Husairi Abdi

Air Berubah Kekuningan, Sungai Balangan Tercemar Limbah Tambang?

0

WARGA yang bermukim di sepanjang Sungai Balangan terkejut. Mereka enggan mengkonsumsi atau mengunakan air yang mendadak berubah dari keruh kekuningan menjadi susu kecoklatan, pada Kamis (16/2/2017). Padahal, Sungai Balangan yang terkoneksi dengan perairan Sungai Barito dan Sungai Negara itu dipakai warga Kecamatan Juai dan Paringin untuk keperluan sehari-hari.

UNTUK membuktikan apakah ada partikel kimia berbahaya atau hanya perubahan alamiah di Sungai Balangan, Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BLHK) Kabupaten Balangan langsung bertindak. Mereka mengambil sampel air di beebrapa titik untuk diuji di laboratorium.

“Dari hasil pengecekan sementara, tingkat keasaman (PH) dari sampel yang ada, masih dalam batas normal. Sedangkan, untuk kandungan lainnya masih menunggu hasil uji laboratorium,” ucap Kepala BLHK Kabupaten Balangan, Karim Suadi di Paringin, Jumat (17/2/2017).

Sedangkan, warga yang bermukim di sepanjang Sungai Balangan justru berasumsi perubahan air sungai itu terjadi ejak dini hari. Sebab, pada malam hari hingga tengah malam pada Kamis (16/2/2017) belum terjadi perubahan yang signifikan. “Kami menduga adanya kemungkinan ada partikel atau bahan tambang yang terbawa di Sungai Balangan. Makanya, warnanya kekuning-kuningan, padahal kalau diguyur hujan air sungai tetap berwarna keruh kecoklatan,” ujar warga Buntu Kurau, Kecamatan Juai, Ryan.

Belajar dari pengalaman 2015 lalu, Ryan dan warga Kecamatan Juai lainnya justru menduga air Sungai Balangan itu sudah tercemar, akibat adanya pengolahan air limbah tambang yang bocor dan masuk ke sungai.

“Jika air keruh ini diakibatkan limbah tambang, jelas ini membuktikan perusahaan tambang yang ada di hulu Sungai Balangan ceroboh. Sepatutnya, hal semacam tak boleh terjadi,” cetus Wakil Ketua Komisi II DPRD Balangan, Muhammad Noor Iswan.

Legislator PKS ini mendesak agar pemerintah daerah bertindak tegas, jika nantinya dalam uji sampel laboratorim terbukti mengandung partikel berbahaya dari limbah tambang. “Penyelidikan harus dilakukan mendalam. Nah, jika terbukti insiden ini akibat limbah tambang, maka perusahaan itu harus disanksi, bahkan ditutup,” tandas Iswan.(jejakrekam)

Penulis : Sugianoor

Editor   : Didi GS

Foto     : Sugianoor

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.