Adat Budaya Banjar Lebih Mencair Mengikuti Perkembangan Zaman

0

WARNA kuning dalam khazanah kultur Banjar melambangkan simbol sakral dan sangat dominan pernak-pernik kebudayaannya. Namun, seiring perkembangan zaman serta lemahnya dominasi budaya keraton Banjar, akhirnya identitas itu dengan sendirinya tumbuh berkembang dengan kreasi para penerusnya.

BUSANA adat perkawinan Banjar sangat identik dengan warna kuning keemasan sebagai simbol sakral dan kemegahan. Begitu zaman terus bergerak, kini busana adat perkawinan tak lagi didominasi satu warna, kini ada warna merah, biru, hijau dan lainnya disuguhkan di majelis walimah.

“Bagaimana pun, warna kuning ini sangat identik dengan warisan budaya dari kerajaan bercorak Hindu di Tanah Banjar, dimulai dari Kerajaan Negara Dipa dan Negara Daha, hingga diteruskan di era Kesultanan Banjar di bawah pengaruh Sultan Suriansyah. Semua itu, tak lepas dari aturan yang telah dibuat Pangeran Suryanata sebagai pengasas budaya Banjar,” ujar Rahman, salah seorang pengamat budaya di Banjarmasin, Senin (6/3/2017).

Menurut Rahman, warga kuning merupakan warna keramat bagi orang Banjar, dan tak diketahui kapan dimulai pemakaian simbol itu dalam busana adat Banjar. Ia juga mengatakan warisan budaya Negara Daha atau Kesultanan Banjar yang masih lestari hingga kini seperti bamandi-mandi 7 bulanan, ba’ayun anak di bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, hingga budaya lainnya justru identik dengan warna kejayaan itu.

Sedangkan, budayawan Kalimantan Selatan, YS Agus Suseno justru mengatakan warna kuning memang warna yang sangat disakralkan dalam budaya Banjar. “Namun, seiring zaman, kini warna kuning terkhusus dalam busana pengantin Banjar tak lagi dominan. Sekarang, pengaruh model atau modifikasi justru lebih mengemuka. Jadi, jangan heran, kalau busana pengantin bukan lagi kuning, tapi ada putih, merah, biru, dan warna lainnya,”  tutur Agus Suseno.

Mengapa hal itu terjadi? Menurut penyair Banjar ini, kultur budaya di Tanah Banjar itu lebih mencair jika dibandingkan budaya-budaya yang masih terikat kuat atau di bawah pengaruh keraton seperti Yogyakarta, atau adat Minang di Sumatera Barat. “Jadi, budaya Banjar sekarang justru mengikuti perkembangan zaman, hingga terjadi penyesuaian. Tak lagi, bicara pakem-pakem budaya yang harus diikuti,” ucap Agus Suseno.

Ia mengakui pro dan kontra atau tanggapan positif dan negatif pasti akan mengemuka di tengah dinamisasi budaya Banjar yang terus bergerak mengikuti zamannya. “Contohnya, dalam tarian sakral Banjar seperti tari baksa kembang atau radap rahayu itu sebetulnya ada pakem-pakem yang harus dimainkan para penari. Tapi sekarang, kekhasan dari tarian itu justru seperti tak menjadi sakral lagi. Akhirnya, tarian itu seperti bukan lagi tarian khas Banjar,” tuturnya. Namun, Agus Suseno mengatakan hal semacam itu kini bukan lagi menjadi persoalan serius.  “Terpenting adalah bagaimana kita menjaga warisan leluhur itu dengan tetap menunjukkan identitas kebudayaan Banjar yang luhur,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis  : Sira Awdi

Editor    : Didi GS

Foto      : Sira Awdi

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.