Husairi Abdi

Membumikan Tradisi Dongeng Demi Membentuk Karakter Kebangsaan

0

KARAKTER kebangsaan yang diyakini menjadi perilaku ideal ini ingin dihidupkan lewat dongeng. Dengan begitu, metode pembelajaran ini diharapkan bisa membangun generasi yang berkarakter kebangsaan hingga bisa menjaga harmonisasi di antara perbedaan.

BELAJAR dari karakter orang-orang Barat yang pintar berbicara, karena sejak dini sudah dikenalkan dengan budaya dongeng bisa memacu bagi anak-anak untuk lebih rajin belajar dan membaca.

“Mengapa orang-orang barat itu pintar berbicara? Padahal, dengan pintar berbicara itu kesuksesan bisa diraih. Bahkan, karakter kebangsaan orang-orang barat sangat-sangat tinggi. Ya, karena orang-orang di sana terbiasa dengan dongeng. Jadi dongeng itu bisa menciptakan karakter kebangsaan dan juga membuat orang pintar berkomunikasi,’’ beber sang pendongeng, Bambang Bimo Suryono yang akrab disapa Kak Bimo, saat menjadi narasumber dalam acara Workshop Kalsel Berdongeng di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalsel di Banjarmasin, Senin (13/3/2017).

Hal senada juga dilontarkan Ketua Asosiasi Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI), Ari Prabowo. Pendongeng yang berdarah Banjar ini mengatakan di luar negeri itu sangat membumi tradisi dongeng atau bercerita tersebut. “Tradisi leluhur kita dulu sangat membumikan dan membudayakan bercerita atau dongeng. Negara nenek moyang kita kaya cerita luhur, kita tengok sekarang sudah menurun sekali kegiatan mendongeng, padahal dari literatur peran dongeng sangat penting untuk membangun karakter anak,’’ ujar pendongeng nasional ini.

Menurut Ari Prabowo, ada banyak peranan dongeng dalam membentuk karakter tersebut. Di antaranya adalah dengan cerita maka anak-anak akan berkembang sangat maju. Baik itu imajinasinya maupun kretifitas, sosial dan semua aspek akan tumbuh berkembang dengan stimulan dongeng.

“Di luar negeri itu yang berkaitan dengan storytelling atau cerita sangat diutamakan sekali. Di bangsa kita saja yang belum, mudah-mudahan dengan keberadaan kami bisa membumikan lagi dongeng yang merupakan budaya leluhur kita,’’ ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Dispersip Kalsel, Sofrina menambahkan, storytelling adalah awal cikal bakal membentuk karakter anak agar menjadi cerdas, baik, soleh dan solehah. Sebab, beber dia, dengan kebiasan mendengarkan dongeng yang dibacakan oleh orang lain maka secara tidak langsung akan memicu kemauan sang anak untuk mencari buku, karena didorong keingintahuannya.

“Dongeng biasa ditulis dengan buku, dengan begitu kalau dia sudah besar lama-lama ingin membaca. Dengan begitu minat baca meningkat itu kaitannya meningkatkan minat baca, membentuk karakter dan dongeng,’’ ujarnya.

Sofrina mengungkapkan di Kalsel saat ini masih ada kegiatan dongeng. Hanya saja, menurut dia, masih dalam taraf kecil. Ia mencontohkan, di Banjarbaru sudah ada yang namanya kampung dongeng yang menjadi bukti masih ada tradisi bertutur bernilai pendidikan di Kalsel.

“Namun, hal itu perlu kita perluas lagi. Makanya, hari Minggu kita laksanakan Kalsel Berdongeng, dan hari ini adalah kelanjutannya, Workshop Berdongeng dengan narasumber yang sama yaitu Kak Bimo dan Kak Ari,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis : Wan Marley

Editor   : Didi GS

Foto     : Wan Marley

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.