berair. Sedangkan, di Jakarta, telah menerapkan teknologi terbaru yang membuat endapan lumpur menjadi tanah padat, sehingga bisa dimanfaatkan untuk tanah pertanian,” ucap Sekretaris DPW PAN Kalsel ini.

Menurut Faisal, pihak PDAM Bandarmasih mengakui jika curah hujan tinggi, endapan lumpur bisa meluber ke sungai. “Dengan kapasitas produksi mencapai 550 liter, limbah berupa tanah berair itu diangkut dengan truk tangki untuk diendapkan menjadi tanah ke Jalan Pramuka. Nah, kalau nanti diterapkan teknologi terbaru, endapan lumpur itu nantinya bisa diolah tanah,” katanya.

Ia menegaskan DPRD mendorong agar Pemkot Banjarmasin selaku regulator dan PDAM Bandarmasih sebagai operatornya untuk terus meningkatkan pelayanan, serta menekan adanya limbah dari pengolahan air menjadi keluhan masyarakat.(jejakrekam)

Penulis   : Didi G Sanusi

Foto       : Dokumen Faisal Heriyadi

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.